Anggota Komisi IX: Buat Isolasi Terpusat di Daerah untuk Cegah OTG Berkeliaran

6 Februari 2022 15:12 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas menyiapkan tempat isolasi pasien COVID-19 di Gelanggang Olahraga (GOR) Matraman, Jakarta, Rabu (14/7). Foto: Galih Pradipta/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menyiapkan tempat isolasi pasien COVID-19 di Gelanggang Olahraga (GOR) Matraman, Jakarta, Rabu (14/7). Foto: Galih Pradipta/Antara Foto
ADVERTISEMENT
Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo, mendukung langkah Menkes Budi Gunadi Sadikin yang meminta pasien COVID-19 tanpa gejala atau gejala ringan melakukan isolasi terpusat (isoter) di tempat yang disediakan pemerintah daerah.
ADVERTISEMENT
“Saya kira yang disampaikan Pak Menkes bagus ya. Untuk OTG dan gejala ringan bisa isolasi terpusat dalam rangka untuk mengontrol, mengevaluasi, dan ikut mengawasi,” ucap Rahmad saat dihubungi, Minggu (6/2).
Menurutnya, isolasi terpusat akan memudahkan pemerintah mengawasi pasien sehingga tingkat penularan varian corona Omicron dapat diminimalisir.
“Karena OTG dan gejala ringan cepat sekali (penularannya), proses penyebaran berkali-kali lipat dibandingkan Delta. Dengan terpusat, jadi bisa monitoring, mengawasi. Bisa dipertimbangkan wacana ini dijalankan. Dibuatkan isolasi-isolasi terpadu di daerah-daerah, mengapa tidak?” jelas dia.
Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDIP, Rahmad Handoyo. Foto: Dok. Pribadi
Hal tersebut berbeda ketika pasien menjalankan isolasi mandiri di rumah. Potensi penyebaran tetap tinggi karena banyak pasien yang mengabaikan corona dan masih beraktivitas seperti biasa.
“Ketika banyak OTG dan banyak masyarakat anggap bahwa Omicron lebih ringan dibandingkan Delta, kemudian potensi untuk 'berkeliaran' atau pun aktivitas, justru itu kan membahayakan keluarga dan lingkungan,” sebutnya.
ADVERTISEMENT
Politikus PDIP itu juga meminta kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengadaan fasilitas isolasi terpusat. Beberapa hal perlu diperhatikan seperti pembiayaan, infrastruktur, hingga sumber daya manusia.
“Sekarang ini kesiapan pemerintah daerah. Daerah-daerah yang akan menganggarkan, memberikan penyiapan infrastruktur, memilih tempat, ini perlu dipikirkan,” pinta Rahmad.
“Masalah pembiayaan, bisa dibicarakan. Apakah menggunakan dana pusat atau dana daerah? Silakan pemerintah yang mengkoordinasikan,” tutup dia.
Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin mendorong isolasi terpusat bagi pasien tanpa gejala dan gejala ringan agar rumah sakit dapat menampung lebih banyak pasien COVID-19 dengan gejala berat atau pasien berkomorbid.
"Agar RS bisa digunakan oleh yang benar-benar membutuhkan. Ini beberapa data yang menunjukkan sebenarnya keterisian RS kita, kalau sesuai aturan Kemenkes, bisa berkurang 60%-70%," kata Budi, Minggu (6/2).
ADVERTISEMENT
Dalam data yang diberikan Budi, fasilitas isoter di Jakarta, yang merupakan provinsi dengan kasus corona tertinggi, memiliki kapasitas 2.167 orang. Sementara di Banten kapasitas isoter sebesar 694 orang. Kapasitas itu masih akan ditambah dalam beberapa waktu ke depan.