Akui Dapat Jatah Beras, Mentan Jepang Mundur
ยทwaktu baca 3 menit

Menteri Pertanian Jepang Taku Eto terpaksa mengundurkan diri pada Rabu (21/5). Ini dikarenakan Eto membuat komentar "saya tidak pernah membeli beras" karena mendapatkan jatah dari pendukungnya.
Masyarakat Jepang menilai komentar Eto itu tidak sesuai dengan realitas ekonomi. Pernyataan itu muncul dalam sebuah seminar Partai Demokrat Liberal pada Minggu (18/5) lalu.
"Saya membuat pernyataan yang sangat tidak pantas saat konsumen berjuang menghadapi harga beras yang meroket," kata Eto setelah menyerahkan surat pengunduran diri ke kantor perdana menteri, Rabu (21/5), sebagaimana dilaporkan AP.
Dengan demikian, Eto menjadi menteri pertama yang mengundurkan diri sejak Perdana Menteri Shigeru Ishiba menjabat pada Oktober 2024.
Eto juga menjelaskan pernyataannya yang bermasalah itu. Ia mengaku membeli beras putih sendiri dan tidak hidup dari beras yang diberikan sebagai hadiah.
Pernyataannya, lanjut Eto, merujuk pada beras merah. Ia mengaku pernyataan itu dilontarkan karena ingin masyarakat tertarik dengan beras merah, karena bisa mencapai pasar lebih cepat.
Pernyataan Eto ini membuat pemerintahan Ishiba semakin di ujung tanduk, khususnya jelang pemilihan umum nasional pada Juli mendatang. Kekalahan besar bisa saja membuat Ishiba harus mundur dari jabatannya.
Ishiba kemudian menunjuk mantan menteri lingkungan hidup yang populer, Shinjiro Koizumi, sebagai menteri pertanian menggantikan Eto. Koizumi memiliki pengalaman di kebijakan pertanian dan perikanan dan memiliki antusiasme terhadap reformasi.
Koizumi mengatakan, Ishiba meminta untuk melakukan apa pun yang menstabilkan pasokan dan harga beras guna mengatasi kekhawatiran konsumen.
"Saya diminta untuk mengutamakan beras di atas segalanya. Di masa-masa yang sulit ini, saya akan melakukan yang terbaik untuk mengatasi tingginya harga beras yang dirasakan dan dikhawatirkan masyarakat setiap hari," kata Koizumi.
Koizumi juga mengaku memahami kekhawatiran masyarakat karena dia terkadang memberi makan anak-anaknya dengan nasi instan. Selain itu, Koizumi mengatakan langkah yang diambil sejauh ini terbukti tidak efektif dan akan mempercepat upaya setelah resmi menjabat.
Sementara, Ishiba menyatakan ingin memperkuat ketahanan pangan dan swasembada Jepang. Ia mengusulkan reformasi pertanian, termasuk meningkatkan produksi beras dan kemungkinan ekspor. Meski, kritikus mengatakan Ishiba harus segera memperbaiki masalah beras yang sedang berlangsung terlebih dulu.
Terkait solusi kenaikan harga beras, Ishiba menduga melonjaknya harga besar bukan masalah sementara, melainkan masalah struktural.
"Tidak mudah untuk menemukan jawabannya," kata Ishiba. Meski demikian, ia berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk meringankan kesulitan masyarakat dan mereformasi kebijakan beras.
Kekurangan stok beras dimulai pada Agustus 2024. Saat itu, pemerintah mengeluarkan peringatan persiapan menghadapi gempa bumi besar, sehingga masyarakat melakukan panic buying.
Stok beras kemudian pulih setelah panen musim gugur. Namun, stoknya lagi-lagi berkurang dan harganya meroket awal tahun ini.
Pejabat pemerintah menyebut pasokan beras kurang akibat panen yang buruk karena cuaca panas tahun 2023 dan tingginya biaya pupuk dan produksi lainnya. Namun, sejumlah ahli menyalahkan kebijakan produksi beras jangka panjang pemerintah.
Pemerintah telah mengeluarkan berton-ton beras dari persediaan darurat dalam beberapa bulan terakhir. Namun, statistik terbaru Kementerian Pertanian menunjukkan dampaknya sangat sedikit. Sejumlah supermarket bahkan mulai menjual beras impor yang harganya lebih murah.
