Anies Bicara Stabilitas Emosi Pemimpin seperti Jenderal Sudirman: Tenang, Lugas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anies Baswedan menjadi pembicara dalam acara Dialog Publik 'Adu Gagasan Capres Anies Baswedan' di Universitas Bina Bangsa, Serang, Banten, Kamis (21/12/2023). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Anies Baswedan menjadi pembicara dalam acara Dialog Publik 'Adu Gagasan Capres Anies Baswedan' di Universitas Bina Bangsa, Serang, Banten, Kamis (21/12/2023). Foto: Dok. Istimewa

Anies Baswedan sempat menyinggung soal karakter pemimpin yang stabil, tapi cuma soal santun. Capres nomor urut 1 dinilai menyinggung sosok Prabowo Subianto yang debat sengit saat debat perdana di KPU.

Soal itu, Anies punya jawaban sendiri. Bagi dia, contoh nyata yang bisa dijadikan contoh adalah sosok Jenderal Besar Sudirman dan Sri Sultan Hamengku Buwono.

"Saya beri contoh, Jenderal Sudirman, Sri Sultan pernah kasar? Enggak pernah. Jenderal Sudirman dia mantan guru, stabil tapi tegas, tenang tapi lugas. Itulah stabilitas," jelas Anies di sela kampanye di Banten, Kamis (21/12).

Eks Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, tidak pernah ada satu pun orang yang menyebut Jenderal Sudirman lembek. Padahal, dalam memberikan pesan selalu tertib dan rapi.

"Karena dia enggak pernah mengungkapkan kata-kata kotor dan saya menjadikan itu sebagai contoh. Kalau Anda mau contoh pemimpin stabil itu Jenderal Sudirman dan Sri Sultan HB IX," ucap dia.

Introspeksi

Komandan Tim Fanta (Pemilih Muda) TKN Prabowo-Gibran M. Arief Rosyid Hasan (kanan). Foto: Dok. Istimewa

Soal stabilitas emosi ini, Komandan Tim Fanta (Pemilih Muda) TKN Prabowo-Gibran, Arief Rosyid Hasan, sempat menyentil balik Anies.

"Pokoknya, enggak baperlah. Ya mungkin beliau sedang introspeksi diri," kata Arief kepada wartawan di Medcen TKN Prabowo-Gibran, Jalan Sriwijaya 16, Jakarta Selatan, Kamis (21/12).

"Ya justru yang awal ngegas [saat debat capres] kan Mas Anies kan, ya kan? Jadi, ya kita sih tadi ya no hard feeling ya. Jadi, mungkin sedang introspeksi. Sebagai manusia saya kira wajar itu ada satu titik di mana kita harus berhenti dan introspeksi diri, bercermin," ucapnya.