Apa Itu Sukralosa dan Neotam yang Disebut Doktif Ada dalam Kandungan Beeru Stevia?

Sukralosa dan neotam menuai sorotan setelah Dokter Detektif (Doktif) mengungkap hasil uji laboratorium mandiri terhadap produk pemanis Beeru Stevia pada Rabu (28/10). Dalam hasil tersebut, produk itu disebut mengandung kedua jenis pemanis buatan tersebut.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, sukralosa merupakan pemanis non-gula yang digunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman. Tingkat kemanisannya sekitar 600 kali gula pasir sehingga hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil.
“Sukralosa (sucralose) adalah pemanis intensitas tinggi atau pemanis non-gula yang digunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman, dengan kontribusi kalori yang sangat sedikit atau tidak bermakna pada jumlah penggunaan yang lazim,” kata Nadia saat dihubungi kumparan, Kamis (29/10).
Menurut Nadia, sukralosa biasa digunakan dalam minuman rendah gula atau tanpa gula, produk pangan rendah kalori, permen karet, dan makanan penutup. Pemanis ini juga dapat digunakan sebagai pengganti gula pasir.
Namun, Nadia mengingatkan bahwa produk yang mengandung sukralosa tidak otomatis lebih sehat. Konsumen tetap perlu memperhatikan kandungan gizi produk secara keseluruhan, termasuk kalori, lemak, dan natrium.
“Sukralosa digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi penambahan gula dalam produk. Namun, produk yang mengandung sukralosa tidak otomatis menjadi produk yang sehat, karena kandungan kalori, lemak, natrium, serta komposisi keseluruhan produknya tetap perlu diperhatikan,” jelasnya.
Perbedaan Sukralosa dan Neotam
Sementara itu, Dokter spesialis gizi klinik Siloam Hospitals Asri, Octavianus Kevin menerangkan, sukralosa dan neotam sama-sama termasuk pemanis buatan.
Keduanya memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi daripada gula pasir, tetapi berasal dari senyawa yang berbeda.
“Sukralosa merupakan hasil modifikasi sukrosa atau gula pasir, dengan tingkat kemanisan sekitar 600 kali gula pasir. Neotam dibuat dari asam amino. Neotam merupakan turunan aspartam yang tersusun dari asam aspartat dan fenilalanin, dengan tingkat kemanisan yang jauh lebih tinggi, yaitu 7.000–13.000 kali gula pasir,” jelas Octavianus.
Karena tingkat kemanisannya tinggi, kedua pemanis tersebut dapat digunakan dalam jumlah sedikit untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman, terutama produk kemasan.
“Keduanya umumnya digunakan sebagai pemanis pada makanan dan minuman, terutama produk kemasan. Karena rasa manisnya sangat kuat, jumlah yang dibutuhkan sangat sedikit, sehingga dapat mengurangi kalori dan kadar gula dalam makanan atau minuman,” paparnya.
Sukralosa dan Neotam sebagai Alternatif Pengganti Gula
Octavianus mengatakan, sukralosa dan neotam dapat menjadi alternatif pengganti gula untuk mengurangi asupan gula dan kalori. Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan batas asupan harian yang dapat diterima atau Acceptable Daily Intake (ADI).
“Jika digunakan sesuai anjuran, yaitu di bawah batas ADI (Acceptable Daily Intake atau asupan harian yang dapat diterima), sukralosa dan neotam lebih baik untuk diet dibandingkan gula pasir,” terangnya.
Octavianus menyebut batas ADI sukralosa sebesar 15 mg per kilogram berat badan per hari, sedangkan neotam sebesar 2 mg per kilogram berat badan per hari. Dengan demikian, untuk orang dengan berat badan 60 kg, batas ADI masing-masing mencapai 900 mg sukralosa dan 120 mg neotam per hari.
Sedangkan dari sisi kalori, Octavianus menjelaskan kedua pemanis tersebut hanya menyumbang sedikit energi karena digunakan dalam jumlah kecil. Ia pun membandingkannya dengan gula pasir yang mengandung sekitar 16 kilokalori per sendok teh.
“Konsumsi hingga batas maksimal pun hanya menghasilkan sekitar 3,6 kkal dari sukralosa dan 0,5 kkal dari neotam. Bandingkan dengan satu sendok teh gula pasir yang mengandung sekitar 16 kkal,” jelasnya.
Menurut Octavianus, kedua pemanis tersebut dapat dikonsumsi setiap hari selama asupannya tidak melebihi batas yang dianjurkan.
“Jadi, keduanya aman dikonsumsi setiap hari selama jumlahnya di bawah batas yang dianjurkan,” ucap Octavianus.
