Anggota FPKS DPR soal Puluhan Anak Keracunan Chiki Ngebul: BPOM Harus Sidak
·waktu baca 2 menit

Anggota Komisi IX [Komisi Kesehatan] DPR RI Netty Prasetiyani Aher memberikan tanggapan terhadap kasus 28 anak yang menjadi korban keracunan makanan anak-anak yang terkenal dengan sebutan "chiki ngebul". Para korban ini tersebar di Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Bekasi.
Chiki ngebul adalah jajanan bola-bola warna-warni yang disukai anak-anak karena mengeluarkan asap atau ngebul seperti naga— efek dari pemakaian nitrogen cair.
Netty meminta pemerintah mengawasi langsung peredaran jajanan chiki ngebul ini karena terbukti mengandung nitrogen cair.
"Penggunaan bahan berbahaya nitrogen cair pada makanan berisiko bagi tubuh, terutama untuk anak-anak. Pemerintah harus turun ke lapangan melakukan pengawasan agar penggunaan nitrogen cair pada makanan tidak dilakukan secara sembarangan dan bebas," kata Netty dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/1).
Politikus PKS ini menjelaskan, pengawasan ini penting karena anak-anak tidak tahu dan tidak mengerti bahan mana yang baik dan mana yang berbahaya bagi kesehatan.
Anak-anak umumnya tertarik pada warna, bentuk atau keunikan makanan. Kita khawatir ada jenis jajanan lain yang juga mengandung zat berbahaya bagi tubuh," jelas Netty.
Selain itu, Netty mendesak BPOM sidak ke lapangan karena sebagian besar pedagang chiki ngebul juga tidak tahu bahaya dari nitrogen cair yang dicampur dalam makanan.
"BPOM harus melakukan edukasi kepada para pedagang agar tidak memasukkan zat-zat bahaya ke dalam makanan," ungkap istri mantan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Aher) ini.
Netty menuturkan, penggunaan nitrogen cair dalam makanan berdasarkan saran dari para pakar kesehatan harus dilakukan oleh chef bersertifikat. Artinya, tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang.
Oleh sebab itu, Netty juga meminta BPOM melakukan sosialisasi efektif kepada orang tua, guru dan tokoh masyarakat terkait zat-zat yang berbahaya dalam makanan.
"Sosialisasi tentang makanan yang aman dan sehat harus terus di-update karena jenis dan variannya selalu berkembang. Jangan sampai setelah ada kejadian dan jatuh korban, pemerintah baru sibuk mengeluarkan peringatan," tutup Netty.
