Akhir Tragis Pria Pencuri Ayam di Bali

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengeroyokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengeroyokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Seorang pria berinisial IKD yang diduga mencuri ayam di Kabupaten Tabanan, Bali, tewas dihajar massa yang emosi. Peristiwa itu terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat (24/7) dini hari.

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Ariasandy mengatakan, sesaat setelah kejadian, Polres Tabanan langsung mendatangi tempat kejadian perkara. Polisi juga sedang mengumpulkan barang bukti dan memeriksa saksi.

"Penyidik juga telah memeriksa sejumlah saksi yang berada di lokasi kejadian dan proses pemeriksaan masih terus berlangsung untuk mengidentifikasi seluruh pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut," kata Ariasandy, Minggu (26/7).

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, penyidik memperoleh rekaman CCTV yang memperlihatkan adanya beberapa orang dengan ciri-ciri yang diduga sesuai dengan pelaku penganiayaan.

"Rekaman tersebut saat ini menjadi salah satu alat bukti penting yang sedang dianalisis dan didalami untuk memastikan identitas serta peran masing-masing pihak yang terlibat," imbuh dia.

Diduga Dipicu Pencurian Ayam Aduan

Sepeda motor milik terduga pelaku pencurian ayam yang tewas dikeroyok massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Jumat (24/7/2026). Foto: Polres Tabanan

Aksi massa yang terjadi pada pukul 01.30 WITA ini diduga dipicu oleh aksi pencurian seekor ayam aduan.

Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Tabanan, Iptu Ni Luh Putu Wiwik Endrayani, menjelaskan bahwa IKD diduga tertangkap tangan saat mencuri seekor ayam milik seorang warga berinisial IWAS (31).

"Aksi pencurian tersebut diketahui warga dan memicu kemarahan spontan dari masyarakat setempat, mengingat di wilayah tersebut sudah sering terjadi kasus kehilangan ayam sebelumnya, sehingga warga merasa resah dan geram," ujar Wiwik dalam keterangannya, Minggu (26/7).

instagram embed

Wiwik menuturkan, warga yang tersulut emosi kemudian mengeroyok IKD hingga meninggal dunia di tempat kejadian. Massa juga membakar sepeda motor yang diduga digunakan oleh terduga pelaku saat menjalankan aksinya.

Petugas dari Polsek Baturiti tiba di lokasi sekitar pukul 02.00 WITA, tetapi pelaku sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Polisi kemudian mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan dugaan pencurian tersebut, antara lain seekor ayam milik korban, sebilah golok, serta sebuah tas yang diduga milik pelaku berisikan tang, katapel, batu, dan beberapa uang tunai.

"Jenazah terduga pelaku dievakuasi ke Rumah Sakit Semara Ratih untuk dilakukan penanganan. Kami juga menghubungi Tim Inafis Satreskrim Polres Tabanan untuk melakukan olah TKP dan identifikasi sidik jari terduga pelaku," kata Wiwik.

Tangis Pilu Anak

"Bapak, bapak." Kata itu terdengar nyaring dari sosok mungil di tengah kerumunan. Teriakan dan tangis bocah itu, yang kehilangan orang tua yang tewas diamuk massa karena diduga mencuri ayam, begitu pilu.

Dalam video yang beredar, putri bungsu dari IKD yang merupakan korban main hakim sendiri itu, nangis sesenggukan. Dia tampak tak kuasa menahan air mata saat melihat jenazah sang ayah.

Momen tersebut terekam saat jenazah dibawa untuk dimakamkan di rumah duka yang berada di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.

Bocah SD itu tampak berada di antara kerumunan orang sambil memanggil-manggil ayahnya yang tidak lagi bernyawa.

Kejadian tersebut memicu reaksi berbagai pihak, termasuk Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, yang meminta masyarakat Kabupaten Tabanan untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan tindak pidana melalui jalur hukum, bukan tindak kekerasan.

"Sebagai Bupati Tabanan, sekaligus sebagai bagian dari masyarakat Tabanan, saya turut prihatin dan berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas musibah ini," ujar Sanjaya.

Bahkan, Komnas HAM pun turun angkat bicara. Koordinator Kementerian HAM Wilayah Kerja Bali, Anak Agung Gede Ngurah Dalem, mengecam keras adanya aksi main hakim sendiri yang menyebabkan IKD meninggal dunia.

Hal tersebut menimbulkan trauma mendalam bagi keluarga korban, terutama anak korban yang menyaksikan jenazah korban dari dekat.

"Kami berharap agar anak dan keluarga korban mendapatkan pendampingan dan perlindungan yang layak, baik dari aspek psikologis maupun pemenuhan hak-haknya, sehingga mereka mendapatkan perhatian dan perlindungan secara optimal dari negara," tutur Dalem.

Dari peristiwa tersebut, Kementerian HAM Wilayah Kerja Bali akan melakukan pemantauan lapangan dan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memastikan proses penanganan perkara sesuai dengan prinsip hak asasi manusia.

PDIP Akan Beri Bantuan

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat acara teatrikal peristiwa Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti kasus ini. Hasto mengatakan PDIP akan memberikan bantuan terkait kasus tersebut. Ia menegaskan tidak boleh ada ketidakadilan dalam penanganannya.

"Yang di Bali kami akan segera tindak lanjuti untuk memberikan bantuan kepada korban," ujar Hasto di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/7).

Hasto menegaskan Indonesia dibangun untuk melindungi seluruh rakyat tanpa terkecuali.

"Semua melupakan bahwa Indonesia ini dibangun untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia," katanya.

Menurut Hasto, tidak boleh ada perlakuan tidak adil terhadap masyarakat, terlebih warga yang tengah menghadapi tekanan ekonomi.

"Tidak boleh ada suatu ketidakadilan, apalagi ditunjukkan secara ekstrem kepada rakyat yang mungkin menghadapi kesulitan kehidupan ekonomi akibat tantangan yang tidak ringan saat ini. Dan ini sangat kontras dengan proses penegakan hukum yang terjadi," jelas Hasto.