kumparan
News14 Februari 2020 19:00

Anak-anak Harus Katakan 'Tidak' Saat Diajak Skullbreaker Challenge

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi TikTok
Ilustrasi TikTok Foto: AFP
Media sosial TikTok tengah diramaikan video skullbreaker challenge, tantangan yang mengundang bahaya. Banyak orang di luar negeri, bahkan pelajar, yang memeragakan challenge ini.
ADVERTISEMENT
Meski skullbreaker challenge belum masuk di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau anak-anak dan pelajar agar tidak mengikuti skullbreaker challenge di TikTok karena jelas membahayakan diri sendiri.
"Pastikan mereka (anak-anak dan pelajar) berani bilang 'tidak' jika diajak untuk melakukan challenge yang seperti ini atau challenge yang berbahaya lainnya," jelas Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti, saat dihubungi kumparan, Jumat (14/2).
Retno juga meminta semua pihak mewaspadai bahaya skullbreaker challenge ini, termasuk orang tua dan guru.
"Para guru dan para orang tua harus didorong untuk kasih tahu ke anak-anak kita semua supaya mereka lebih berhati-hati di mana pun mereka berada," ungkapnya.
Komisioner bidang pendidikan, Retno Listyarti, Konferensi Pers Kasus Anak di Bidang Pendidikan
Komisioner bidang pendidikan Retno Listyarti saat konferensi pers tentang KPAI di awal 2019 mencatat banyaknya kasus-kasus anak di bidang pendidikan, Jakarta, Jumat (15/2/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Skullbreaker challenge ini sangat berbahaya. Challenge ini dilakukan oleh tiga orang dengan cara berbaris. Ketika orang yang di tengah melompat, kedua rekannya akan menjegal kaki tersebut hingga terjatuh.
ADVERTISEMENT
Tren yang awalnya muncul di Amerika Selatan ini telah memakan korban di sejumlah negara. Seorang pelajar SMA di Miami, Florida, AS, misalnya, dilaporkan terluka setelah melakukan challenge tersebut dan dilarikan ke rumah sakit.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan