Antisipasi Lonjakan COVID-19, AS Perpanjang Darurat Kesehatan Masyarakat

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pasien mendapatkan tes swab oleh petugas kesehatan di Palmetto, Florida, AS. Foto: Octavio Jones/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pasien mendapatkan tes swab oleh petugas kesehatan di Palmetto, Florida, AS. Foto: Octavio Jones/REUTERS

Amerika Serikat (AS) memperpanjang status pandemi COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat hingga 90 hari mendatang pada Kamis (13/10).

Dilansir Reuters, perpanjangan tersebut mempertahankan perluasan program kesehatan seperti Medicaid. Presiden AS, Joe Biden, juga meminta Kongres AS mempersiapkan dana tambahan USD 22,4 miliar (Rp 344 triliun) untuk mempersiapkan lonjakan kasus COVID-19.

Dalam wawancara pada bulan lalu, Biden mengeklaim bahwa pandemi corona telah berakhir. Banyak ahli mengkritik pernyataan itu. Koordinator Tim Tanggap COVID-19 Gedung Putih, Ashish Jha, bahkan memprediksi adanya lonjakan kasus menjelang musim dingin.

Jha mengatakan, infeksi corona sudah mulai meningkat di Eropa. Penyebaran virus corona pun akan semakin meluas seiring orang-orang berkumpul dalam ruangan selama musim dingin.

"Kami melihat peningkatan ini di Eropa, dan Eropa cenderung mendahului kami sekitar empat hingga enam minggu," terang Jha, dikutip dari NPR, Jumat (14/10).

"Jadi masuk akal bahwa saat kita memasuki November, Desember, mungkin Januari, kita akan melihat peningkatan infeksi di sebagian besar negara ini," lanjut dia.

Presiden AS Joe Biden menerima vaksinasi booster COVID-19 kedua setelah memberikan sambutan tentang COVID-19 di Auditorium Pengadilan Selatan Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower di Gedung Putih. Foto: Kevin Lamarque/Reuters

Para ahli lain menggemakan peringatan Jha. Jumlah infeksi mungkin berkurang sejak awal masa jabatan Biden berkat peningkatan akses layanan medis, obat-obatan, dan vaksinasi. Tetapi, CDC mengatakan, ratusan orang terus tewas akibat corona setiap harinya di AS.

Direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular (CIDRAP), Michael Osterholm, mengungkapkan penemuan serupa. Dia menjelaskan, sekitar 300 hingga 500 orang tewas akibat akibat COVID-19 setiap harinya di AS.

Infeksi harian dan tingkat rawat inap di AS tampak menurun sejak Juli. Tetapi, angka tersebut tidak dapat diandalkan. Pasalnya, semakin banyak orang mengandalkan tes corona di rumah. Pemerintah negara bagian pun sudah tidak melaporkan kasus infeksi COVID-19.

Ketika melacak virus corona dalam sampel air limbah, CDC lantas menemukan peningkatan sirkulasi di beberapa wilayah AS. Seluruh penemuan ini menandai, lonjakan kasus infeksi selanjutnya akan tiba.

Kendati demikian, risiko lonjakan bergantung pada sejumlah faktor seperti tindakan pencegahan dan tingkat vaksinasi di AS.

Papan tanda area wajib masker di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Selasa (19/4/2022). Foto: Alyssa Pointer/Reuters

Pencegahan gelombang infeksi menemui hambatan seiring langkah seperti mandat wajib masker perlahan hilang. Sebagian warga juga menolak untuk mendapatkan suntikan booster terbaru.

Washington menyediakan booster yang dapat menargetkan varian Omicron. Namun, CDC memperkirakan, hanya ada sekitar 13 hingga 15 juta orang yang telah mendapatkannya. Sementara itu, lebih dari 200 juta orang dewasa telah menerima vaksin utama mereka.

"Saya tidak suka menggunakan kata 'tak terhindarkan' karena semua ini bisa dicegah," jelas asisten profesor kebijakan dan manajemen kesehatan di Gillings School of Global Public Health, Arrianna Marie Planey, dikutip dari TIME.

"Hanya saja pencegahan semakin sulit pada tahap pandemi ini," sambung dia.

Planey mendorong orang-orang untuk mendapatkan booster dan mencari alternatif vaksin seperti Evusheld dan obat antivirus Paxlovid. Dia juga mendesak tindakan tegas dari pemerintah lantaran banyak warga merasa bahwa pandemi corona sudah selesai.

"Tidak ada kegembiraan dalam mengatakan 'Sudah saya bilang' karena orang-orang sakit dan sekarat," ujar Planey.