Analisa BMKG soal Gempa di Jayapura: Ada 189 Gempa Susulan, Jenisnya Dangkal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gempa bumi. Foto: Inked Pixels/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gempa bumi. Foto: Inked Pixels/shutterstock

BMKG melakukan monitoring terhadap rentetan gempa di Jayapura, Papua. Tercatat Jayapura kembali digetarkan gempa bumi berkekuatan 5,2 magnitudo pada Selasa (3/1) pukul 19.55 WIB.

BMKG menuturkan, hasil analisis menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo 5,1.

Episenter gempa terletak pada koordinat 2,40° LS ; 141,02° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 16 Km arah Utara Raveni Rara, Jayapura, Papua, pada kedalaman 10 km.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi," kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangannya.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar-naik (Oblique-Thrust Fault)," tambah dia.

Kerusakan dampak gempa di Jayapura. Foto: Dok. Istimewa

Dampak Gempa di Jayapura

Daryono memaparkan, gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura dengan skala intensitas III-IV MMI. Artinya, bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah.

"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ucap Daryono.

Ada 189 Gempa Susulan

Hasil monitoring BMKG juga menunjukkan ada 189 aktivitas gempa bumi sejak 2 Januari 2022 di lokasi tersebut.

BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, masyarakat diminta menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun  tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah," kata Daryono