News
·
23 Desember 2018 7:02

Alasan BMKG dan BNPB Tak Lekas Sebut Bencana di Anyer Sebagai Tsunami

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Alasan BMKG dan BNPB Tak Lekas Sebut Bencana di Anyer Sebagai Tsunami (37385)
searchPerbesar
Penjelasan BMKG soal tsunami di Lampung dan Banten. (Foto: Adhim Mugni Mubaroq/kumparan)
Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tak lekas menyebut air bah yang datang menghantam kawasan Anyer hingga Lampung sebagai tsunami.
ADVERTISEMENT
Bahkan pada Sabtu (22/12) malam di akun twitter kedua lembaga itu terus memberikan klarifikasi bahwa bencana itu gelombang tinggi.
Hingga akhirnya, pada Minggu (23/12) dini hari, BMKG menggelar jumpa pers dan memastikan bahwa bencana air bah yang terjadi di kawasan Selat Sunda adalah tsunami.
"Yang jelas, saat ini peringatan dini tsunami baru dari yang diakibatkan dari teknonik. Mungkin ke depan Badan Geologi karena bertanggung jawab dengan aktivitas gunung, ini bisa jadi pengalaman. Ini bisa menjadi bagian yang dikerjasamakan atau disinergikan dengan BMKG karena BMKG punya peralatan perangkat untuk memberikan warning," beber Kepala Pusat Data dan Informasi BMKG Rahmat Triyono dalam keterangannya.
Sedang menurut BMKG, tsunami yang terjadi di Selat Sunda ini diduga karena Anak Gunung Krakatau yang erupsi, kemudian ditambah dengan fenomena gelombang pasang dan bulan purnama.
ADVERTISEMENT
"Kemungkinan disebabkan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang akibat bulan purnama. Dua kombinasi tersebut menyebabkan tsunami yang terjadi tiba-tiba yang menerjang pantai. BMKG masih berkoordinasi dengan Badan Geologi untuk memastikan faktor penyebabnya," timpal Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Alasan BMKG dan BNPB Tak Lekas Sebut Bencana di Anyer Sebagai Tsunami (37386)
searchPerbesar
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjawab pertanyaan wartawan. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Menurut dia, tsunami bukan dipicu oleh gempa bumi. Tidak terdeteksi adanya aktivitas tektonik. Kemungkinan tsunami terjadi akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Pada saat bersamaan terjadi gelombang pasang akibat pengaruh bulan purnama. Jadi ada kombinasi antara fenomena alam yaitu tsunami dan gelombang pasang.
Sutopo melajutkan, Badan Geologi mendeteksi pada pukul 21.03 WIB, Sabtu (22/12) Gunung Anak Krakatau erupsi kembali dan menyebabkan peralatan seismograf setempat rusak. Namun seismik Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus (tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan).
ADVERTISEMENT
"Kemungkinan material sedimen di sekitar Anak Gunung Krakatau di bawah laut longsor sehingga memicu tsunami. Dampak tsunami menerjang pantai di sekitar Selat Sunda. Dampak tsunami menyebabkan korban jiwa dan kerusakan. Data sementara hingga pukul 04.30 WIB tercatat 20 orang meninggal dunia, 165 orang luka-luka, 2 orang hilang dan puluhan bangunan rusak. Data korban kemungkinan masih akan terus bertambah mengingat belum semua daerah terdampak di data," urai dia.
"Masyarakat dihimbau tetap tenang. Jangan terpancing isu yang menyesatkan yang disebarkan oleh pihak yang tidak jelas. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di pantai Selat Sunda untuk sementara waktu. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan penelitian lebih lanjut," tutupnya.