Anies Bicara Polemik Pinjol Kampus: Anggaran Pendidikan Makin Dikit
·waktu baca 2 menit

Capres nomor urut 01, Anies Baswedan, buka suara soal polemik pinjaman online untuk pendidikan sebagai alternatif pembayaran uang SPP mahasiswa. Misalnya, yang baru-baru ini heboh, adalah ITB yang didemo oleh mahasiswanya karena menggandeng Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) agar mahasiswa yang nunggak bisa mencicil SPP-nya.
"Ini gejala masalahnya adalah anggaran dari pemerintah untuk pendidikan tinggi yang makin hari makin sedikit, sehingga beban universitas, beban institut, dan beban orang tua menjadi besar," ucap Anies usai berkampanye di Kosambi, Jakarta Barat, Senin (29/1).
Dalam kondisi seperti ini, kata Anies, hanya orang tua yang status ekonominya makmur saja yang bisa mendanai pendidikan anaknya. Hal ini, menurutnya, harus diselesaikan dari akar masalahnya, yaitu komitmen negara dalam investasi pendidikan.
"Mereka-mereka yang sedang kuliah, seperti sekarang misalnya kasus ITB, pandang itu sebagai investasi. Berikan biaya untuk anak-anak ini bisa selesai [sekolah] dan bisa jadi insinyur. Nanti ketika mereka lulus, produktivitas itu akan membuat ekonomi kita berkembang, pajak negara meningkat, pemasukan negara meningkat," jelasnya.
Anies mengakui, sistem pinjaman online pendidikan bisa jadi diambil karena kondisinya sedang terdesak saja. Jika desakan atau himpitan ini tak diselesaikan, maka bisa jadi solusi pinjaman online pendidikan akan terus dilakukan seperti di Amerika Serikat.
"Ini kita harus lihat efektivitasnya Indonesia berbeda dengan negara-negara seperti Amerika Serikat yang menggunakan konsep student loan. Kita ini negara yang rakyatnya itu mulai dengan [angka] buta huruf 95%, lalu [setelah] investasi pendidikan jadi melek huruf. Investasi di seluruh SD di Indonesia," tutur Anies.
Setelah investasi untuk pendidikan SD berjalan dan lulusannya banyak, Anies mengungkapkan, investasi itu lalu ditambah untuk tingkat SMP dan SMA. Hal ini seharusnya bisa diperluas lagi sehingga pendidikan bisa menjadi privilege semua orang.
"Tapi kalau hari ini banyak rakyat yang memang harus dibantu, karena kalau enggak, dia [bisa] lulus dengan utang yang besar. Negatif itu baru lulus, jadi wartawan susah, bayarnya kapan," pungkasnya.
