Kumparan Logo
Cover Article Story Bakti Sosial Djarum Foundation
Cover Article Story Bakti Sosial Djarum Foundation.

Aksi Nyata Local Hero Wujudkan Kemerdekaan Hidup Layak dan Bebas Stunting

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pemerintah terus menggenjot program percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem dan stunting. Namun, persoalan ini perlu diatasi secara gotong royong. Tak cukup hanya mengandalkan pemerintah pusat, tetapi juga memerlukan keterlibatan pemerintah daerah, pemerintah desa, para penggerak masyarakat, serta pihak swasta.

Ialah Adi Prasetio, seorang warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus, Jawa Tengah, yang aktif menggaungkan semangat gotong royong dalam pengentasan kemiskinan dan menghidupkan kesadaran pentingnya lingkungan yang sehat melalui Program Sanitasi Terpadu. Upaya ini menjadi salah satu wujud Bakti Pada Negeri.

Program Sanitasi Terpadu merupakan inisiatif Bakti Sosial Djarum Foundation dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat, melalui pembangunan sanitasi aman dan penyediaan akses air minum bersih. Dalam implementasinya, program ini melibatkan pemerintah dan masyarakat.

Doyok, begitu Adi Prasetio dipanggil warga sekitar, adalah penggerak Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tirta Saras yang dibentuk sebagai implementator program di lapangan. KSM bertugas melakukan pendataan, verifikasi, edukasi, hingga berkoordinasi selama pembangunan sanitasi aman, meliputi jamban, septic tank, dan sambungan rumah PDAM.

Kepala Desa, Mokhamad Masri (kiri) dan Ketua KSM Tirta Saras Adi Prasetio (Doyok) menjelaskan peta wilayah penerima manfaat pembuatan septic tank pada program sanitasi yang diberikan oleh Djarum Foundation di Desa Kesambi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (5/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Doyok dan tim harus keliling desa mendata rumah-rumah mana yang masih memiliki sanitasi buruk. Pasalnya, masih banyak warga Desa Kesambi yang buang hajat dan mengalirkan kotoran ke sungai karena tak punya jamban dan septic tank kedap.

Jika menilik kondisi geografis dan sejarahnya, Desa Kesambi memang dilewati sejumlah sungai dan warga di sini sejak turun temurun mengandalkan sungai sebagai sumber kehidupan, termasuk untuk mandi, cuci, kakus (MCK). Pipa-pipa untuk mengalirkan kotoran dari WC rumah berjejer di sepanjang bantaran sungai.

instagram embed

Kondisi ini lambat laun mempengaruhi kebersihan sungai dan kesehatan warga. Apalagi ketika turun hujan dan air sungai meluap, maka air akan langsung meresap ke sumur-sumur warga. Efeknya, air minum warga terkontaminasi dan berdampak pada kesehatan warga, serta efek jangka panjangnya dapat memicu stunting pada anak.

Berangkat dari kondisi ini, Doyok berjibaku memastikan setiap warga Desa Kesambi paham betul soal sanitasi yang aman dan sehat. Di setiap pertemuan warga, seperti PKK dan pengajian, ia dan anggota KSM getol melakukan edukasi.

“Kita sampaikan sanitasi untuk warga itu sangat dibutuhkan sekali, bukan hanya sekadar kebersihan, tapi air itu penting. Ketika kita membuang tinja di sungai, rata-rata air sumurnya itu dari air sungai, enggak ada PDAM. Jadi perputaran itu (kontaminasi),” ungkap Doyok di Desa Kesambi.

Kondisi sungai di Desa Kesambi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (5/8/2025). Foto: Muhammad Faiz Zulfikar/kumparan

Ia tak menampik upaya ini kerap terbentur dengan pola pikir dan kebiasaan warga pada hal baru, termasuk persoalan pentingnya jamban dan septic tank kedap, serta pengelolannya.

“Penolakan itu banyak. Pemikiran yang satu itu ketika sudah punya septic tank kedap, kita diwajibkan 5-6 tahun menyedot. Itu harus. Terus, warga itu bilangnya ‘saya sudah 40 tahun, 50 tahun, di pinggir bantaran sungai, dibuang di sungai enggak apa-apa, masih sehat’. Itu berat, ketika kita sosialisasi, wah, pada bantah,” cerita Doyok soal kondisi awal-awal sosialisasi Sanitasi Terpadu pada 2024.

Program Sanitasi Terpadu memang baru berjalan 1 tahun di Kudus dengan 564 sanitasi aman dan 11 sambungan rumah PDAM yang selesai dibangun pada 2024. Desa Kesambi menjadi salah satu desa yang mendapat bantuan program ini, dengan jumlah 89 sanitasi aman pada 2024 dan target 250-300 pada 2025.

