Anies Baswedan Juga Silaturahmi ke PP Muhammadiyah Usai dari Masjid Kampus UGM
·waktu baca 2 menit

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ternyata juga bersilaturahmi ke Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Yogyakarta dalam serangkaian kunjungannya ke Yogyakarta, Jumat (8/4) lalu.
Sebelumnya, pada Kamis (7/4) malam, Anies mengisi ceramah Tarawih di Masjid Kampus UGM. Kemudian keesokan harinya, dia Salat Jumat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.
Dalam rilis yang dikirim Humas PP Muhammadiyah, kunjungan Anies diterima langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto.
Dijelaskan bahwa pertemuan Anies dan Haedar berlangsung dengan santai. Keduanya pun saling bertukar pandangan. Masalah ke-Indonesia-an disebut jadi salah satu tema diskusi.
Haedar menyampaikan tantangan masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari globalisasi, era disrupsi, dan posmodern. Tantangan tersebut perlu dihadapi dengan pemikiran berkemajuan yang dilandasi nilai serta pijakan konstitusi yang kokoh agar tidak salah arah.
Selain itu, harus disertai pula dengan sikap optimis dan Bhineka Tunggal Ika yang autentik supaya tantangan ke depan bisa dihadapi Indonesia.
“Indonesia punya modal rohani, politik, budaya, dan sosial yang mencukupi. Nantinya, Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar," jelas Haedar dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Sabtu (9/4).
"Untuk mewujudkannya, perlu kekuatan bersama dengan mengerahkan segala kemampuan yang memadukan karakter, persatuan, dan etos kemajuan" jelas Haedar.
Lanjut Haedar, demokrasi harus dijalankan dengan nilai dasar Pancasila. Nilai tersebut, diaktualisasikan secara nyata dan jiwa kenegarawanan para elite yang tinggi, bukan demokrasi prosedural yang berjalan pragmatis dan orientasi politik praktis semata.
"Di luar aspek persatuan dan demokrasi, potensi yang dimiliki bangsa ini hebat-hebat, tetapi secara kolektif dan sistem demokrasi harus kuat serta kebijakan strategis ke depan perlu rancang-bangun yang utuh agar mampu membawa Indonesia menjadi negara yang maju," katanya.
Kondisi kehidupan kebangsaan terkini, menurut Haedar masih dalam koridor demokrasi dan konstitusi. Namun, sejumlah masalah masih perlu dihadapi, contohnya demokrasi transaksional dan prosedural yang berorientasi kekuasaan semata dan dibayang-bayangi praktik oligarkis.
Di masa pandemi ini, ujian serta tantangan demokrasi masih akan terus dihadapi. Harapannya, seluruh kekuatan bangsa ke depan saling bahu membahu merawat demokrasi. Serta terus semangat berpijak pada nilai kebangsaan yang luhur, etos kemajuan, dan konstitusi yang berlaku.
"Jaga konstitusi dan jangan disiasati untuk kepentingan-kepentingan pragmatis jangka pendek yang membuat ketidakpastian dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan," ujar dia.
