News
·
20 September 2020 18:13

Alasan Ridwan Kamil Terapkan PSBM Bukan PSBB: Jabar Lebih Heterogen

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Alasan Ridwan Kamil Terapkan PSBM Bukan PSBB: Jabar Lebih Heterogen (761)
Paparan Ridwan Kamil. Foto: Dok. Istimewa
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjelaskan alasanya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM), bukan PSBB seperti DKI. Sebab menurutnya kondisi di Jawa Barat lebih heterogen.
ADVERTISEMENT
"Sampai hari ini Jabar tidak pernah mengendurkan epidemiologi. 14 Hari PSBB Bodebek selalu saya perpanjang. Hanya bedanya, karena wilayah kami ini tidak homogen seperti Jakarta, maka kita gunakan PSBM berbasis mikro," kata Ridwan Kamil dalam webinar, Minggu (20/9).
Pria yang akrab disapa Emil ini menyebut, zona merah di Jabar diketatkan, sedangkan zona hijau dilonggarkan. "Karena COVID ini mengajarkan kita harus adil," katanya.
Alasan Ridwan Kamil Terapkan PSBM Bukan PSBB: Jabar Lebih Heterogen (762)
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melambaikan setibanya di puskesmas Garuda, kecamatan Andir, Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/8). Foto: M Agung Rajasa/Antara Foto
Emil menjelaskan, mengingat kondisi Jabar yang heterogen, penanganan pandemi di masing-masing daerah berbeda-beda. Tapi harus tetap bersinergi dengan sekelilingnya.
Seperti kebijakan di Bodebek harus selalu mengikuti episentrumnya, yakni DKI Jakarta. Sedangkan kawasan lain yang jauh dari Ibu Kota membutuhkan penanganan berbeda.
"Kami punya kota yang padat seperti Bekasi dan kami juga punya kampung seperti di Majalengka, ini yang perlakuannya tidak bisa sama. Di desa ini jauh dari COVID, ekonominya juga berjalan. Kalau kita pukul rata perlakukan sama, itu tidak adil," katanya.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu diterapkan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Sehingga ekonomi tetap berjalan, namun kebiasaan hidup bersih sehat harus didisiplinkan. Menurutnya langkah itulah yang palig efektif sambil menunggu vaksin siap diproduksi massal.
"Anda mau lockdown wilayah, silakan tapi ekonomi hancur. Atau anda cukup lockdown mulut dan hidung anda tapi ekonomi tidak hancur," ujar Emil.