Spanduk informasi pembangunan tangki septik kedap di Desa Kesambi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (5/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Cerita soal kondisi lingkungan Desa Kesambi yang belum sehat dibenarkan seorang warga bernama Alifaedhoni. Dhoni yang rumahnya berdekatan langsung dengan sungai mengakui kerap risih dengan kondisi sungai yang jorok.

“Mengganggu sekali. Jadi, ya kalau musim gini (kemarau basah) baunya enggak enak, ya gimana, wong enggak ada airnya, terus orang MCK-nya itu setiap hari. Yang tegel (tega) ya bisa makan-minum biasa, tapi kalau yang enggak, ya teringat terus,” jelas Dhoni di kediamannya.

Dhoni merupakan salah satu warga Desa Kesambi yang mendapat bantuan Program Sanitasi Terpadu, yakni pembangunan jamban dan septic tank kedap. Banyak perubahan baik yang ia dan keluarga rasakan.

“Perubahan yang saya alami di diri saya itu rasa aman, airnya sudah enggak ke campur kotoran-kotoran. Paling tidak, kalau jambannya sudah dialokasikan di jamban kedap, insyaallah nanti kebersihan dan penyakit, terutama gatal-gatal, tidak akan, ya,” ungkap Dhoni.

Ali Faedhoni (48) penerima bantuan Program Sanitasi Terpadu dari Djarum Foundation saat bersantai bersama istrinya di rumahnya di Desa Kesambi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (5/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Dari Program Sanitasi Terpadu, Dhoni melihat sanitasi yang sehat menjadi hal yang sangat penting. Hal ini, kata dia, juga dapat mengubah pola pikir warga untuk menjaga kebersihan lingkungan.

“Setelah ada jamban ini, sanitasinya, (kita) mengusahakan kebersihan lewat air. Dari Pak Lurah (Kades) juga menyarankan bahwasanya jangan sampai membuang sampah di sembarang tempat, terutama di sungai, harus ada tempat sampah, jadi nanti setiap satu minggu dua kali diambil yang bertugas, nanti dibuang pada tempatnya. Jadi paling enggak di sini jadi bersih,” ungkapnya.

Kepala Desa Kesambi, Mokhamad Masri, mengamini mulai banyak warganya yang memperhatikan aspek kesehatan lingkungan, khususnya soal sanitasi. Menurutnya, dampaknya sangat luar biasa, khususnya pada perubahan pola hidup dan kebiasaan untuk tidak membuang kotoran dan sampah di sungai.

“Jadi memang pelan-pelan dampaknya sangat luar biasa. Lingkungan jadi bersih. Yang tadinya kali itu bau, sekarang sudah 50% lah, sudah baik. Memang kita butuh proses untuk penanganan, mengubah pola hidup manusia itu sendiri,” ujar Masri di Balai Desa Kesambi.

Ketua KSM Tirta Saras Adi Prasetio (Doyok) memberikan penjelasan pembuatan septic tank kedap pada program Sanitasi Terpadu yang diberikan dari Djarum Foundation di Desa Kesambi, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (5/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Selain perubahan lingkungan dan perilaku, Masri melihat pelaksanaan Program Sanitasi Terpadu turut menghidupkan perputaran ekonomi warga dan semangat gotong royong.

“Kita melibatkan semua masyarakat. Baik dari yang punya tukang material, itu juga warga Desa Kesambi sendiri. terus pekerjanya ini warga Desa Kesambi yang sudah mendapatkan pelatihan untuk pembuatan septic tank. Jadi tidak hanya sehat, tapi ada di sini perputaran ekonomi di Desa Kesambi,” ungkap Masri.

Program Sanitasi Terpadu ini beririsan dengan bantuan Program Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) yang juga diinisiasi Bakti Sosial Djarum Foundation dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Program RSLH sejalan dengan program pemerintah dalam percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem.

Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) Djarum Foundation di Desa Kalimalang, Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Program RSLH sudah dilaksanakan jauh sebelum Sanitasi Terpadu, yakni pada 2022. Cakupannya pun tak hanya di Kudus namun beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Pemalang, Rembang, Demak, Grobogan, Blora, hingga Temanggung.

Di Kudus, Program RSLH salah satunya diimplementasikan di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, dengan jumlah 4 unit pada 2024 dan 3 unit pada 2025.

