Aktivis Sungai Protes Mancing Lele Bersama yang Digelar Relawan Jokowi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Undangan mancing bareng relawan Jokowi-Ma'ruf di Yogyakarta. (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Undangan mancing bareng relawan Jokowi-Ma'ruf di Yogyakarta. (Foto: Dok. Istimewa)

Relawan Jokowi - KH Ma'ruf Amin Untuk Kemuliaan Indonesia atau yang disingkat Rejomulia akan menggelar acara mancing bersama masyarakat pada Minggu (9/9) besok. Direncanakan 10 ton ikan lele akan ditebar di sepanjang Selokan Mataram dengan 14 spot pemancingan sepanjang 20 Km.

"Untuk besok kita mulai jam 9 sampai jam 5 sore. Lokasinya ada 14 spot pemancingan. Mulai di Banyurejo Tempel sampai Sanggrahan Maguwo. Panggung utama di barat UGM. Di sana ada keseniannya ada barongsai, pelawak dan lain sebagainya," jelas Sekjen Rejomulia, Andreas Andi Bayu melalui sambungan telepon, Sabtu (8/9).

Andreas menjelaskan, acara tersebut digelar untuk memperingati momentum bersejarah Amanat 5 September 1945 yaitu bergabungnya Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Acara tersebut digelar secara gratis dan panitia menargetkan 30 ribu sampai 50 ribu masyarakat ikut memancing.

"Kegiatan mancing ini tujuannya supaya masyarakat senang-senang. Membuat perekonomian di sekitarnya, seperti ibu-ibu bisa jualan. Ibaratnya menjelang pemilu katanya tegang, kita (cipatakan) yang adem senang-senang saja. Memperingati 5 September mengenang Sultan Hamengku Buwono IX terkait pembangunan Selokan Mataram," katanya.

Namun acara tersebut ternyata mengundang keperihatinan dari aktivis masyarakat pecinta sungai yang tergabung dalam Solidaritas Gotong Royong Peduli Sungai (Sego Pelus) yang terdiri dari komunitas Wild Water Indonesia Yogyakarta (WWI), Forum Edukasi satwa dan Tumbuhan (Forest), Yayasan Kanopi Indonesia, dan Moray Eel Indonesia (MEI).

Malalui siaran persnya, Divisi Advikasi Forest, Hanif Kurniawan menyatakan menentang pelepasan 10 ton ikan lele dumbo ke Selokan Mataram. Menurutnya, pelepasan ikan lele dumbo merupakan ikan invasif asing yang dapat mengganggu keberadaan ikal lokal Indonesia.

"Bahwa dewasa ini kesadaran masyarakat tentang ikan invasif mulai tinggi bahkan dibeberapa tempat telah terjadi penyerahan dan pemusnahan ikan invasif, sesuai dengan ketentuan Permen KP No. 41 Tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri Ke Dalam Wilayah Negara Repubik Indonesia," jelasnya.

Lanjutnya, berdasarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam buku Jenis Ikan Introduksi dan Invasif Asing di Indonesia, ikan lele dumbo termasuk ikan introduksi dan invasif asing. Kemudian, berdasarkan data sejumlah ikan mocong bebek di Sulawesi Selatan dan Ikan Batak telah tergusur akibat ikan invasif asing.

"Pengalaman buruk di Sumatra dan Sulawesi ini tentu tidak harus ditiru di Yogyakarta yang Istimewa ini hanya demi Ikan lele dumbo karna jelas merupakan Pencemaran dan Perusakan lingkungan," terangnya.

"Dengan melihat dan mendasarkan atas analisa LIPI dan juga Tata Cara pelepas liaran (restokking) ikan versi Kementrian Kelautan dan Perikanan tesebut maka kegiatan pelepas liaran 10 ton lele dumbo di ekosistem Selokan Mataram sudah sepantasnya kita tolak," pungkasnya.

Panitia Sebut Bukan Lele Dumbo

Mendapat protes keras dari aktivis, panitia mengatakan bahwa lele yang ditebar bukan lele jenis dumbo namun lele jenis mutiara yang dianggap aman dan merupakan jenis yang dikembangkan dinas terkait. Lele tersebut juga dibeli dari pembudidaya-pembudidaya lokal yang ada di Yogyakarta.

"Ikan dari kolam peternakan di Sleman sama daerah Imogiri, membeli di masyarakat," jelas Andreas.

"Yang menyangkut ekosistem, sebenarnya tidak ada masalah. Lele yang kita lepas lele mutiara, lele yang sudah dikembangakan oleh dinas perikanan dan kelautan. Itu yang diternakan di Jogja dan sekitarnya. Lele yang sudah aman dan bukan seperti lele dumbo seperti yang diberitakan," ujarnya.

Lebih lanjut, Andreas mengatakan bahwa Selokan Mataram bukan sungai asli melainkan sungai buatan yang berfungsi sebagai saluran irigasi. Sungai tersebut juga sering dikeringkan sesuai kebutuhan petani. Sehingga ia menganggap tidak ada ekosistem asli di sungai tersebut.

"Nggak mempengaruhi ekosistem asli. Toh itu emang sering dimasukin bermacam ikan seperti lele gurameh sering untuk mancing. Enggak ada alasan untuk merusak. Kita sudah koordinasi dengan dinas terkait. Pihak perikanan datang ke sekretariat kita juga," tegasnya.

Sementara saat ditanya wartawan apakah akan ada muatan kampanye, Andreas menampik hal tersebut. Menurutnya kegiatan ini murni untuk memperingati momen 5 September sekaligus bersenang-senang bersama masyarakat.

"Bawaslu kita sudah koordinasi. Selama kita tidak melanggar seperti pasang logo, nomor, citra diri dari peserta pemilu itu tidak masalah. Dan kita tidak melakukan itu. Pihak-pihak partai tidak memasang atribut ataupun alat peraga di lokasi," tegasnya.