Akhirnya Bisa Melihat Jelas: Kisah Warga Jakarta Ikuti Operasi Katarak Gratis
·waktu baca 3 menit

Di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur, suasana tampak ramai. Di tengah lorong, beberapa lansia duduk berjejer dengan sebelah mata yang ditutup perban.
Mereka datang dari berbagai wilayah di Jakarta, mengikuti program bakti kesehatan Pemprov DKI yang digelar dalam rangka Peringatan Hari Ibu 2025. Dalam kegiatan tersebut, ada operasi katarak, pembagian kacamata, hingga cek kesehatan, dan semuanya gratis.
Bagi banyak warga yang kesulitan biaya, program ini menjadi salah satu jalan untuk kembali melihat dunia dengan jelas.
Oman (48) datang bersama istrinya, Desi (35). Mereka berangkat dalam rombongan dari Puskesmas Pademangan, menumpang mobil yang disediakan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
“Daftar dulu ke Puskesmas, ntar rujukan kita ke RS Duren Sawit. Diperiksa darah, gula. Karena kita yang lewat seleksi, kita besoknya dipanggil lagi untuk operasi,” kata Oman saat ditemui di lokasi, Rabu (10/12).
Desi menambahkan, prosesnya jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
“Dari saya tahunya pas daftar udah tanggal 3 Desember. Terus hari Senin kontrol ke Puskesmas. Pokoknya nggak ada dua minggu, semingguan cuma. Cepat kok pelayanannya,” jelasnya.
Oman sudah empat tahun hidup dengan katarak. Ia sebenarnya sempat ingin memeriksakan diri, namun biaya operasi membuat niat itu tertunda berkali-kali.
“Sempat, cuma dananya karena nggak punya kita ya. Alhamdulillah sih ada dari Dinas Kesehatan ini ya. Membantu banget buat orang-orang kayak kita ini kan,” ucap Oman.
“Kalau saya suka lihat di Facebook sih harganya hampir 9 juta, ada yang 15 juta,” lanjutnya.
Baginya, angka itu mustahil dijangkau.
“Keberatan makanya. Ada dari Dinas Kesehatan kesehatan, ada program kesehatan gitu, kalau kayak orang-orang kita kan kebantu gitu, yang dananya kurang,” tutur Oman.
Tak hanya operasi gratis, mereka juga mendapatkan bingkisan yang berisikan sembako. Oman menatap kantong berisi sembako yang baru ia terima itu.
“Sebenarnya sih kita juga dioperasi juga udah kebantu gitu ya, ya Alhamdulillah ini dapat lagi juga,” ungkapnya.
Di sebelah Oman, ada Dodo, warga Pademangan Barat, yang juga duduk ditemani istrinya, Risa. Perban putih menutupi salah satu matanya sebagai tanda operasi baru selesai dilakukan.
Keduanya masih mengingat jelas kecelakaan kecil yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Cuma udah lihat udah kabur, sampai jatuh kemarin. Jatuh dari motor sampai setengah bulan. Karena lihatnya kabur gitu pandangannya,” cerita Risa.
“Kepeleset, jatuh, jadi karena itu. Belum lama, ini masih itu tuh luka itunya, sisa-sisa lukanya masih ada nih,” lanjutnya.
Risa menyebut, informasi mengenai program operasi katarak gratis ini datang dari Puskesmas.
“Infonya dari dokter Puskesmas semua, di-share terus kita daftar link. Terus sama dokter Puskesmas ya dibantu, pokoknya didaftar-daftarin langsung. Alhamdulillah semuanya ada, fasilitas transport segala, jadi kita diantar,” kata Risa.
Setelah operasi, Dodo mengaku belum merasakan apa-apa selain pegal.
“Ya belum bisa inilah, karena kan masih pegel doang,” ujar Dodo.
“Besok kontrol, nggak boleh nunduk, nggak boleh angkat berat, nggak boleh ngeden, nggak boleh. Nggak boleh kena air, satu minggu,” jelas Risa.
Kini mereka hanya berharap satu: penglihatan kembali normal.
“Itu yang kita harapin. Biar bisa normal kembali. Ya susah juga kalau mata itu mah, waduh alat penglihatan. Kita nggak bisa ngelihat repot,” ujar Dodo.
Bagi Oman, Dodo, dan peserta lainnya, bakti kesehatan ini bukan sekadar kegiatan pemerintah. Ini adalah kesempatan untuk memulai kembali hidup tanpa kabut yang selama ini menutupi pandangan.