Penerima manfaat bantuan pun dikhususkan bagi keluarga miskin yang masih produktif dan memiliki anak, dengan status kepemilikan rumah dan hak milik jelas, serta lokasi rumah aman, tidak dekat bantaran sungai dan tidak rawan bencana (longlasting).

Noor Huda warga penerima manfaat Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) Djarum Foundation foto bersama istrinya di Desa Kalimalang, Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Noor Huda, salah satu warga Desa Karangmalah yang menerima bantuan RSLH pada 2025. Rumahnya kini disulap tak hanya apik namun juga layak huni, dari yang semula dibangun seadanya dan kerap membuatnya was-was.

“Takut rubuh, kasihan anak, istri kan. Seumpama kalau malam-malam ada angin kencang gitu, kasihan banget. Sering sampai enggak bisa tidur, kalau ada angin kencang sering bangun, soalnya temboknya itu sudah ndoyong (miring), sudah mau rubuh,” cerita Huda soal kondisi memprihatinkan rumahnya sebelum direnovasi.

Rumah lama Noor Huda, warga Desa Karangmalang, Kudus, sebelum direnovasi Djarum Foundation. Foto: Dok. Noor Huda

Kini, Huda bisa bernapas lega karena tembok dan genteng rumahnya sudah kokoh, kamar ada dua, bahkan lantai rumah sudah berkeramik. “Perubahan dari renovasi rumah ini bikin anak-anak belajar lebih nyaman, terus tidurnya lebih nyenyak, enggak was-was (takut rubuh),” jelas Huda.

Ia bersyukur dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah desa dan warga sekitarnya yang gotong royong selama proses renovasi rumahnya.

“Ya senang, enggak nyangka lah. Masih, masih pada peduli lah sama kita, ya kan. Alhamdulillah. Padahal kan aku ya enggak tahu, tiba-tiba kok pada ke sini semua itu teman-teman. Warga-warga pada ikut gotong royong di sini, pada bantuin,” ungkap Huda.

Pekerja saat membangun Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) Djarum Foundation di Desa Kesambi, Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Rumah bagi Huda, bukan sekadar tempat untuk berteduh dan tinggal bersama keluarga, namun juga jadi tempat mencari rezeki.

Ia merupakan tukang cukur yang membuka lapak di depan rumahnya, sementara sang istri membuka warung makan. Dengan rumah barunya ini, ia berharap semakin membuka pintu rezeki bagi keluarganya.

“Ini karena baru selesai rumahnya (direnovasi), makanya (warung) belum ditata lagi, tapi semoga bisa dicicil buka,” harap Huda.

instagram embed

Melawan Sunting

Pemeriksaan karyawati harian/borong PT Djarum yang sedang hamil pada program Gerakan Menjaga Periode Emas (GEMAS) di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (6/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Tercapainya kondisi lingkungan sehat dan kesejahteraan sosial berkat Program RSLH dan Sanitasi Terpadu bisa dibilang jadi fondasi awal melawan stunting.

Namun, perlu ada upaya mitigasi stunting secara langsung yang berfokus pada kesehatan ibu hamil dan menyusui hingga pemberian gizi yang baik bagi bayi di bawah dua tahun (baduta).

Hal ini turut menjadi fokus Sri Mukti Endang Dwiwati, seorang bidan yang bergabung dalam Gerakan Menjaga Periode Emas (Gemas), sebuah inisiatif Bakti Sosial Djarum Foundation bagi kesehatan ibu hamil dan menyusui, serta baduta dalam melawan stunting.

Selama 4 tahun belakangan, Mukti bersama Satgas Gemas tak pernah putus asa memberi penyuluhan, mendampingi pemeriksaan, hingga mendengar keluh kesah para ibu hamil dan menyusui di lingkungan pekerja PT Djarum.

“Kita kasih edukasi bagaimana cara menyusui, kemudian bagaimana makan yang sehat pada saat hamil, kemudian pada saat masa MPASI yang benar seperti apa dan tidak lupa bahwa apa yang kita dapatkan selama ini nanti akan membuat mereka mempraktikkan sendiri di rumah, sehingga anak-anak mereka menjadi anak yang sehat dan tidak menjadi stunting,” ujar Mukti usai memberi penyuluhan ‘Orang Tua Hebat’ di SKT Pengkol PT Djarum.

Penggerak satgas laktasi, Mukti, memberikan pelatihan 'Orang Tua Hebat' untuk calon ibu dan ayah pada program Gerakan Menjaga Periode Emas (GEMAS) ke sejumlah pegawai PT Djarum di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (6/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Mukti yang juga seorang konselor ASI, begitu luwes saat memberi penyuluhan soal laktasi bagi para karyawati harian/borong PT Djarum yang sedang hamil. Bahkan, ia juga ikut meminta para suami yang hadir untuk belajar memijat istrinya yang tengah hamil.

