Anggota Komisi X Kecam Penyerangan Bus EPA Persib: Harus Diusut Tuntas

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Ledia Hanifa, menyoroti insiden penyerangan terhadap bus yang ditumpangi tim Elite Pro Academy (EPA)Persib Bandung U-18 di Rest Area KM 360, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10) malam. Ia meminta insiden ini diusut tuntas.
Ledia menilai penanganan kasus tersebut penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah kekerasan serupa terulang terhadap atlet muda.
Anggota Komisi X ini menegaskan, kasus tersebut tidak boleh berhenti pada penyesalan. Aparat penegak hukum perlu mengusut kejadian secara menyeluruh, mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab, dan memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan.
“Kasus ini harus ditindaklanjuti secara serius. Kita perlu memastikan peristiwa tersebut diusut tuntas dan para pemain mendapatkan perlindungan yang diperlukan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang dan mengganggu proses pembinaan atlet muda,” ujar Ledia dalam keterangannya, Selasa (13/10).
Menurut Ledia, atlet muda merupakan bagian penting dari masa depan olahraga Indonesia. Karena itu, pembinaan prestasi harus diiringi jaminan keamanan dan perlindungan, baik saat latihan maupun bertanding.
Ia mendorong klub, penyelenggara kompetisi, dan pemangku kepentingan sepak bola mengevaluasi sistem keamanan serta mekanisme penanganan insiden yang melibatkan pemain dan ofisial tim.
Ledia menekankan, rivalitas sepak bola harus tetap menjunjung sportivitas. Kekerasan tidak boleh menjadi bagian dari budaya olahraga karena bertentangan dengan nilai persaudaraan dan pembentukan karakter yang seharusnya ditanamkan melalui sepak bola.
“Sepak bola harus menjadi ruang yang aman bagi anak-anak muda untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi. Kita ingin mereka fokus mengembangkan bakatnya, bukan justru menghadapi ancaman kekerasan,” tutup Ledia.
Ketum PSSI Turut Kecam
Sebelumnya Ketua Umum PSSI Erick Thohir turut mengecam penyerangan bus rombongan pemain EPA Persib Bandung. Ia menyebut aksi tersebut sebagai tindakan kriminal yang tidak bisa ditoleransi.
Erick menegaskan PSSI akan menindaklanjuti insiden tersebut bersama operator liga, klub, dan kepolisian. Ia juga mengingatkan komitmen bersama FIFA agar suporter, baik timnas maupun klub, bisa pulang dengan selamat.
“Yang tindakannya sangat kriminal. Merampas, memecahkan, memukuli itu sudah kriminal,” kata Erick di Solo, Senin (12/10).
Erick meminta liga dan klub menindak tegas para pelaku. Menurutnya, penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu agar insiden serupa tidak kembali mencoreng sepak bola Indonesia.
