Anies Tinjau Proyek RDF Plant Bantargebang, Terbesar di Indonesia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan meninjau kawasan Landfill Mining dan RDF Plant di TPST Bantargebang, Senin (10/10/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan meninjau kawasan Landfill Mining dan RDF Plant di TPST Bantargebang, Senin (10/10/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyiid Baswedan meninjau proyek landfill mining dan Refused Derived Fuel (RDF) di Bantargebang, Jawa Barat, Senin (10/10). Ini menjadi yang terbesar d Indonesia.

“Kita sekarang sampai kepada babak baru di TPST Bantargebang. Semula yang dipandangn sebagai TPA sekarang menjadi tempat untuk pengolahan dan percontohan yang nanti akan jadi rujukan untuk seluruh Indonesia,” kata Anies dalam sambutannya di Bantargebang, Jawa Barat, Senin (10/10).

Proyek yang dibangun dengan anggaran mencapai Rp 1,07 triliun ini kini sudah mencapai 82 persen progres pembangunan. Meski sudah bisa mengelola sampah menjadi RDF, tempat ini baru akan beroperasi secara penuh Januari 2023 mendatang.

“Bila dulu kita jarang mau datang ke sini (Bantargebang) nanti tempat ini berbondong-bondong orang datang untuk menyaksilan sebuah proyek percontohan terbesar yang ada di Indonesia,” lanjutnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan meninjau kawasan Landfill Mining dan RDF Plant di TPST Bantargebang, Senin (10/10/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Dalam sehari, Jakarta mengirimkan rata-rata 7.500 ton sampah yang diangkut menggunakan 1.200 truk ke Bantargebang.

Jika sebelumnya berton-ton sampah ini dibiarkan menggunung, maka dengan teknologi RDF ini sekurangnya ada 2 ribu ton sampah yang diubah menjadi energi terbarukan setiap harinya.

“Jadi dari tempat ini akan dihasilkan sekitar minimal 700 ton perhari (RDF) Masuknya 2 ribu (ton sampah). Kalau kapasitas kepakainya ditingkatkan terus, makin mendekati kapasitas terpasang yaitu 3 ribu ton,” jelas Anies.

Meski belum memiliki regulasi tetap, RDF hasil pengelolaan TPST Bantargebang sudah dijual dengan harga Rp 300 ribu per ton. Sejauh ini, dua perusahaan semen sudah melakukan kerja sama untuk membeli energi ramah lingkungan pengganti batu bara itu.

Lebih lanjut mengenai RDF plant ini, Anies meminta masyarakat untuk mengelola sampah dari taraf rumah tangga dulu. Sebelum dibuang, Anies meminta sampah untuk dipilah sesuai material terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar pengerjaan pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir bisa lebih efisien.

“Dengan melakukan pemilahan, dengan begitu, tempat ini nantinya bisa mengolah lebih banyak lagi dan artinya bisa menghasilkan energi lebih banyak lagi,” pungkasnya.