Analisis Sosiolog UGM soal Terungkapnya Pelaku Penyerangan Dafa

12 April 2022 15:05 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pengendara motor di Yogyakarta. Foto: Deshana/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara motor di Yogyakarta. Foto: Deshana/kumparan
ADVERTISEMENT
Terungkapnya terduga pelaku penyabetan gir yang menewaskan pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta bernama Dafa Adzin Albasith (17), menunjukkan pola penyerangan geng remaja di Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Sosiolog Kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM), Soeprapto menjelaskan analisisnya terkait pengungkapan terduga pelaku.
"Sasaran serangan kelompok remaja/pelajar pelaku penganiyaan berat di jalanan tidak acak, tetapi mengarah kepada kelompok remaja/pelajar yang berpotensi dijadikan musuh, sesuai pembelokan makna klitih yang dimaknai kegiatan mencari musuh," ujarnya kepada kumparan, Selasa (12/4).
Soeprapto menjelaskan bahwa maksud sasaran acak geng tersebut bukan berarti menyasar siapa saja pengguna jalan, namun menyasar kelompok-kelompok yang berpotensi dijadikan musuh.
Kejadian pada Minggu (3/4) itu menunjukkan pertikaian berbuntut tindak penganiyaan berat terjadi karena kelompok korban yang terpancing untuk dijadikan musuh.
Sementara itu, kelompok pelaku telah siap dengan senjata gir yang dikaitkan dengan ikat pinggang sekitar dua meter. Hal ini menurut Soeprapto, jelas menunjukkan kelompok pelaku sudah berencana melakukan penganiayaan.
ADVERTISEMENT
Ia menyebut salah satu penyebab kejadian yang menewaskan Dafa ini akibat peran keluarga yang tidak maksimal.
"Kontrol keluarga lemah, karena mereka (kelompok pelajar) meninggalkan rumah sejak pukul 22.00 dan peristiwa terjadi pukul 02.00. Kenapa orang tua tidak mempertanyakan," ujarnya.
Soeprapto menyarankan agar pihak kepolisian melakukan pendalaman kepada orang tua kelompok pelaku maupun korban, untuk mengetahui bagaimana bisa anak-anak berada di luar rumah sampai larut pagi.
"Kepada para orang tua marilah kembali memenuhi fungsi sosialisasi budaya, nilai, norma sosial, agar anak punya bekal, melakukan proteksi/perlindungan agar anak tidak minta perlindungan pihak lain dan menegakkan kontrol sosial agar anak tidak salah jalan," kata pengajar Departemen Sosiologi UGM ini.
Ia juga berpesan agar masyarakat tidak perlu takut jadi korban. Asal saat bertemu atau berpapasan dengan kelompok remaja itu, tidak terpancing dan merespons apa pun.
ADVERTISEMENT
Soeprapto menambahkan agar ada integrasi antar-lima lembaga sosial dasar yakni keluarga, pendidikan, agama, ekonomi, dan pemerintah, agar bisa mencegah klitih atau kejahatan jalanan lainnya.