Amerika Serikat Ragukan Vaksin Corona Sputnik V Buatan Rusia

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan Amerika Serikat Alex Azar Foto: Reuters/Joshua Roberts
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Amerika Serikat Alex Azar Foto: Reuters/Joshua Roberts

Amerika Serikat meragukan kemampuan vaksin virus corona Sputnik V buatan Rusia.

Sputnik V merupakan vaksin corona pertama di dunia yang mendapat pengesahan. Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan pemberian izin kepada vaksin tersebut pada Selasa (11/8).

Pengumuman penemuan vaksin tersebut dipertanyakan Menkes AS Alex Azar. Menurutnya, untuk mengizinkan vaksin uji klinis tahap akhir wajib hukumnya.

Ilustrasi Sputnik V, vaksin virus corona dari Rusia. Foto: Shutter Stock

Sputnik V diketahui mendapat izin saat masih berada di fase II uji coba. Seharusnya, suatu vaksin mendapat izin edar ketika sudah melewati uji coba fase III ke ribuan relawan.

Azar menegaskan, AS tidak akan terburu-terburu mengumumkan vaksin. Dia mengatakan, AS masih berada di jalur benar untuk mendapat vaksin efektif yang akan diumumkan pada akhir 2020.

"Ini bukan jadi yang pertama, tapi memiliki vaksin efektif," kata Azar, seperti dikutip dari Reuters.

Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin via REUTERS

Ahli penyakit menular AS Anthony Fauci bahkan menyebut, dirinya belum mendengar bukti vaksin Rusia siap digunakan secara luas.

"Saya harap Rusia benar-benar membuktikan vaksin itu aman dan efektif, saya benar-benar meragukan itu," ucap Fauci yang kini bertugas sebagai anggota satgas virus corona AS.

Putin Pastikan Sputnik V Aman

Sejak pertama kali diumumkan, Putin mengklaim Sputnik V aman digunakan.

Bahkan vaksin itu sudah disuntikkan ke salah seorang putrinya. Walau sempat demam, putri Putin sesudahnya merasa sehat.

embed from external kumparan

Putin bahkan menyatakan, lebih dari 20 negara sudah memesan Sputnik V.

Rusia memang mengumumkan Sputnik V tanpa melewati fase uji klinis terakhir. Rencananya, uji klinis skala besar akan dimulai bersamaan dengan vaksinasi massal di 10 wilayah Rusia.