Ajudan Gubernur Maluku Minta Maaf Usai Sebut Mahasiswa 'Monyet'

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ajudan Gubernur Maluku, Rohim Imo. Foto: Dok. kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ajudan Gubernur Maluku, Rohim Imo. Foto: Dok. kumparan

Ajudan Gubernur Maluku, Rohim Imo, viral setelah bersitegang dengan seorang mahasiswa saat pelaksanaan Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8).

Dalam video yang beredar, saat itu salah satu mahasiswa hendak memberikan sesuatu kepada Gubernur Maluku, namun dihadang ajudan. Keduanya kemudian bersitegang hingga terucap kata makian 'monyet'.

Setelah video tersebut beredar luas, Rohim Imo menemui mahasiswa tersebut. Ia memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf atas ucapannya.

Menurut Rohim, peristiwa bermula ketika Gubernur Maluku hendak turun dari tribun setelah rangkaian upacara selesai. Saat itu, kawasan sekitar tribun dipadati tamu undangan, masyarakat, dan wartawan.

Sejumlah ajudan kemudian berupaya membuka jalur untuk memastikan gubernur dapat keluar dari area tersebut dengan aman.

Situasi berubah ketika sejumlah orang bergerak mendekati gubernur. Rohim menyebut beberapa orang membawa selebaran atau karton manila serta sebuah benda yang menyerupai bambu.

Dari sudut pandang petugas pengamanan, benda tersebut perlu diperiksa karena saat itu identitas maupun tujuan penggunaannya belum diketahui.

“Di saat wawancara tersebut, beta (saya) melihat sekitar beberapa orang mendekat cepat ke arah Gubernur. Salah satu dari mereka membawa benda menyerupai bambu dan ada pula yang membawa sejenis spanduk, karton manila,” ujar Rohim, Selasa (18/8).

Rohim mengatakan petugas kemudian meminta kelompok tersebut menunjukkan benda yang dibawa sekaligus menanyakan asal dan keperluannya.

Menurut dia, informasi yang diterima kemudian menyebut benda menyerupai bambu tersebut berkaitan dengan surat dari Tua Adat Negeri Manusela.

Namun, kata Rohim, petugas tidak mengetahui isi benda tersebut ketika kejadian berlangsung.

“Bapak turun dari tribun itu orang banyak. Katong (kami) pisah-pisahkan, ada wartawan wawancara, dong (mereka) tiba muncul dengan bawa beberapa selebaran yang dalam karton manila bertulisan apa sambil bawa bambu. Katong curiga bambu itu apa isi dalam bambu itu, katong minta, dia seng (tidak) mau,” jelasnya.

Rohim menegaskan pengamanan yang dilakukan bukan dimaksudkan untuk melarang masyarakat menyampaikan aspirasi kepada gubernur.

Ia menyebut kelompok tersebut telah diarahkan untuk menyampaikan aspirasi melalui pertemuan di kantor gubernur, bukan di area tribun ketika kegiatan kenegaraan baru saja selesai dan konsentrasi massa masih tinggi.

“Bukan katong (kami) mau larang dong (mereka) mau ketemu. Beta sudah fasilitasi untuk ketemu di kantor, yang bersikeras ketemu di situ, lokasi tribun. Dia seng (tidak) mau ketemu di kantor,” kata Rohim.

Akui Ucapan “Monyet”

Dalam klarifikasinya, Rohim mengakui ucapan “monyet” yang terdengar dalam video memang keluar dari dirinya.

Ia meminta maaf atas ucapan tersebut.

Namun, Rohim membantah jika ucapan itu ditujukan kepada masyarakat adat, masyarakat Seram Utara, ataupun komunitas tertentu.

Ia mengatakan kata tersebut terlontar secara spontan dalam situasi pengamanan yang menurutnya berlangsung tegang.

“Beta (saya) mengaku dan minta maaf atas ucapan monyet itu. Beta lontarkan ke individu karena spontanitas, sebab kami sudah sampaikan ke yang bersangkutan tapi tidak diindahkan,” ujar Rohim.

Rohim juga menegaskan tidak memiliki niat merendahkan harkat dan martabat masyarakat adat maupun kelompok tertentu.

“Tidak ada sama sekali niat dan maksud beta secara pribadi untuk merendahkan harkat dan martabat manusia. Itu spontanitas berdasarkan kondisi tadi. Tolong jangan digoreng seolah beta merendahkan dia atau komunitas adat tertentu,” tegasnya.