Alasan Ferdy Sambo Bikin Skenario Tutupi Pembunuhan Yosua

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (26/10/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (26/10/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Ferdy Sambo membeberkan alasan menutupi pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat dengan skenario tembak menembak. Skenario itu disebutnya paling memungkinkan untuk menyelamatkan Richard Eliezer dari kasus penembakan Yosua.

Hal itu disampaikan Sambo saat bersaksi dalam lanjutan persidangan kasus pembunuhan Yosua di PN Jakarta Selatan. Dia bersaksi untuk terdakwa Richard Eliezer, Kuat Ma'ruf, dan Ricky Rizal, Rabu (7/12).

"Apa alasan Saudara sampai harus membuat skenario seperti ini? Di dalam benak Saudara sampai Saudara membuat skenario bahwa tembak menembak itu, apa alasannya?" tanya hakim.

"Saya memang salah, Yang Mulia," kata Sambo.

"Bukan, saya nanya dulu, salah nanti dulu. Apa alasan Saudara membuat skenario, terpikir dalam benak Saudara bahwa harus, apa, tembak menembak?" tanya hakim.

Sambo mengaku alasan itu ia sampaikan karena sesuai dengan aturan penggunaan senjata api. Menurutnya, kontak senjata diperbolehkan dalam rangka menyelamatkan diri sendiri dan orang lain.

Richard Eliezer, Kuat Ma'ruf dan Ricky Rizal mendengar kesaksian Benny Ali di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (7/12/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Celah ini yang ingin digunakan Sambo untuk menyelamatkan diri dari jeratan kasus dugaan pembunuhan atas tewasnya Yosua.

"Karena pengalaman dinas saya, di Perkap 1/2009 tentang penggunaan senjata api, Yang Mulia, yang bisa menyelamatkan anggota dalam kontak tembak itu adalah dalam rangka melindungi diri sendiri dan orang lain Yang Mulia," kata Sambo.

"Dalam rangka melindungi diri sendiri dan orang lain?" kata hakim menegaskan.

"Iya, Yang Mulia," kata Sambo.

Berikut bunyi penggunaan senjata api dalam Perkap 1/2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan Kepolisian:

Pasal 8

(1) Penggunaan kekuatan dengan kendali senjata api atau alat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) (ancaman terhadap anggota Polri) huruf d dilakukan ketika:

a. tindakan pelaku kejahatan atau tersangka dapat secara segera menimbulkan luka parah atau kematian bagi anggota Polri atau masyarakat;

b. anggota Polri tidak memiliki alternatif lain yang beralasan dan masuk akal untuk menghentikan tindakan/perbuatan pelaku kejahatan atau tersangka tersebut;

c. anggota Polri sedang mencegah larinya pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat.

Hakim menunjukkan barang bukti senjata HS dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Chandrawathi di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (22/11/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Skenario tembak menembak yang dibangun Sambo yakni dengan menembak senjata api milik Yosua ke tembok. Seakan-akan telah terjadi peristiwa tembak menembak di lokasi kejadian.

Hal itu ia lakukan karena mengaku kaget Eliezer menembak Yosua. Sambo berdalih perintah yang ia sampaikan adalah 'Hajar Chad'.

"Itu kejadian cepat sekali tidak sampai sekian detik, karena cepat sekali penembakan itu. Kemudian saya kaget, saya sampaikan setop berhenti, begitu melihat Yosua jatuh kemudian sudah ada berlumuran darah saya jadi panik, Yang Mulia," kata dia.

"Saya tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan penembakan ini Yang Mulia, Kemudian saya berpikir dengan pengalaman saya yang paling memungkinkan dalam peristiwa ini adalah peristiwa tembak menembak Yang Mulia," tambah Sambo.

"Akhirnya kemudian saya melihat ada senjata Yosua di pinggang, saya kemudian mengambil dan mengarahkan tembakan ke dinding Yang Mulia," sambung Sambo.

"Pinggang siapa?" tanya hakim.

"Pinggang Yosua, Yang Mulia," kata Sambo.

"Kemudian setelah itu saya juga melihat bahwa ini harus ada bekas tembakan dari Yosua, saya ambil tangan Yosua dan menggenggam senjata milik Yosua dan menembakkan ke lemari sebelah atas Yang Mulia. Kemudian setelah itu saya lap senjata Yosua dengan masker, saya letakkan di samping Yosua, Yang Mulia," pungkas Sambo.

Belakangan skenario ini terungkap. Ternyata skenario itu hanya karangan Sambo untuk menutupi peristiwa eksekusi Yosua yang diperintahkan olehnya kepada Eliezer, sebagaimana dakwaan jaksa.