news-card-video
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45

Alkisah Celeng, Celengan dan Babi Ngepet dari Zaman Majapahit

27 April 2021 13:14 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Babi ngepet yang diamankan warga RT2/4, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Babi ngepet yang diamankan warga RT2/4, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Foto: Dok. Istimewa
ADVERTISEMENT
Geger ditemukannya babi diduga babi ngepet di Bedahan, Depok menjadi perbincangan. Sulit diterima akal memang dan tak bisa dibuktikan secara ilmiah.
ADVERTISEMENT
Tapi tetap saja warga percaya babi yang ditangkap adalah babi ngepet. Belum lagi saat menangkapnya memakai ritual.
Omong-omong soal babi ngepet ini kumparan menampilkan artikel soal celengan dan babi ngepet dari lama historia.id.
Berikut tulisannya:
Artikel seutuhnya berasal dari www.historia.id
Celengan banyak ditemukan di situs Trowulan, ibukota kerajaan Majapahit. Pembuatan celengan telah berkembang antara abad ke-13 dan 15. Celengan yang pernah ditemukan terdiri dari tiga bentuk: manusia berupa anak kecil, binatang (babi atau celeng, domba, kura-kura, dan gajah), dan yang terbanyak berupa guci.
Menurut arkeolog Supratikno Rahardjo dalam “Tradisi Menabung dalam Masyarakat Majapahit: Telaah Pendahuluan Terhadap Celengan di Trowulan,” belum diketahui secara persis berapa banyak celengan yang dibuat untuk masing-masing bentuk binatang tersebut.
ADVERTISEMENT
“Tetapi ada kesan bahwa bentuk babi menempati jumlah terbanyak, kemudian domba, kura-kura, kuda, dan gajah,” tulis Supratikno, termuat dalam Monumen: Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono.
Meskipun bentuknya bisa manusia, guci, atau binatang lain selain babi, namun sebutan yang dipilih adalah celengan. Sebutan ini digunakan sampai sekarang. Apakah masyarakat Majapahit juga menyebutnya dengan istilah celengan? Menurut Supratikno kata celengan agaknya baru diperkenalkan oleh orang Jawa pada masa kemudian, karena bahasa Jawa Kuno hanya mengenal kata celeng (babi atau babi hutan) dan pacelengan (kandang babi).
Kamus Javaans-Nederlands Woordenboek karya Th. Pigeaud, memuat sejumlah kata Jawa yang berkaitan dengan aktivitas menabung, yaitu celengan berarti spaartpot (tempat menabung), dicelengi berarti opgespaard (disimpan), dan dicelengake berarti men spaart voor iemand (menabungkan untuk orang lain). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata celengan berasal dari kata Jawa yang berarti tabung pekak untuk menyimpan uang; tabungan atau uang simpanan itu sendiri.
ADVERTISEMENT
“Kita masih belum tahu apakah kata-kata tersebut ada hubungan dengan kata celeng yang berarti babi hutan,” tulis Supratikno. Kalau memang celengan harus dikaitkan dengan binatang celeng, lanjut Supratikno, “dapatkah kita menghubungkan munculnya istilah itu dengan mitos babi ngepet atau celeng daden (babi jadi-jadian) yang berhubungan dengan upaya mencari kekayaan secara cepat seperti umum dikenal dalam tradisi Jawa atau Sunda?”
Menurut sejarawan Denys Lombard, kebiasaan menabung dalam celengan pada masyarakat Jawa terpengaruh oleh orang Tionghoa. “Istilah celengan –yang dibentuk dari kata Nusantara (tepatnya Jawa, red) celeng– jelas mengacu pada binatang pembawa rezeki dalam mitologi Cina yang semenjak zaman Majapahit telah memberi bentuk bulat pada celengan Jawa yang terbuat dari tanah liat,” tulis Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya.
ADVERTISEMENT
Supratikno berbeda pendapat dengan Lombard. Menurutnya, celengan-celengan Trowulan terutama menggambarkan guci-guci dan beberapa figur anak kecil, mengingatkan pada dewa Kuwera. Tradisi Hindu-Budha di Nusantara mengenal konsep kemakmuran yang diwujudkan dalam bentuk arca dewa Kuwera atau Kubera, yang telah dikenal di Jawa Tengah sejak abad ke-9 atau sebelumnya.
Sebagai simbol kemakmuran, Kuwera mewakili penguasa kehidupan duniawi yang bergelimang dengan barang-barang berharga dan mewah. Dewa ini digambarkan sebagai manusia dalam wujud anak kecil yang montok dan berperut gendut, sedang duduk di atas singgasana berhias bunga teratai, memegang pundi-pundi harta dan benda-benda lain yang melambangkan kekayaan dan kenikmatan duniawi. Di sekelilingnya terdapat guci-guci yang penuh dengan permata.
Dengan demikian, menurut Supratikno “Bukti-bukti di atas agaknya cukup masuk akal bila dipakai sebagai dasar anggapan bahwa bentuk-bentuk celengan Trowulan (juga celengan-celengan masa kini) sesungguhnya diilhami oleh bentuk arca Kuwera beserta atribut-atributnya.”
ADVERTISEMENT