Alasan Mengapa Pilot Harus Menjauhi Alkohol

Alkohol berdampak sangat buruk bagi kesiapan pilot dalam menerbangkan pesawat. Di bawah pengaruh alkohol, kemampuan pilot menurun dan bisa berujung celaka, mengancam keselamatan para penumpang dan kru.
Badan penerbangan Amerika Serikat, FAA, dalam sebuah edaran keselamatan mengatakan alkohol menyebabkan pilot membuat keputusan yang salah. Pengaruh alkohol, berdasarkan data FAA, berdampak pada otak, mata, dan teliga bagian dalam - ketiga organ ini sangat penting bagi kinerja pilot.
"Alkohol menurunkan kemampuan otak menggunakan oksigen. Dampak ini bisa diperparah jika berada dalam ketinggian, terlebih karena menurunnya tekanan oksigen," tulis FAA.
Terpapar alkohol, pandangan pilot bisa berbayang dan tidak fokus. Gangguan pada bagian telinga dalam menyebabkan kepala pusing dan mengganggu pendengaran.
FAA menuliskan, kondisi mabuk berat akan semakin buruk jika pilot kurang tidur, kelelahan, mengonsumsi obat, terbang di malam hari atau cuaca buruk. Alkohol cepat diserap di usus kecil lalu kemudian tersebar ke seluruh tubuh melalui darah. Oleh karena itu deteksi paling akurat untuk menakar kadar alkohol adalah melalui uji darah.

Pilot dengan kadar alkohol dalam darah lebih tinggi 0,04 persen dianggap mabuk oleh FAA dan tidak layak terbang. Ambang batas di Inggris lebih ketat lagi, yaitu 0,02 persen.
"Beberapa kesalahan serius yang pilot lakukan meningkat drastis dengan kandungan alkohol dalam darah mencapai atau di atas 0,04 persen. Tidak berarti masalah tidak terjadi jika di bawah angka itu," tulis FAA.
Dalam peraturannya, pilot dilarang mengemudikan pesawat delapan jam setelah minum alkohol atau yang dikenal dengan istilah "eight hours from bottle to throttle". Namun dalam praktiknya, FAA menyarankan pilot untuk tidak terbang 24 jam setelah minum alkohol.
Pasalnya walau sudah tidak mabuk masih ada efek alkohol yang membuat tubuh tidak fit atau yang biasa disebut hangover.
"Gejala hangover ini juga berbahaya bagi penerbangan. Pilot dalam keadaan hangover mengalami pusing, pening, mulut kering, hidung berair, kelelahan, sakit perut, penilaian yang buruk, dan sangat sensitif terhadap cahaya terang," lanjut FAA.
Dampak alkohol bagi pilot terlihat pada kecelakaan tahun 1977 di bandara Anchorage, Alaska. Saat itu pilot Amerika yang mabuk menjadi penyebab kecelakaan pesawat kargo Japan Air Lines DC-8, menewaskan semua lima orang di dalamnya.
Pada September 2008, pesawat maskapai Aeroflot kecelakaan saat coba mendarat di bandara Perm, Rusia, menewaskan 88 orang. Dalam penyelidikan diketahui pilot sedang mabuk dalam kecelakaan itu. Dua kasus ini hanya sebagian kecil dari berbagai kecelakaan pesawat akibat pilot yang mabuk.
FAA mengimbau para pilot yang akan terbang menghindari alkohol sama sekali, demi keselamatan diri dan penumpang.
"Lakukan penilaian yang baik. Hidupmu dan hidup penumpangmu dalam risiko jika kalian mabuk dan terbang," lanjut FAA.
