Angka Pernikahan di China Anjlok, Terendah dalam Satu Dekade
·waktu baca 1 menit

Jumlah pernikahan di China kembali turun pada kuartal pertama 2026 dan kini menyentuh level terendah dalam satu dekade. Kondisi ini memperdalam kekhawatiran pemerintah terhadap krisis demografi di negara tersebut.
Data Kementerian Urusan Sipil China pada Sabtu (10/5) menunjukkan registrasi pernikahan turun 6,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Sepanjang Januari hingga Maret 2026, tercatat hanya 1,697 juta pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka," demikian bunyi laporan tersebut, dilansir Reuters.
Jumlah itu menjadi yang terendah dalam 10 tahun terakhir dan hanya sekitar separuh dibanding angka pada 2017.
Penurunan angka pernikahan menjadi perhatian serius karena budaya di China masih sangat mengaitkan kelahiran anak dengan pernikahan resmi.
Di China, pasangan secara tradisional baru memiliki anak setelah menikah. Hal ini dipengaruhi norma budaya, sekaligus aturan administratif yang dalam beberapa kasus mengaitkan pencatatan kelahiran atau akses bantuan tertentu dengan status pernikahan resmi.
China sendiri tengah menghadapi tekanan demografi yang semakin berat. Populasinya tercatat turun untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025, sementara angka kelahiran mencapai rekor terendah baru.
Pemerintah China sebelumnya telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong masyarakat menikah dan memiliki anak, mulai dari subsidi keluarga, dukungan penitipan anak, hingga pengurangan biaya persalinan dan perawatan melahirkan.
