Akhir Hidup Ali Abdullah Saleh, Pemimpin Yaman yang Enggan Lengser

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ali Abdullah Saleh (Foto: AFP/Mohammmed Huwais)
zoom-in-whitePerbesar
Ali Abdullah Saleh (Foto: AFP/Mohammmed Huwais)

Ali Abdullah Saleh dari Yaman adalah salah satu pemimpin dunia yang enggan lengser, kendati beberapa kali didongkel dari kursi presiden. Ambisinya berkuasa diwarnai konflik dan intrik, berakhir dengan peluru yang menembus tubuhnya, mencabut nyawanya.

Saleh terbunuh ketika iring-iringannya diberondong peluru oleh pemberontak Houthi pada Senin (4/12). Dia tewas selang dua hari setelah mengumumkan "perceraian" dengan Houthi dan berjanji membuka dialog dengan koalisi Arab Saudi untuk menghentikan konflik berdarah di Yaman.

Pria 75 tahun ini telah memecah belah Yaman menjadi dua dalam konflik kali ini -- kubu Saleh yang dibantu pemberontak Houthi dengan sokongan Iran dan kubu Abd-Rabbu Mansour Hadi yang didukung serangan udara koalisi Arab Saudi.

Memimpin Yaman sejak 1978, Saleh berhasil selamat dari berbagai percobaan pembunuhan, salah satu yang terparah adalah saat pecah Arab Spring pada 2011. Dikutip dari The Guardian, Saleh mengatakan, upayanya bertahan hidup seperti "berdansa di kepala ular".

Saleh diangkat presiden pada Juli 1978 setelah tiga presiden dalam waktu empat tahun sebelumnya menemui nasib malang. Dua dari presiden tersebut tewas dibunuh, yang ketiga kabur padahal baru sebulan memimpin.

Ali Abdullah Saleh (Foto: Reuters/Khaled Abdullah)
zoom-in-whitePerbesar
Ali Abdullah Saleh (Foto: Reuters/Khaled Abdullah)

Lahir di desa Beit al-Ahmar dekat ibu kota Sana'a, Saleh yang berpendidikan rendah berhasil memuncaki karier politik dari kemiliteran. Di bawah kepemimpinannya, Saleh berhasil menyatukan Yaman yang terpecah dua - antara Republik Arab Yaman pimpinan Saleh dengan Republik Demokrasi Rakyat Yaman pimpinan pemerintahan Marxis.

Di saat yang sama, Yaman mulai merengkuh demokrasi terbuka. Koran-koran dan majalah bermunculan, dan sekitar 20 partai ikut bertarung dalam pemilu parlemen 1993, yang pertama di semenanjung Arab. Sejak saat itu, partai Saleh terus memenangkan pemilu.

Tahun 2005, dia memutuskan mundur karena merasa "rakyat sudah bosan". Tapi partainya ingin dia tetap memimpin, Saleh akhirnya mengurungkan niatnya.

Seandainya dia mundur saat itu, barangkali nasib Saleh akan lain. Dia akan dikenang sebagai bapak pemersatu bangsa, pembawa demokrasi sistem multipartai, dan segudang prestasi lainnya, seperti menyelesaikan sengketa perbatasan dengan Arab Saudi dan Oman.

Tapi tidak, Saleh lengket di kursi presiden. Power tends to corrupt, itulah yang terjadi. Pemerintahan Saleh dianggap korup dan diktator. Keputusannya dianggap banyak yang kontroversial. Negaranya juga dilabeli sebagai sarang al-Qaidah dan militan bersenjata lainnya.

Menurut seorang mantan perdana menteri Yaman kepada The Guardian, Saleh adalah pecantu qat, daun narkotika yang dikunyah, menyebabkan dia sering lemas. Dia juga kerap menenggak whisky di malam hari agar bisa tidur.

Ali Abdullah Saleh (Foto: AFP/Mohammmed Huwais)
zoom-in-whitePerbesar
Ali Abdullah Saleh (Foto: AFP/Mohammmed Huwais)

Di saat mabuk itulah ide-ide buruknya soal pemerintahan keluar. Mantan PM itu mengaku harus mencabut teleponnya di malam hari agar tidak mendengarkan racauan Saleh.

CNN melansir, panel ahli PBB pada 2015 melaporkan Saleh mengumpulkan kekayaan mencapai 30 hingga 62 miliar dolar AS. Asetnya termasuk emas, properti, dan komoditas yang tersebar di 20 negara dengan nama yang berbeda-beda.

Lalu Arab Spring terjadi. Revolusi di Timur Tengah yang dimulai dari Tunisia ini mampir juga ke Yaman. Ribuan orang turun ke jalan, menuntut Saleh mundur. Sedikitnya 50 orang tewas ditembaki oleh sniper di jalanan Sanaa pada Maret 2011, kemarahan massa semakin menjadi.

Pada Juni 2011, istana kepresidenan diserang massa. Saleh terluka bakar hebat dan dilarikan ke Arab Saudi untuk perawatan. Bukannya kapok, Saleh bersumpah akan pulang untuk memimpin negara itu lagi.

Sekutu internasional Saleh, termasuk AS dan Arab Saudi mendesak dia untuk turun. Bahkan negara Teluk menjanjikan tempat tinggal yang layak di negara mereka, termasuk kekebalan hukum jika Saleh sudi mundur. Pada Februari 2012, dia akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya Abd-Rabbu Mansour Hadi, tapi menolak keluar Yaman.

Ali Abdullah Saleh (Foto: Reuters/Yemen TV/File Photo)
zoom-in-whitePerbesar
Ali Abdullah Saleh (Foto: Reuters/Yemen TV/File Photo)

Ternyata Saleh tidak betah jadi warga biasa. Bersekutu dengan pemberontak Syiah Houthi yang memang telah merongrong keamanan negara itu sejak lama, Saleh dan para pendukungnya menyerang ibu kota untuk merebut kekuasaan dari Hadi.

Pada 2014, Hadi melarikan diri ke Arab Saudi. Langkah Saleh ini memicu gempuran balik dari koalisi Arab pimpinan Saudi ke Yaman. Hampir tiga tahun konflik di Yaman, 5.000 orang telah tewas, kebanyakan warga sipil. Kelaparan mendera, anak-anak menderita malnutrisi.

Saleh memang dapat dukungan Houthi dan Iran, tapi mayoritas masyarakat internasional menentangnya. Hadi adalah presiden Yaman yang diakui PBB, sedangkan Saleh dianggap hanya pemberontak.

Ketika Saleh akhirnya "insyaf" dan menyatakan akan mundur akhir pekan lalu, Houthi sudah semakin kuat dan berpengaruh. Keputusan Saleh dianggap sebuah kudeta, dia diserang.

Kediamannya di Sanaa dibom. Ketika Saleh hendak kabur ke kampung halamannya, rombongannya ditembaki. Foto-foto mayat Saleh dengan luka tembak tersebar di Yaman, jadi babak penutup kehidupannya yang penuh konflik.

Ali Abdullah Saleh (Foto: Taiz News via Social Media via Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Ali Abdullah Saleh (Foto: Taiz News via Social Media via Reuters)