Analisis Menteri LH soal Penyebab Bencana Sumatera

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurrofiq di Hotel Kempinski Indonesia, Jakarta, Selasa (2/12/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurrofiq di Hotel Kempinski Indonesia, Jakarta, Selasa (2/12/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkap analisisnya terkait banjir di Sumatera. Katanya, ada beberapa faktor, utamanya cuaca ekstrem.

Hal itu diungkap Hanif usai Pemaparan hasil COP30 UNFCCC Brasil di Hotel Kempinski Indonesia, Jakarta, Selasa (2/12).

Ia memulai penjelasannya soal banjir bandang di sekitar aliran Sungai Batang Toru, Sumatera Utara. Yakni Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara.

"Nah ini kalau seperti DAS (Daerah Aliran Sungai) Batang Toru, Batang Toru itu luasnya 340.000 hektare. Ini maka kalau dikalikan 0,3 angkanya mungkin cukup besar," kata Hanif.

"Dan ini DAS Batang Toru kebetulan curah hujannya ekstrem, tetapi tidak, sangat ekstrem."

Dikalikan 0,3 merujuk pada pengurangan risiko atau perkiraan wilayah yang terkena dampak banjir sebesar 30% dari jumlah total wilayah yang berpotensi.

Angka 0,3 atau 30% digunakan dalam analisis data untuk memperkirakan kemungkinan banjir di suatu area berdasarkan karakteristik seperti topografi dan sistem drainase.

Tim Unit Polsatwa K-9 bersama personel Polres Tapanuli Utara melakukan pencarian korban di Tapanuli Utara. Foto: Instagram/ @baharkam_polri

Selain itu, wilayah Tapanuli yang berbentuk V juga memicu dampak yang makin parah, selain cuaca yang ekstrem.

"Nah kenapa Batang Toru ini kemudian berdampak rusaknya besar? Karena dia lanskapnya berbentuk seperti V. Tapanuli Utara, Tengah, dan Selatan ada di lembahnya," katanya.

"Sehingga pada saat yang lereng kanan kirinya terganggu, maka terjadi bencana yang cukup besar," sambung dia.

Tim SAR gabungan saat melakukan proses evakuasi ibu dan dan anak yang menjadi korban tanah longsor di Sibolga Ilir, Sabtu (29/11/2025). Foto: Basarnas Nias

Daerah lainnya di Sumut yang terdampak paling parah adalah Sibolga. Soal Sibolga, Hanif menyebut memiliki struktur tanah yang labil sehingga mudah longsor. Dengan diguyur hujan intensitas tinggi, dampak semakin parah.

"Nah, Sibolga ini [intensitas hujan] sangat ekstrem. Bahkan hampir 400 milimeter. Nah ini kebetulan tercatatkan di BNPB maka daerah itu labil sehingga tanah longsor kemudian yang mengubur sekian puluh orang," jelas dia.

Analisis Aceh dan Sumbar

Hanif kemudian mengungkap penyebab banjir bandang di Aceh. Hingga kini masih ada sejumlah daerah di sana yang masih terisolasi, seperti Aceh Tamiang dan Bener Meriah.

Kata Hanif, hujan di Aceh sangatlah ekstrem. Sehingga banjir tak terelakkan.

"Kemudian kita bicara Aceh. Aceh dengan lanskap 3,3 juta hektare, itu lebih ekstrem hujannya dibandingkan Batang Toru. Aceh tercatatkan di beberapa lokasi bahkan mencapai 400 milimeter," kata dia.

Satuan milimeter (mm) hujan yang dimaksud Hanif menunjukkan ketebalan lapisan air hujan yang terkumpul di suatu permukaan datar. Secara praktis, 1 mm curah hujan berarti 1 liter air jatuh di atas permukaan seluas 1 meter persegi.

"Artinya kalau 300 (milimeter) lebih ya, 335 (milimeter) sampai 400 (milimeter), anggaplah 330-an dikalikan luas catchment-nya yang 3,3 juta (hektare), maka di Aceh hari itu 2 hari telah datang air sejumlah 9,7 miliar kubik. Bayangkan air seluas itu siapa yang bisa selamat?" sambungnya.

Jembatan Kuta Blang yang putus akibat diterjang banjir di Desa Blang Mee, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh, Selasa (2/12/2025). Foto: Hedi/kumparan

Untuk Sumatera Barat, pemicu banjir bandang di sana juga cuaca ekstrem. Selain itu faktor lanskap geografis yang berubah juga menjadi faktor lainnya.

"Kemudian di Sumatera Barat, ini juga ekstrem, sangat ekstrem dibandingkan Batang Toru tadi. Nah, kemudian dia memiliki lanskap yang agak pendek dan curam sehingga korbannya juga relatif besar. Nah ini langkah-langkah ini sedang kita dalami. Karena ternyata memang ada perubahan dramatis dari tata ruang kita," tutupnya.

Warga melihat jalan yang putus di wilayah Mega Mendung, Lembah Anai, Tanah Datar, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025). Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO

Total Korban

Hingga Selasa (2/12) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal bertambah jadi 753 orang, sementara yang hilang menjadi 526 orang.

Berikut data selengkapnya update korban banjir bencana Sumatera, dikutip dari gis.bnpb.go.id:

  • Korban Meninggal: 753 jiwa

  • Korban Hilang: 526 jiwa

  • Korban Luka: 2.600 jiwa

  • Korban Terdampak: 3,3 juta jiwa

  • Warga Mengungsi: 1,2 juta jiwa