Anggota DPR RI Rachmat Gobel Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
ยทwaktu baca 4 menit

Anggota DPR RI dari Partai Nasdem, Rachmat Gobel, mendukung Soeharto untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.
"Setiap orang pasti punya kelemahan dan kekurangan, namun kontribusi Pak Harto sangat besar bagi bangsa dan negara ini," kata Rachmat, Sabtu, (8/11).
Rachmat menyebut ada banyak jasa Soeharto, seperti berperang melawan penjajahan Belanda di masa revolusi. Dia mengatakan, Peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 adalah puncak prestasi Soeharto di masa itu.
"Memang di situ ada banyak peran dari sejumlah tokoh seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX maupun Jenderal Nasution, bahkan Panglima Soedirman. Tapi fakta yang tak bisa dibantah adalah Pak Harto yang menjadi komandannya," katanya.
Yang kedua, lanjut Rachmat, Soeharto berhasil menyelamatkan Indonesia dari tragedi 1965 atau yang dikenal dengan G30S/PKI.
"Memang di sini banyak kontroversi, namun ujungnya Indonesia selamat dari krisis politik dan ekonomi yang berpotensi mengancam Indonesia dari bahaya perpecahan serta sekaligus mengembalikan Indonesia dari ambiguitas dalam masalah sistem politik dan ideologi Pancasila," tuturnya.
Yang ketiga, Rachmat mengatakan Soeharto -- suka tidak suka -- merupakan Bapak Pembangunan. Melalui Trilogi Pembangunan yaitu stabilitas, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan ekonomi, Soeharto dinilai berhasil membangun Indonesia di segala bidang dengan keseimbangan anggaran maupun prioritas sektor yang terjaga dengan baik.
"Kita semua merasakan jasa beliau. Para pakar ekonomi bisa mencatat di semua indikator ekonomi, semua yang dilakukan Pak Harto sangat tepat," katanya.
Yang keempat, Rachmat mengatakan Soeharto berhasil membangun sektor pertanian dan pangan. Karena itu FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian) memberikan penghargaan kepada Soeharto dari importer beras terbesar menjadi swasembada.
"Masalah harga cabai dan kol pun tiap hari dipantau agar rakyat tidak kekurangan pangan. Pencetakan sawah, irigasi, bendungan, dan waduk dibangun di mana-mana. Pupuk disubsidi, bibit dijamin, alsintan pun dibagikan. Pabrik pupuk didirikan. Hingga kini kita masih menikmati karyanya," katanya.
Selanjutnya, Rachmat mengatakan Soeharto berhasil memberantas buta huruf dan membangun sektor pendidikan.
"Mungkin yang terbaik di dunia. SD Inpres didirikan di tiap desa, SMP di tiap kecamatan, SMA di tiap kabupaten. Universitas-universitas juga dibangun. Yang meneliti SD Inpresnya saja bisa dapat Nobel. Masa yang bikinnya jadi pahlawan nasional saja tidak boleh," katanya.
Kemudian, Soeharto juga berhasil melaksanakan program transmigrasi dengan baik. Menurut Rachmat, transmigrasi bukan sekadar memindahkan penduduk dan mengurangi kemiskinan.
"Tapi juga membangun pusat-pusat pertumbuhan dan pusat-pusat food estate. Jika sekarang ada istilah baru food estate, maka praktik food estate yang terbaik justru dilakukan Pak Harto. Mungkin di Jawa tak begitu merasakannya, tapi silakan cek di luar Jawa. Kawasan transmigrasi adalah pemasok pangan di seluruh Indonesia," jelasnya.
Selanjutnya, Soeharto dinilai berhasil membangun kesehatan dengan mendirikan Puskesmas di tiap kecamatan, Puskesmas Pembantu di wilayah remote, dan Posyandu di tiap RT.
"Dengan demikian layanan kesehatan dan kualitas hidup menjadi lebih baik," katanya.
Soeharto juga dinilai berhasil mengendalikan jumlah penduduk melalui program Keluarga Berencana dan slogan Dua Anak Cukup.
"Bayangkan jika Indonesia tak mampu mengendalikan penduduk, akan seperti apa Indonesia. Ini bukan soal programnya, tapi beliau berhasil menjadikan ini sebagai bagian dari budaya dan gaya hidup, menjadi nilai-nilai yang melekat. Ini yang luar biasa," tuturnya.
Rachmat melanjutkan, Soeharto berhasil menjadikan Pancasila dan UUD 1945 menjadi pandangan hidup dan pedoman hidup bangsa Indonesia. "
Jadi bukan sekadar menjadi dasar negara dan ideologi bangsa, tapi juga menjadi bagian dari keseharian seluruh rakyat Indonesia. Ini jasa yang sangat besar," katanya.
Terakhir, Soeharto berhasil menerapkan prinsip meritokrasi dengan baik dalam rekrutmen pejabat negara. Rachmat mengatakan, masyarakat selalu mengenang menteri terbaik adalah menteri di era Soeharto.
"Demikian pula dalam rekrutmen bupati, wali kota, gubernur, kepala polisi, dan seterusnya. Kita harus akui itu," katanya.
"Mari kita biasakan melihat sisi positif dari setiap pemimpin kita, sehingga kita memperoleh sintesis yang baik. Jangan terus menerus melakukan dekonstruksi terhadap yang sudah lalu, sehingga kita akan terjebak di kubangan yang sama dan tak beranjak ke mana-mana. Jika kita terus menegasi kebaikan masa lalu maka kita akan selalu memulai fase dari awal lagi. Ini yang membuat Indonesia menjadi susah maju," pungkasnya.
