Analisis soal Hamas Bisa Bombardir Israel: Paralayang dan Roket dari Iran

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aksi tentara Hamas Palestina saat menggunakan Paralayang. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Aksi tentara Hamas Palestina saat menggunakan Paralayang. Foto: Dok. Istimewa

Hamas melancarkan serangan besar ke Israel pada Sabtu (7/10) dini hari waktu setempat. Serangan mendadak tersebut menggabungkan serangan bersenjata melintasi perbatasan, bersama rentetan ribuan roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza.

Serangan ini menewaskan lebih dari 700 orang. Israel pun melakukan serangan balasan dan menewaskan lebih dari 300 orang di Jalur Gaza, termasuk anak-anak dan perempuan.

Mantan Wapres RI Jusuf Kalla (JK), menilai apa yang dilakukan Hamas merupakan tindakan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

"Iya tentu itu suatu tindakan yang luar biasa dilakukan untuk kebebasan dan juga kemerdekaan," kata JK di kawasan Masjid Istiqlal Jakarta, Minggu (7/10).

Lebih lanjut, JK juga menilai serangan mendadak Hamas ke Israel ini merupakan bentuk kerahasiaan, perencanaan luar biasa dan jarang terjadi.

"Dan itu tentu pejuang-pejuang yang telah merencanakannya itu luar biasa kerahasiaannya, tidak diketahui oleh Israel, jarang terjadi, dan itu berani cermat dan perencanaan luar biasa," ujarnya.

Lantas, bagaimana analisis terkait serangan Hamas tersebut?

Ahli Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Muhammad Zulifan, mengatakan, serangan Hamas pada 7 Oktober terhitung menarik dan sukses mengagetkan Israel.

"Hamas melaksanakan aksi tersebut dengan menembakkan ribuan roket, sekitar 5.000 roket. Selain itu yang efektif adalah lewat gilder paralayang yang tidak bisa dideteksi radar. Sebab, radar pertahanan Israel hanya mengawasi pesawat besar seperti F16," kata Zulifan saat dihubungi, Senin (9/10).

Gilder paralayang itu tiba-tiba masuk dan merangsek ke permukiman. Mereka kemudian melancarkan serangan.

"Paralayang tidak bisa dideteksi radar. Ini kemudian yang mampu menyerang bahkan menangkap tentara dan komandannya," jelas dia.

Tentang senjata paralayang itu menurut Zulifan sebagai inovasi baru. Hal ini juga yang membuat Israel semakin tak memandang sebelah mata Hamas.

Aksi tentara Hamas Palestina saat menggunakan Paralayang. Foto: Dok. Istimewa

"Tahun 70an itu senjatanya tongkat batu. Lama-lama berkembang, punya senjata serbu. Karena kerja sama juga. Aktivis Hamas kan keliling dunia Arab minta bantuan," tuturnya.

Salah satu yang membantu secara konkret, lanjut dia, adalah Iran. Termasuk yang memasok roket-roket. Namun roket itu kemudian dimodifikasi agar lebih jauh jangkauannya.

"Sistem pertahanan Israel tidak bisa menangkal serbuan roket bila bareng bareng. Itu kan ada diawali 5000 roket akhirnya sistem di Israel yang tidak bisa menahan juga. Ada yang bisa masuk ke permukiman Israel, bahkan bandara," katanya.

Kejutan-kejutan dari Hamas bikin Israel kalang kabut. Apalagi saat ini roket dari Iran itu juga dimodifikasi hingga jangkauannya makin luas.

"Sekarang memang Hamas ini sangat diperhitungkan israel dan internasional karena punya senjata canggih. Roketnya sudah bisa menjangkau seluruh wilayah Israel. Kejutannya pakai parasut itu tidak bisa masuk sama sekali, intelijen tidak tahu. Ini serangan tiba tiba dan bisa membobol blokade," katanya.

"Mungkin beberapa puluh parasut. Sasarannya pos militer israel yang berbatasan dengan Gaza. Jadi terbang rendah langsung ke posnya langsung nyerang menguasai pos pos militer." tutup dia.

Warga memeriksa sebuah masjid yang hancur akibat serangan Israel di Khan Younis, di Jalur Gaza, Minggu (8/10/2023). Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS

Mengapa Hamas Serang Israel?

Zulifan menjelaskan, ini semua karena Israel yang tidak patuh terhadap perjanjian-perjanjian. Mereka terus mencaplok wilayah Palestina.

"Ketika wilayah Palestina di bawah Turki Usmani, kan Turki Usmani kalah perang sama Sekutu Inggris dan Prancis berbagi wilayah dari Maroko sampai Banda Aceh. Semua punya Turki Usmani."

"Dalam perjanjian, diplomat Inggris dan Prancis berbagi wilayah ke dalam kekuasaan mereka. Yang di bawah kekuasaan Inggris itu termasuk Palestina. Sampai akhirnya PBB turun tangan karena di dalam ada konflik," jelas lulusan Sastra Arab UI itu.

Ia menambahkan, ketika mandat Inggris keluar dari Palestina dan setelah itu berdiri Israel Raya, Negara negara lain pun protes.

"PBB membuat pembagian mana wilayah Palestina dan Yahudi supaya konflik tak terlalu dalam," katanya.

Resolusi 181 pun telah membagi mana wilayah Palestina dan Israel Raya. Namun Israel terus menggoyang dan mencaplok.

"Wilayah Palestina tahun 1947 masih luas, sekarang sedikit di Gaza dan sedikit tepi barat. Israel ini tidak mentaati PBB terus memperluas wilayah pendudukan. Sekarang kan petanya kecil. Di tepi barat sedikit,

"Khusus Jalur Gaza yang menguasai memang Hamas, Hamas ini akhirnya menguasai wilayah itu. Namun orang pertahanan israel tahu lalu memblokade Hamas, mereka tidak bisa keluar, dan membangun tembok tinggi. Aliran listrik air dibatasi, dan banyak hal lain," ungkapnya.

"Itu yang membuat Hamas juga selalu berusaha melepaskan diri dari blokade," tutupnya.