Antisipasi Mogok Massal Sopir Truk, Korsel Kerahkan Truk Militer Jadi Angkutan
·waktu baca 2 menit

Korea Selatan (Korsel) tengah mempertimbangkan untuk mengerahkan truk militer sebagai transportasi mendesak jelang pemogokan nasional oleh serikat pengemudi truk, Rabu (23/11).
Rencana pemogokan nasional ini memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap rantai pasokan global, di tengah pemulihan pasca pandemi COVID-19.
Dikutip dari Reuters, pemogokan serikat pengemudi truk ini akan menjadi kedua dalam kurun waktu kurang dari enam bulan terakhir. Cargo Truckers Solidarity Union (CTSU) selaku penyelenggara pemogokan nasional menuntut untuk perpanjangan jaminan upah minimum.
Skema “Tarif Angkutan Truk Aman” ini diluncurkan sebagai skema untuk menjamin upah minimum tahunan bagi pengemudi truk yang akan berakhir pada Desember mendatang.
Pemerintah Korsel dan partai yang berkuasa bersedia untuk melakukan perpanjangan hingga tiga tahun. Namun mereka menolak melindungi pengemudi truk yang bekerja di industri lain, seperti bahan bakar dan baja.
Dikarenakan kompromi tidak berhasil tercapai, CTSU tetap melakukan pemogokan. Sebanyak 22.000 pengemudi diperkirakan akan ikut dalam aksi ini.
Mereka telah memperingatkan akan adanya penghentian pasokan minyak di kilang-kilang besar serta transportasi di pelabuhan dan pabrik industri selama pemogokan tersebut.
"Kami telah meninggalkan ruang bernapas minimum terakhir kali tetapi kami terpojok sekarang karena tenggat waktu, dan akan memblokir pengiriman sebanyak mungkin," kata pejabat serikat pekerja Lee Eung-joo.
Mengantisipasi hal tersebut, Menteri Pertanahan Won Hee-ryong mengatakan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan untuk mengerahkan truk militer ke daerah yang membutuhkan transportasi mendesak.
Tidak hanya itu, Won juga mengancam akan menangguhkan surat izin mengemudi bagi para pengunjuk rasa jika pemogokan diperpanjang. Won berharap para pengunjuk rasa menarik rencana pemogokan ini dengan janji akan membuka komunikasi dengan serikat pekerja terkait isu yang diperjuangkan.
"Saya meminta Serikat Solidaritas Pengemudi Truk Kargo untuk menarik rencana pemogokan sekarang," kata Won dalam sebuah video yang diposting di saluran YouTube Kementerian Pertanahan.
Pada Juni lalu, pemogokan serupa juga terjadi selama delapan hari. Para pengemudi menunda pengiriman kargo untuk industri dari sektor otomotif hingga semikonduktor di Korea Selatan.
Raksasa industri seperti Hyundai Motor dan pembuat baja POSCO pun terpaksa memangkas produksi karena pemogokan pada Juni lalu. Tidak hanya itu, sektor energi pun turut mengkhawatirkan pemogokan ini. Asosiasi Stasiun Minyak Korea meminta pemilik pompa bensin untuk mengamankan persediaan sebelum pemogokan.
Penulis: Thalitha Yuristiana.
