Aksi 2 Remaja Jarah Uang Persembahan di Sanur Disesalkan

Ketua Parisada Hindu Dharma (PDHI) Provinsi Bali IGN Sudiana menyayangkan adanya aksi penjarahan uang persembahan atau sesari yang terjadi di Pantai Padang Galak, Sanur, Bali, Senin (5/3) kemarin. Aksi ini dilakukan saat sejumlah umat Hindu melaksanakan upacara melasti.
Aksi penjarahan ini sempat viral di media massa. Dalam video itu tampak dua bocah laki-laki tengah menunggu umat meletakkan keben alias sejajen di pinggir pantai Padang Galak. Ketika seorang perempuan meletakkan keben, seorang bocah langsung mengambil sesari itu.
Tak lama berselang, satu bocah lain langsung menjarah sesari itu tanpa menunggu seorang perempuan yang lain meletakkan keben di pinggir pantai.
"Kalau saya sih sebenarnya ini tidak harus terjadi, kalau dia mengerti masalah yang persembahan dan yang bukan persembahan, " kata Sudiana saat dihubungi kumparan, Selasa (5/3).
Ia juga memaklumi hal itu terjadi. Hanya saja, ia berharap para masyarakat dan pecalang (aparat keamanan desa) lebih memperketat pengawasan saat melakukan upacara di pinggir pantai. Bila tak ada pengawasan, ia memprediksi hal itu bisa mewabah ke tempat lain.
"Saya lihat hanya kurang koordinasi itu antara pengurus, parajuru, masyarakat, dan pecalang terjadi seperti itu. Artinya orang melasti itu disaring dulu, setelah acara itu baru dia bisa masuk, jadi enggak bisa menyalahkan dia saja, sehingga kalau sudah diatur dengan baik kan enggak bisa (menjarah). (Pengawasan ketat) itu yang paling penting kalau tidak akan terus terjadi (penjarahan), " ujar dia.
Bahkan, ia berharap para aparat keamanan desa memberi batasan kepada pengunjung dan masyarakat yang upacara saat di pantai. Misalnya, diberi batas antara pengunjung dan masyarakat yang sedang mengadakan upacara.
"Sehingga diatur supaya enggak ada orang seperti itu, dikasih batas kalau mau memberi persembahan sampai sini. Kalau enggak, pengunjung sampai sini," kata dia.
Sementara itu, salah satu warga Banjar Kedaton Kesiman, Denpasar, Bali, Made Suparma, membenarkan adanya aksi penjarahan itu di pantai Padang Galak, Senin (4/3) kemarin. Ia memperkirakan aksi itu terjadi sebelum pukul 11.00 WITA.
Ini karena Made mendapatkan kiriman video viral itu sekitar pukul 11.00 WITA. Sementara itu, di pukul 11.00 WITA ia yang sedang berada di lokasi kejadian tidak mendapati peristiwa itu. Selain itu, dari 34 banjar yang melasti di Pantai Padang Galak, tinggal dua banjar saja yang sedang melasti sekitar pukul 11.00 WITA itu.
"Mungkin tanggal 4 kemarin. Saya lihat medsos jam 11 tapi enggak tahu kapan (waktu kejadian) itu," ujar Made saat ditemui di Pantai Padang Galak, Senin (5/3)
Made menjelaskan, sesari itu merupakan salah satu persembahan umat saat melasti. Biasanya, besaran uang persembahan itu tergantung pada kesanggupan umatnya. Ada yang Rp 2 ribu, ada yang Rp 5 ribu dan ada juga yang Rp 50 ribu.
Made mengaku selama menjabat sebagai salah satu anggota tim di Pantai Padang Galak mengaku belum pernah mendapatkan aksi penjarahan itu. Ia juga ikut menyayangkan aksi itu.
Bahkan, ia juga kecewa seseorang yang merekam dan memviralkan video itu. Ia menilai seharusnya bila ada kejadian itu, perekam seharusnya memberi tahu pihak pecalang. Minimal menegur para bocah itu.
"Saya sebagai masyarakat menyesalkan kenapa enggak langsung bilang ke pecalang atau warga atau dia bisa menegor sendiri. Kalau engga berani negur, bilang ke orang kan banyak orang disana," ujar dia.
Atas kejadian ini, Made mengatakan, pihak banjar akan memperketat pengawasan saat di Pantai.
"Antisipasinya pecalang akan memperketat pengawasan, stand by 24 jam, " ujar dia.
