Anak Usaha WIKA Resmi Melantai di BEI, Raup Dana Rp 832 Miliar

PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk, anak usaha BUMN konstruksi PT Wjaya Karya Tbk (WIKA), hari ini resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham WEGE. Wika Gedung menjadi emiten ke-30 yang mencatatkan sahamnya di BEI sepanjang tahun ini.
Perusahaan melepas 2,87 miliar lembar saham baru atau 30% dari modal yang ditempatkan dan disetor. Dengan harga Rp 290 per lembar saham, WEGE akan memperoleh dana sekitar Rp 832,8 miliar dari publik. Saham perusahaan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 216% saat penawaran.
Menurut Direktur Pengembangan Bisnis WEGE Nur Al Fata, keputusan untuk IPO tahun ini merupakan hasil kemandirian perusahaan yang tidak banyak bergantung pada induk usaha yakni WIKA.
“Ketergantungan kami pada WIKA hanya sekitar 10%, sehingga perusahaan memiliki fundamental yang bagus untuk bisa IPO tahun ini,” katanya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (30/11).
Adapun 70% dana dari hasil IPO ini akan digunakan untuk pengembangan usaha, dengan rincian 40% untuk dana konsesi, 20% untuk backward yakni memperkuat supply chain perusahaan termasuk mengakuisisi perusahaan baru, dan 10% investasi peralatan konstruksi dan pengembangan teknologi.
Sedangkan sisanya 30% akan digunakan perusahaan untuk kebutuhan modal kerja.
Selain itu, perusahaan memiliki strategi fokus pada bisnis konsesi untuk mendukung perolehan proyek konstruksi dan recurring income. Sedangkan strategi backward untuk memperkuat supply chain perusahaan, salah satunya dengan mengembangkan industrialisasi precast dan prefab serta geotech dengan mendirikan Wika Pracetak Gedung atau WPG untuk precast industry dan membangun industri modular.
Saham Wika Gedung Naik 3,45% di Listing Perdana
Pada pencatatan perdana, saham WEGE naik 10 poin (3,45%) ke level Rp 300. Saham perusahaan ditransaksikan sebanyak 2 kali dengan volume sebanyak 168 lot dengan nilai transaksi sebesar Rp 4,97 juta. Saham WEGE menyentuh level tertingginya di Rp 314 dan terendah di Rp 280.
Menurut Nariman, dengan menjadi perusahaan publik akan meningkatkan struktur permodalan agar bisa mengoptimalkan peluang pertumbuhan bisnis. Serta mempercepat akselerasi bisnis, baik konstruksi high tise building maupun investasi pengembangan yang direncanakan.
