Aliran Sesat di Gowa: Bernama Bab Kesucian; Larang Salat Aktif di Medsos
·waktu baca 3 menit

MUI Sulawesi Selatan menemukan adanya dugaan aliran sesat bernama Bab Kesucian di Samata, Kabupaten Gowa.
Aliran yang dipimpin seorang pria bernama Bang Hadi itu melarang atau mengharamkan pengikutnya untuk makan daging ikan dan minum susu. Bahkan, tidak menganjurkan untuk melaksanakan salat lima waktu.
Aliran tersebut aktif menggunakan media sosial YouTube, dengan membuat channel bernama Persatuan Nur Mutiara Mutmainnah dan Bang Ahmad Minallah Al Hadi Official.
Akun itu telah ada sejak 2018 dan kini jumlah pengikutnya ribuan orang. Yang dibahas adalah terkait makanan yang boleh dimakan dan kajian risalah kesucian.
"Dia aktif di YouTube," kata Sekretaris MUI Sulsel, Muammar Bakry.
Sekilas Sosok Bang Hadi Sang Pemimpin Bab Kesucian
Muammar Bakry, mengatakan aliran bak kesucian di Kabupaten Gowa, Sulsel, dipimpin seorang pria bernama Bang Hadi.
"Kami dapat informasi dari masyarakat dan saat dicek, ternyata benar. Ada yayasan di Gowa yang diduga aliran sesat," kata dia.
Bang Hadi merupakan warga pendatang. Ia berasal dari Pulau Sumatera dan menikah dengan warga Gowa. Kemudian, pasangan suami-istri ini mendirikan yayasan dengan nama Nur Mutiara Makrifatullah.
"Aliran ini diduga sudah lama ada di daerah tersebut," jelasnya.
Muammar mengaku aliran ini diduga sesat karena melarang salat dan memakan daging dan susu.
"Ini sudah jelas bertentangan syariat Islam. Menyalahi hal yang disepakati (ma’lum minaddin bidhorurah) adalah kekufuran, sudah jelas telah keluar dari Islam," tegas dia.
Klarifikasi 'Bab Kesucian' Gowa: Kami Bukan Aliran Sesat
Wayang Hadi (48 tahun), pemimpin Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah, membantah yayasannya menganut aliran sesat yang melarang salat.
"Pelarangan salat itu (tingkah) teroris, dapat data dari mana? Apalagi memfitnah begitu. Kalau menuduh tanpa verifikasi maka itu fitnah yang kejam," kata Hadi.
Hadi melanjutkan, "Kami juga salat, naik haji, dan berpuasa dengan mengikuti pemerintah," ujar Hadi.
Hadi mengatakan, pihaknya justru mengajarkan agama. "Saya mengajarkan bagaimana mengenal agama, dasar-dasar yang mau mengenal agama, mengajarkan makan yang bersih, pola hidup yang bersih, mengajarkan pola pikir yang bersih, dan hati bersih," ucap dia.
Jumlah anak yang menjadi turut dalam yayasan ini juga menurut Hadi tidak banyak. "Jumlahnya hanya beberapa orang, tidak sampai seratus, tapi bukan dari kaum luar, tapi anak-anak dari kalangan yayasan saja," katanya.
Kalau Menyimpang Beri Edukasi
Menag Yaqut Cholil Qoumas mengaku sudah mendengar informasi tersebut. Pihaknya sudah meminta jajaran Kemenag Sulawesi Selatan untuk melakukan verifikasi lapangan, guna mendapatkan informasi selengkapnya langsung dari pihak yang terkait.
"Verifikasi dan klarifikasi ini penting agar langkah tindak lanjut yang diambil benar-benar berdasarkan informasi yang sebenarnya. Selanjutnya diajak dialog," kata Gus Yaqut.
Gus Yaqut memastikan pendekatan yang akan dilakukan adalah dialog. Jajaran Kanwil, Kankemenag, penyuluh, bersama FKUB setempat telah diminta untuk menjalin dialog guna mendengar penjelasan pengikut Bab Kesucian terkait keyakinan dan pemahaman yang mereka anut.
"Perlu digali, sumber keyakinan mereka dari mana, dan argumentasinya seperti apa," ujarnya.
"Sekira ditemukan adanya indikasi penyimpangan dalam pemahaman keagamaan, kita lakukan edukasi, dakwah, dan pendampingan, khususnya kepada para anggotanya," sambungnya.
Gus Yaqut juga menilai pemimpin aliran perlu diajak dialog melalui pendekatan persuasif. Selain dialog keagamaan, juga memberikan pencerahan terkait regulasi yang berlaku agar penyebaran paham keagamaan tidak mengarah pada tindakan penistaan.
"Saya mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak main hakim sendiri," tuturnya.
