Antara Beton, Harapan, dan Laut yang Hidupi Warga Kalibaru
·waktu baca 4 menit

Angin laut di kawasan Kalibaru pagi ini membawa aroma asin, amis kerang juga kenangan panjang. Di tengah deretan bangunan semi permanen, seorang perempuan paruh baya duduk menghadap laut, memandang beton kokoh yang kini memisahkan daratan dari amukan rob.
Masulah namanya. Wanita 53 tahun itu merupakan warga RT 11 RW 1 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Sudah lebih dari dua dekade ia tinggal di sana, menyaksikan air laut yang dulu bebas masuk ke rumah, kini tertahan oleh tembok tanggul penahan.
“Masuk ke rumah. Iya, dulu. Ini kan laut. Belum ada tanggul ini belum,” ucapnya saat ditemui di Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (13/6).
“Banjir. Belum ada bendungan, belum ada apa. Kalau pengin punya beginian nih, dipatokin pakai bambu. Diniin lagi ini kulit-kulit kerang,” lanjutnya.
Ombak yang Tak Lagi Menghantam
Saat ini, Masulah merasa lebih aman karena banjir rob sudah tidak pernah terjadi. Ia menyebut, terakhir kali banjir terjadi sekitar tahun 2005.
“Tahun 2005 banjir. Belum ada bendungan, belum ada apa. Kalau pengin punya beginian nih, dipatokin pakai bambu. Diriin lagi ini kulit-kulit kerang,” katanya.
Pada tahun 2024, terpasang alat pemecah ombak yang membentang di tengah laut. Tujuannya untuk menahan ombak agar tidak sampai daratan dengan terlalu besar.
“Udah lama juga yang ini mah. Kalau yang ono (beton pemecah ombak) belum lama. Kan jaga ombak begitu, ngalangin ombak,” jelasnya sambil menunjuk ke arah barisan beton kokoh di tengah laut.
Masulah bukan satu-satunya yang merasa hidupnya berubah. Rukiyah (65), yang tinggal sejak tahun 1975, mengenang masa di mana air naik tanpa aba-aba.
“Bukan main. Saya dari tahun 1975. Kalo banjir masuk ke rumah, kepiting sampai ikut masuk,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Rumah yang ia tempati adalah warisan dari mertuanya. Bertahun-tahun dihuni, selalu dalam bayang-bayang rob yang mengintai.
“Ya, sering itu mah. Namanya begini sih, kan laut. Kalau ada ombak ke dalam naik. Perahu aja masuk ke dalam,” katanya.
Suara dari Perahu dan Batas Mata Pencaharian
Di balik cerita para ibu, ada juga suara laki-laki yang hidupnya tak pernah jauh dari air asin.
Ma’ad (55), seorang nelayan yang namanya minta disamarkan, lahir dan besar di Kalibaru. Kini, ia tak lagi merasa khawatir soal gelombang.
“Buat tanggul kan buat nelayan juga. Membantu sekali lah. Sangat membantu,” ujar Ma’ad.
“Ya ada enaknya gitu kan. Nelayan kan punya perahu. Jadi, kayak naruhnya gampang,” tambahnya.
Namun, bukan berarti hidup jadi tanpa tantangan. Tangkapannya berkurang, pencarian kerang dibatasi.
“Cuma ada perubahan tuh ya. Kalau nyari kerang, kadang-kadang saya nyari kerang tuh ya. Itu ada sekuritinya tuh. Kadang-kadang nggak boleh tuh,” ceritanya sambil memahat pisau.
Lurah Cilincing, Sutarto (54) menyampaikan bahwa pembangunan tanggul akan terus dilanjutkan dan diperluas sebagai bentuk mitigasi terhadap bencana rob yang masih menghantui wilayah lain di pesisir utara Jakarta.
“Udah enggak (banjir) di sini mah. Karena udah ada tanggul. Yang masih sering tuh daerah Pluit, Penjaringan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proyek mitigasi masih berjalan secara bertahap.
“Kalau yang dimaksud yang ini, iya nanti akan diperpanjang lagi. Ini kan masih pembangunan juga. Yang tengah itu lagi dibikin pemecah ombak.”
Sementara itu, Masulah memohon kepada pemerintah untuk tidak lagi melakukan penggusuran jika proses pembuatan tanggul ini dilanjutkan.
"Supaya jangan digusur. Kan rakyat sini harapannya kerang. Kalau digusur, kita makan apa? Semuanya dari ujung ke ujung tuh kerjaannya kerang semua. Kalau seandainya ini digusur, makan apa rakyat,” ucapnya.
Harapan mereka sederhana yakni tanggul yang kokoh, tempat tinggal yang tak terusik, dan laut yang tetap bisa menghidupi.
Bagi warga pesisir Kalibaru, tanggul bukan hanya beton penahan air, tapi simbol mereka masih boleh tinggal, masih boleh bertahan. Bahwa negara belum lupa pada orang-orang yang hidup paling dekat dengan batas daratan dan lautan.
Tanggul Bagian Mitigasi Rob
Bukan hanya di Kalibaru, tanggul-tanggul lain untuk mitigasi rob juga akan terus dibangun di kawasan pesisir Jakarta. Seperti yang sedang dilakukan di daerah Muara Angke, Jakarta Utara.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau langsung progres pembangunan tanggul di Muara Angke pada Kamis (12/6) kemarin.
Tanggul mitigasi tersebut dibuat untuk mengurangi risiko banjir rob di pesisir ibu kota.
Pembangunan tanggul dilakukan sebagai bagian dari dukungan Pemprov DKI Jakarta terhadap program Giant Sea Wall yang digagas pemerintah pusat.
Tanggul mitigasi tersebut diketahui memiliki panjang 1,4 kilometer dengan ketinggian mencapai 2,5 meter. Adapun elevasi eksisting kawasan Muara Angke hanya berada di angka 1,8 meter.
Konstruksi ini dirancang untuk menahan air laut yang naik, yang kerap mengakibatkan banjir rob di kawasan pesisir. Pembangunan tanggul itu ditargetkan rampung pada Desember 2025.
“Mudah-mudahan pembangunan ini akan selesai sampai dengan bulan Desember,” kata Pramono.
Kemudian, Pemprov DKI Jakarta juga berencana menambah panjang tanggul hingga 1 kilometer lagi pada tahun 2026, sehingga totalnya menjadi 2,4 kilometer.