“Jadi, kita harapkan dengan adanya dukungan keluarga terutama adalah suami, bisa membuat istrinya happy sehingga dengan happy, maka ibu pun bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya sehingga tidak menjadi stunting,” jelas Mukti.

Selain penyuluhan, Satgas Gemas memantau kesehatan pekerja hamil dengan menggelar pemeriksaan rutin bulanan di berbagai area operasional PT Djarum, sementara untuk anak-anak dilakukan pemeriksaan rutin di klinik/rumah sakit terdekat yang bekerja sama dengan Satgas Gemas.

Penggerak satgas laktasi, Mukti, memberikan pelatihan memijat untuk calon ibu pada program Gerakan Menjaga Periode Emas (GEMAS) ke sejumlah pegawai PT Djarum di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (6/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Jika dalam pemeriksaan ibu hamil dan anak-anak ditemukan kondisi yang tak baik, maka dilakukan intervensi berupa pemberian obat, vitamin, hingga makanan bergizi.

Selain itu, perusahaan juga menyediakan ruang laktasi di setiap area operasional untuk mendukung para karyawati hamil untuk tetap bisa memberikan ASI eksklusif bagi sang buah hati.

instagram embed

Jumlah karyawati dan anak-anak yang dipantau dalam Program Gemas sekitar 11.000, tersebar di berbagai area operasional PT Djarum. Jumlah yang tak sedikit ini tak membuat Mukti dan Satgas Gemas gentar, sebab yang terpenting bagi dia adalah sukses melawan stunting.

Stunting itu bukan hanya masalah gizi, dan stunting bukan masalah ekonomi, tetapi bisa juga karena ibu-ibu ini masih kurang informasi.

-Sri Mukti Endang Dwiwati.

“Apa sih itu stunting? Jadi ini kita berikan sehingga Ibu-ibu paham bagaimana cara masak yang benar, bagaimana teknik menyusui, dan bagaimana supaya ibu-ibu ini bisa memberikan, makanan yang terbaik untuk anak-anak mereka terutama di dua tahun pertama yang merupakan proses perkembangan otak, yaitu sampai di 70%-80%,” imbuh dia.

Pemeriksaan kandungan karyawati harian/borong PT Djarum yang sedang hamil pada program Gerakan Menjaga Periode Emas (GEMAS) di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (6/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Penyuluhan dan berbagai upaya yang dilakukan Mukti bersama Satgas Gemas ini dirasakan betul para karyawati harian/borong PT Djarum yang sedang hamil, salah satunya Ira.

Ira mantap datang bersama sang suami mengikuti kelas ‘Orang Tua Hebat’ karena merupakan pasutri muda dengan kelahiran pertama, yang masih awam soal laktasi dan merawat bayi.

“Sangat penting sih. Soalnya dari yang enggak tahu, jadi tahu. Awalnya yang enggak tahu masalah ASI eksklusif, terus MPASI, simulasi untuk bayinya ke depannya gitu. Terus dukungan suami untuk istrinya ke depannya, agar ibunya tidak stres ke depannya,” jelas Ira.

Ira, calon ibu yang juga karyawati harian/borong PT Djarum, mendapat pijatan dari suami saat mengikuti kelas 'Orang Tua Hebat' program Gerakan Menjaga Periode Emas (GEMAS) ke sejumlah pegawai PT Djarum di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (6/8/2025). Foto: Aditia Noviansyah Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Ira dan para pekerja hamil adalah penjaga periode emas kehidupan, sementara dukungan Mukti dan Satgas Gemas adalah pengawal agar periode tersebut dapat tercapai dan kondisi stunting pada anak dapat dihindari.

Program Sanitasi Terpadu, Rumah Sehat Layak Huni (RSLH), dan Gerakan Menjaga Periode Emas (Gemas) merupakan wujud sinergi kepedulian sosial, kesehatan, dan lingkungan untuk membangun fondasi masyarakat yang lebih sehat, sejahtera, dan berdaya.

Melalui semangat gotong royong antara pemerintah, Djarum Foundation, dan masyarakat, ketiga program ini menjadi bentuk Bakti Pada Negeri yang memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Para penggerak masyarakat yang menggaungkan semangat gotong royong dalam pengentasan kemiskinan, menghidupkan kesadaran lingkungan sehat, dan melawan stunting di Kudus, Jateng. Foto: Dok. kumparan