Aksi AS Veto Resolusi Gencatan Senjata Gaza Tuai Kecaman Dunia

Negara anggota Dewan Keamanan PBB marah atas veto Amerika Serikat (AS), Rabu (4/6) waktu setempat. Veto itu dikeluarkan saat sedang membahas gencatan senjata serta dicabutnya pembatasan masuk bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Voting resolusi gencatan senjata pertama kali digelar di DK PBB sejak November 2024 lalu. Hanya AS, sekutu utama Israel, yang menolak resolusi berisi seruan gencatan senjata tersebut. Hasil voting tersebut adalah 14 mendukung satu menolak.
"Hari ini, Amerika Serikat mengirim pesan yang kuat dengan memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang kontraproduktif mengenai Gaza yang menargetkan Israel," kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam sebuah pernyataan setelah pemungutan suara, seperti dikutip dari AFP.
Ia mengatakan Washington tidak akan mendukung teks apa pun yang menyamakan Israel dan Hamas, atau mengabaikan hak Israel untuk membela diri.
"Amerika Serikat akan terus mendukung Israel di PBB,” sambung dia.
Laporan kantor berita AFP rancangan resolusi DK PBB berisi tuntutan agar gencatan senjata berlaku tanpa syarat, segera dan permanen di Gaza. Rancangan itu turut meminta semua pembatasan bantuan masuk ditarik.
Penolakan veto AS terjadi ketika kondisi Gaza memburuk. Selain setiap menyerang Gaza, pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan membuat warga Gaza terancam kelaparan.
Laporan Kementerian Kesehatan di Gaza jumlah korban jiwa serangan Israel mencapai kurang lebih 55 ribu orang, yang sebagian besar adalah warga sipil. Badan HAM PBB menyebut yang terjadi di Gaza adalah genosida.
Sesaat usai gagalnya resolusi, salah satu anggota DK PBB Pakistan langsung melontarkan kekecewaan dan komentar kerasnya.
“Resolusi yang gagal itu tidak hanya akan menjadi noda moral pada hati nurani dewan ini, tetapi juga momen penting penerapan politik yang akan bergema selama beberapa generasi,” ujar Dubes Pakistan untuk PBB Asim Ahmad.
Kecaman serupa disampaikan China. Sama seperti AS, China adalah anggota tetap DK PBB yang memegang hak veto.
"Hasil pemungutan suara hari ini sekali lagi mengungkap bahwa akar penyebab ketidakmampuan dewan untuk meredakan konflik di Gaza adalah hambatan berulang-ulang dari AS,” kata Dubes China untuk PBB Fu Cong.
