Anies Minta Bantuan Pusat dan Angka Positif COVID-19 yang Meroket di Jakarta

Sudah 10 bulan pandemi COVID-19 melanda Indonesia sejak Maret 2020. Berbagai upaya penanganan telah dilakukan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Namun, tak jarang juga penanganan corona tidak seirama antara pusat dan daerah.
Seperti yang terjadi dalam penanganan COVID-19 di Jabodetabek. Misalnya, penyediaan rumah sakit rujukan yang hingga Januari 2021 ini kapasitasnya semakin menipis.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya meminta pemerintah pusat untuk mengambil alih penyediaan rumah sakit corona di Jabodetabek.
Pasalnya, 20 hingga 30 persen pasien yang dirawat di Jakarta merupakan warga non-Jakarta atau mereka merupakan warga Bodetabek yang masuk Provinsi Banten dan Jabar.
Hal ini dinilai membebani Pemprov DKI. Sebab, ketersediaan rumah sakit di Jakarta juga terus menipis untuk pasien warga Jakarta, meski kapasitas terus ditambah dengan pembukaan rumah sakit rujukan baru.
"Pak Gubernur berkoordinasi dengan pemerintah pusat, berharap nanti pemerintah pusat bisa mengambil alih, memimpin agar ada peningkatan fasilitas di sekitar Bodetabek. Sehingga ketersediaan dari fasilitas di Jakarta bisa terus meningkat, tapi okupansinya turun," ujar Wagub DKI, Ahmad Riza Patria, di Balai Kota, Jakarta, Selasa (19/1).
Warga Bodetabek yang Dirawat di RS DKI
Dari data yang dirilis Dinas Kesehatan DKI, per 17 Januari 2021, tercatat 24 persen kapasitas rumah sakit di Jakarta diisi oleh warga Bodetabek. Daerah-daerah Bodebek ini sebenarnya juga memiliki RS rujukan, namun kapasitasnya juga penuh.
Riza Patria berharap penambahan kapasitas rumah sakit rujukan COVID-19 di wilayah penyangga bisa terus dilakukan. Sehingga seluruh wilayah penyangga bisa menampung warganya sendiri.
Dengan begitu, diharapkan dapat mengurangi beban kapasitas rumah sakit di Jakarta.
"Selain kami di DKI terus meningkatkan berbagai fasilitas, kami juga berkoordinasi dengan daerah lainnya sekitar Jakarta juga untuk meningkatkan berbagai fasilitas termasuk rumah rujukan," kata Riza.
"Sehingga nanti warga di luar Jakarta tidak ke Jakarta, bisa ditampung dengan baik dilayani rumah sakit di sekitar Jakarta," lanjutnya.
Penambahan Kapasitas RS Corona di Jakarta
Pemprov DKI akhirnya menambah 3 rumah sakit rujukan corona baru di Januari ini. Hal itu seiring dengan terus meningkatnya kasus dan menipisnya ketersediaan rumah sakit untuk pasien corona.
Ketiga RS rujukan COVID-19 yang baru itu adalah Rumah Sakit Ukrida Jakarta Barat, Rumah Sakit Antam Medika Jakarta Timur, dan Rumah Sakit Harapan Jayakarta Jakarta Timur.
Dengan bertambahnya 3 rumah sakit ini, kini ada 101 rumah sakit rujukan corona di Ibu Kota.
Selain penambahan rumah sakit, Pemprov DKI juga meminta setiap rumah sakit rujukan yang sudah lebih dulu ditetapkan sebagai rujukan, untuk menambah kapasitas tempat tidur, ruang ICU, dan tenaga medis, serta berbagai obat untuk pasien corona.
"Dan kita di setiap RS yang ada kita minta untuk meningkatkan kapasitas. Apa itu? satu kapasitas tempat tidur, kapasitas ICU, kapasitas tenaga medis, dan lainnya apakah obat vitamin." ujar Riza.
Meski kapasitas diminta untuk ditambah, nyatanya persentase okupansi tempat tidur bagi pasien COVID-19 di Jakarta tak kunjung turun secara signifikan.
Okupansi RS Corona di Jakarta
Data terakhir yang dirilis Pemprov DKI, per 17 Januari 2021, tercatat okupansi tempat tidur ICU di 101 rumah sakit rujukan mencapai 82% persen. Persentase ini memang turun 3 persen dibanding pekan sebelumnya, namun masih tetap tinggi.
Jumlah tempat tidur ICU bagi pasien corona berjumlah 1.063 unit. Sedangkan pada 11 hingga 17 Januari, tercatat ada 871 pasien yang dirawat di ICU.
Sementara untuk okupansi tempat tidur isolasi naik 1 persen dari pekan sebelumnya, dari 86 menjadi 87 persen. Dalam periode yang sama, terdapat 6.816 orang yang menjalani isolasi dari 7.827 tempat tidur yang tersedia.
"Kapasitas dikembangkan dengan amat cepat. Kita menyadari, dengan belajar dari sejarah dan pengalaman kota lain di dunia, bahwa pandemi tidak pernah sebentar, serta memerlukan stamina panjang."
Anies Baswedan
