Anak Konglomerat China Patungan Sewa Jet Pribadi untuk Pulang dari AS

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pesawat Bombardier 6000. Foto: Shutter stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pesawat Bombardier 6000. Foto: Shutter stock

Penerbangan komersial di seluruh dunia terdampak lockdown yang diberlakukan berbagai negara karena virus corona. Alhasil, banyak orang yang tidak bisa pulang ke negara mereka. Tapi lain ceritanya jika orang tersebut berkantong tebal.

Anak-anak konglomerat asal China dilaporkan patungan menyewa jet pribadi untuk bisa pulang dari Amerika Serikat. Pasalnya, mereka khawatir tertular virus corona yang telah menjangkiti 55 ribu lebih orang di AS. Sementara di China, sudah tidak ada lagi penularan corona.

Diberitakan Reuters, Rabu (25/3), anak-anak konglomerat China di AS sudah merengek untuk minta dipulangkan. Salah satunya adalah putri Jeff Dong, pengacara di Shanghai.

Antrean warga saat berbelanja di New York, Amerika Serikat saat kota tersebut sedang lockdown. Foto: REUTERS / Eduardo Munoz

Kepada Reuters, Dong mengatakan putrinya yang sekolah di SMA Wisconsin sudah minta pulang. Dong bertanya kepada putrinya apakah dia ingin 180 ribu yuan (Rp 400 juta) untuk uang saku atau tiket sewa jet pribadi.

"Putriku merengek minta dipulangkan, dia berkata 'Tidak Papa, saya tidak ingin uang, saya ingin pulang," kata Dong.

Menyewa jet pribadi adalah salah satu opsi yang ada saat ini. Pasalnya per Selasa (24/3), 3.103 dari 3.800 penerbangan komersial dari dan ke China dibatalkan di Amerika Serikat.

Warga terlihat berjalan di New York, Amerika Serikat saat kota tersebut sedang lockdown. Foto: REUTERS / Eduardo Munoz

Annelies Garcia, direktur pemasaran Private Fly, perusahaan rental jet pribadi, mengatakan para siswa China tersebut patungan untuk bisa naik ke satu pesawat. Namun mereka harus mencari sendiri orang-orang yang ingin patungan pulang.

"Agen pendidikan dan sekolah adalah yang menghubungi kami untuk keluarga China yang mencari kelompok bersama untuk menyewa jet pribadi, karena tidak adanya penerbangan maskapai," kata Garcia.

Permintaan yang banyak dan armada yang sedikit akhirnya membuat harga sewa jet pribadi melambung tinggi.

Air Charter Service contohnya, mematok harga 2,3 juta yuan (Rp 5,2 miliar) untuk perjalanan Los Angeles-Shanghai dengan pesawat Bombardier 6000 untuk 14 penumpang. Jika patungan, maka per orang harus membayar setidaknya Rp 372 juta.

Interior Pesawat Bombardier 6000. Foto: Shutter stock

"Harganya sangat bergantung pada posisi pesawat di hari dan waktu yang diminta, dan rute pastinya," kata Glenn Phillips, manajer periklanan Air Charter Service.

Namun penumpang tidak bisa langsung terbang ke China, karena adanya pelarangan penerbangan. Akibatnya mereka harus transit terlebih dulu ke negara yang aman, salah satunya Jepang.

Itulah sebabnya, perjalanan dari AS ke China menggunakan penerbangan ini bisa berlangsung hingga 60 jam dengan beberapa kali transit. Padahal biasanya hanya memakan waktu sekitar 15 jam.

===================

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!