Akibat Corona, Tradisi Dhandhangan Sejak Zaman Sunan Kudus Ditiadakan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah peserta mengikuti Kirab Dandangan di Kudus, Jawa Tengah. Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah peserta mengikuti Kirab Dandangan di Kudus, Jawa Tengah. Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Jelang bulan Ramadhan, warga Kabupaten Kudus biasanya menyambutnya dengan tradisi Dhandhangan. Namun, akibat virus corona tradisi ini oleh Pemkab setempat terpaksa ditiadakan.

Tradisi Dhandhangan sendiri menilik sejarahnya adalah festival penyambut Ramadhan yang digelar sejak era Sunan Kudus.

Kenapa digelar menjelang ramadhan? Karena acara ini memang tradisi yang dilakukan warga Kudus untuk menyambut Ramadhan.

Dalam tradisi ini kini diikuti ratusan pedagang dan melibatkan warga. Tradisi digelar di sekitar Menara Kudus dan biasanya ada arak-arakan di Simpang Tujuh Kudus.

Plt Bupati Kudus, Hartopo, melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kholid, mengatakan keputusan ini sudah ditetapkan sejak awal Maret. Hal tersebut sebagai upaya Pemkab Kudus mengantisipasi penyebaran COVID-19.

"Kami Pemkab Kudus, sudah menyepakati untuk meniadakan kegiatan yang melibatkan orang banyak dan menimbulkan keramaian massa. Ini untuk pencegahan COVID-19," ujar Kholid kepada kumparan, Senin (20/4).

Penampilan sejumlah peserta dalam visualisasi Dandangan di Alun-alun Kudus, Jawa Tengah, untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Minggu (5/5). Foto: Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif

Dinas Perdagangan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, sebagai leading sektor penyelenggaraan tradisi Dhandhangan juga disebut telah menyebarkan sosialisasi peniadaan tradisi itu.

"Disparbud dan Dinas Perdagangan sebagai leading sektor juga sudah memberitahu jauh-jauh hari. Jadi keputusan peniadaan tidak sekonyong-konyong ada tetapi sudah jauh-jauh hari kita sampaikan ke seluruh pihak terlibat," kata Kholid.

Kholid menjelaskan, Tradisi Dhandhangan merupakan gelaran menyambut Ramadhan sudah ada di masa Sunan Kudus sekitar tahun 1459 H atau 1454 M. Dimulai pertama di Menara Kudus, dengan pemukulan bedug yang bunyinya jadi penyebutan tradisi yakni 'Dang..Dang..Dang" menjadi Dhandhangan.

"Ini kan tradisi, zaman dulu digunakan masyarakat berkumpul di Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman bahwa besok sudah mulai puasa. Nah semakin ke sini, perayaan ada arak-arakan yang terpusatnya di Simpang Tujuh,"katanya.

Sementara itu, perkembangan kasus COVID-19 di Kudus hingga pukul 15.00 WIB tadi belum ada penambahan yang signifikan. Jumlah kasusnya terdapat 23 OTG, 158 ODP masih dipantau, dan 89 PDP dengan rincian sebanyak 62 PDP berasal dari dalam wilayah dan sebanyak 27 PDP berasal dari luar wilayah.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Kudus dr. Andini Aridewi, mengatakan Untuk kasus Positif COVID-19 tidak ada penambahan kasus.

"Hanya saja, masih terdapat 6 pasien dari dalam wilayah dan 4 pasien dari luar wilayah. Dari 6 pasien dalam wilayah, 3 dinyatakan Positif dan sedang dirawat, 1 sembuh, dan 2 meninggal. Sementara untuk 4 pasien luar wilayah, 2 dinyatakan Positif dan sedang dirawat, 2 sembuh, dan tidak ada yang meninggal. Total di Kudus terdapat 10 Pasien Positif COVID-19," katanya dalam keterangan persnya.

*********

Simak panduan lengkap dalam menghadapi pandemi corona dalam Pusat Informasi Corona. Sebuah inisiatif yang dirancang kumparan untuk membantu masyarakat Indonesia.

*********

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!