AKSARA: Rekomendasi #UserStory Edisi 2017

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
3 user story pilihan pekan ini! (Foto: Bagus Permadi)
zoom-in-whitePerbesar
3 user story pilihan pekan ini! (Foto: Bagus Permadi)

Halo, pembaca kumparan! Selamat tahun baru. Semoga libur akhir tahun sukses mengisi kembali semangatmu ya! Untuk menemanimu mengisi hari libur ini, aksara telah menyiapkan #UserStory pilihan sepanjang 2017 kemarin. Topiknya ada bermacam-macam, tapi kalau kamu update sama berita, pasti kamu akan ingat deh situasi di balik tulisan-tulisan di bawah ini.

1. Mendengarkan Penggerutu di Awal Tahun (AS Laksana)

Tahun baru harusnya dibuka oleh semangat baru. Namun, dalam tulisan ini, AS Laksana bertemu dengan seorang penggerutu yang mengeluh tanpa henti. "Untuk beberapa hal saya sepakat terhadap pendapatnya, tetapi tidak semua. Saya tidak ingin menanam pikiran segelap itu terhadap negeri kepulauan ini dan orang-orang yang tinggal di dalamnya," tulisnya.

embed from external kumparan

2. Nasib adalah Permainan Kekuasaan (Aan Mansyur)

Aan Mansyur menelaah Wiji Thukul. Dipantik oleh film Istirahatlah Kata-kata karya Yosep Anggi Noen, ia meresapi lagi karya dari penyair yang hilang pada 1998 silam tersebut. Dalam sajak Wiji Thukul, Aan Mansyur melihat ada 'penantian' dan 'perlawanan'.

embed from external kumparan

3. Kematian yang Tersenyum Hormat (Andre Barahamin)

Mbok Patmi, salah seorang peserta aksi #DipasungSemen, meninggal karena sakit jantung. Ucapan duka datang dari berbagai pihak, termasuk dari Andre Barahamin, penulis story di bawah ini. Ia mungkin tak mengenal Mbok Patmi, tapi ia yakin kematian tersenyum hormat ketika menjemput Mbok Patmi.

embed from external kumparan

4. Hukum, Ganja, dan Omong Kosong (Eddward S. Kennedy)

Fidelis Ari Sudarwoto kehilangan segalanya: istri, waktu bersama anak, dan pekerjaan sebagai PNS. Semua itu lantaran hukum kita tak mengenal fungsi lain ganja, selain sebagai biang dari huru-hara dan hura-hura. Eddward S. Kennedy mempertanyakan hal ini. Benarkah di atas hukum, ada kemanusiaan?

embed from external kumparan

5. Anak Bau Kencur, Fahri Hamzah, dan KPK (Tsamara Amany)

"Maklum partai baru, kita didik aja," celoteh Fahri Hamzah terkait Partai Solidaritas Indonesia. Tsamara Amany, salah seorang politisi PSI, menjawab komentar Fahri Hamzah tersebut. "Sejak kapan ada alasan seorang pimpinan DPR tak perlu meladeni perdebatan mengenai isu pemberantasan korupsi karena argumen tersebut keluar dari seorang anak bau kencur?"

embed from external kumparan

6. Semua Murid Semua Guru: Melawan Perundungan (Najelaa Shihab)

Persoalan "bullying" tidak pernah sesederhana kelihatannya. Ada berbagai hal yang perlu dipahami untuk mengatasi perundungan secara tepat. Najelaa Shihab, dalam tulisan ini, mengajak kita untuk melihat lagi bullying, baik dari sisi pelaku, korban, maupun lingkungan.

embed from external kumparan

7. Mari Selamatkan Leuser! (Manik Sukoco)

Leuser adalah sebuah ekosistem yang terletak di sebelah utara pulau Sumatera. Wilayahnya membentang di antara dua provinsi di Sumatera, yaitu Aceh dan Sumatera Utara. Perannya untuk hajat hidup manusia amatlah besar. Namun, ekosistem Leuser terus-menerus dihancurkan untuk kepentingan industri kelapa sawit dan industri lainnya.

embed from external kumparan

8. Pengabdi Setan, Menyadarkan Kita Tentang Nasib Perempuan (The Conversation)

Potret dalam film tidak pernah lepas begitu saja dari konteks sosial-budaya; tidak terkecuali film horor yang berisikan hantu-hantu perempuan. "Kisah para hantu perempuan warisan leluhur ini seolah menjadi peringatan dari generasi-generasi pendahulu kita mengenai nasib perempuan Indonesia," tulis Gita Putri Damayana.

embed from external kumparan

9. Wanted, Berita Hilang! Dicari Orang Bernama Setya Novanto (Bambang Widjojanto)

Saat penyidik KPK datang ke rumahnya, Setya Novanto hilang entah ke mana. Drama tak ada habisnya itu seakan menghina akal sehat rakyat. Dalam tulisannya, Bambang Widjojanto mengatakan, "Jalan terbaik, SN segera menyerahkan diri, tidak ada pilihan lain karena ada dampak begitu besar bila SN kucing-kucingan dan menjadi buronan KPK."

embed from external kumparan

10. Thracymachus, Setya Novanto dan Ketololan Kita (Yusuf Arifin)

Meminjam cara pandang Thracymachus, Yusuf Arifin menyoroti drama Setnov yang tak masuk akal. Thracymachus melihat bahwa keadilan adalah milik mereka yang berkuasa, yang memerintah, yang kuat; dan karenanyalah keadilan tak lebih dari sekadar ketidakadilan. Setolol apakah kita, sampai-sampai drama Setnov bisa terjadi di depan mata?

embed from external kumparan

Itulah 10 story pada 2017 yang kami pilih. Merasa bisa membuat yang lebih baik? Ayo, buat! Tulis story apapun, yang sesuai dengan minatmu!

Kamu bisa bagikan story terbaikmu ke kumparan dalam berbagai format. Mulai dari tulisan, foto, hingga video. Story yang menarik akan berkesempatan direkomendasikan dalam aksara tiap pekannya.

Cukup dengan login di kumparan, kamu bisa bagikan apa pun dengan mudah, dan dapat dinikmati langsung oleh para pembaca.

Jika belum punya akun kumparan, klik panduan berikut: Q & A: Cara Membuat Akun & Posting Story di kumparan dan nikmati harimu bersama kumparan!