Ancakan dan Endog-Endogan, Warisan Guyub Suku Osing di Hari Maulid Nabi

Derap langkah puluhan warga beriringan menyusuri jalanan Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (25/8) pagi.
Di pundak dan tangan mereka, terikat rapi ancak yang merupakan wadah makanan tradisional berbahan pelepah dan daun pisang berisi nasi gurih, lengkap dengan aneka lauk-pauk khas Suku Osing.
Pagi itu, ratusan warga tumpah ruah menuju Masjid Nurul Huda untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad 1448 Hijriah. Tak hanya ancak, hiasan endog-endogan berupa telur rebus yang ditancapkan pada bilah bambu dan dihiasi kertas warna-warni turut menyemarakkan barisan warga.
Setibanya di pelataran dan teras utama masjid, ratusan ancak serta hiasan endog-endogan disusun rapi. Suasana yang semula riuh perlahan berubah khidmat ketika lantunan selawat dan pembacaan kitab Barzanji mulai menggema dari dalam masjid.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah agama yang mengajak jemaah meneladani budi pekerti dan akhlak mulia Rasulullah. Para warga menyimak setiap pesan moral dengan khusyuk sebagai sarana memperkuat ukhuwah Islamiah dan kepedulian antarsesama.
Bagi masyarakat adat Osing di Kemiren, momen peringatan kelahiran Sang Nabi bukan sekadar ritual keagamaan rutin, melainkan momen pulang pada nilai-nilai kebersamaan.
"Masih bersyukur bisa mengikuti Maulid Nabi Muhammad dengan tradisi Ancakan dan Endog-Endogan. Masyarakat sekitar sini juga sangat antusias dan guyub berbondong-bondong di masjid," tutur Mohammad Edy Saputro, salah seorang warga yang merupakan tokoh pemuda penggerak budaya setempat.
Di balik riuhnya perayaan, tradisi ancak menyimpan filosofi sosial yang mendalam. Saat prosesi makan bersama dimulai, berlaku sebuah aturan tak tertulis yang dijaga turun-temurun: warga wajib saling bertukar ancak.
Pemilik atau pembuat ancak pantang memakan hidangannya sendiri. Mereka harus menikmati masakan yang dibawa oleh tetangganya. Lewat praktik sederhana ini, warga diajarkan arti kerelaan menerima rezeki, meruntuhkan sekat sosial, dan memupuk solidaritas antarsesama di tanah Osing.