Dampak Konsumsi Sukralosa dan Neotam Berlebihan
Lebih lanjut, Octavianus mengatakan penelitian mengenai efek jangka panjang sukralosa dan neotam masih menunjukkan hasil yang belum konsisten.
Sejumlah penelitian menemukan kemungkinan gangguan mikrobiota usus, sementara penelitian lain tidak menemukan gangguan serupa pada kelompok tertentu.
“Sebagian penelitian menemukan disbiosis atau gangguan mikrobiota usus, misalnya pada penderita diabetes melitus. Sementara itu, penelitian lain tidak menemukan gangguan mikrobiota pada orang dengan overweight dan obesitas,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, penelitian terkait keamanan jangka panjang kedua pemanis tersebut, termasuk kaitannya dengan kanker, inflamasi, dan penyakit lainnya, masih terbatas.
Meski begitu, Octavianus mengingatkan pentingnya membaca label produk sebelum membeli. Informasi mengenai kandungan pemanis membantu konsumen mengetahui komposisi produk dan memperkirakan asupan yang dikonsumsi.
“Hal yang perlu diwaspadai adalah apabila kandungan pemanis tidak tercantum pada label. Konsumen menjadi tidak dapat menghitung asupannya dan berisiko melebihi batas aman tanpa disadari,” tutur Octavianus.
Anjuran Konsumsi Gula bagi Masyarakat yang Sedang Diet
Bagi masyarakat yang sedang menjalani diet, Octavianus menyarankan agar konsumsi gula dibatasi dan pola makan seimbang yang lebih diutamakan daripada mengandalkan pemanis pengganti gula.
“Batasi konsumsi gula, termasuk ‘gula gurih’ seperti makanan berbahan tepung. Batas konsumsi gula sesuai anjuran Kemenkes adalah 50 gram atau 4 sendok makan per hari,” papar Octavianus.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menurunkan berat badan dengan diet ekstrem karena dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi massa otot.
“Terapkan pola makan dengan gizi seimbang dan utamakan real food dibandingkan makanan atau minuman kemasan. Jangan terburu-buru menurunkan berat badan dengan diet ekstrem karena dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi massa otot,” ujarnya.
Untuk mengatasi keinginan mengonsumsi makanan manis, dia menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan pilihan pemanis yang rendah kalori atau memperoleh rasa manis dari buah dalam porsi yang sesuai.
“Saat craving makanan manis, pemanis berkalori tinggi dapat diganti dengan pemanis tanpa kalori seperti stevia, atau jenis lain yang sangat rendah kalori. Akan lebih sehat lagi jika rasa manis diperoleh dari buah-buahan rendah kalori, seperti melon dan semangka dengan porsi secukupnya,” kata Octavianus.
Selain menjaga pola makan, ia turut menyarankan masyarakat rutin berolahraga dengan mengombinasikan latihan beban dan kardio.
“Jangan lupa berolahraga dengan kombinasi latihan beban dan kardio,” pungkas dia.
Kemenkes Ingatkan Batas Konsumsi Gula
Di sisi lain, Nadia mengingatkan masyarakat untuk tetap membatasi konsumsi gula, meskipun menggunakan pemanis pengganti gula. Kemenkes menganjurkan konsumsi gula maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan per orang per hari.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Pengurangan lebih lanjut hingga di bawah 5 persen juga disarankan untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan.
“WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10% total kebutuhan energi harian, dan menyarankan pengurangan lebih lanjut hingga di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan,” tutur Nadia.
Ia menjelaskan, gula bebas mencakup gula tambahan, madu, sirup, serta gula yang terdapat dalam jus buah. Batas tersebut berbeda dari gula alami yang terdapat dalam buah utuh.
“Angka WHO dihitung dari gula bebas, yang mencakup gula tambahan, madu, sirup, serta gula dalam jus buah. Angka tersebut bukan batas untuk seluruh karbohidrat atau gula alami dalam buah utuh,” jelasnya.
Untuk membantu masyarakat mengenali kandungan gizi produk, Kemenkes bersama industri pangan kemasan dan siap saji juga mendorong penerapan Nutri-Level.
Sistem ini memberikan informasi mengenai kandungan gula, garam, dan lemak agar konsumen dapat mempertimbangkan pilihannya.
Nadia menerangkan, perhatian terhadap konsumsi gula menjadi salah satu prioritas karena tren diabetes dan obesitas meningkat, termasuk pada kelompok usia muda.
“Saat ini kita utamakan di gula karena tren diabetes dan obesitas kita meningkat dan semakin ditemukan pada usia yang muda. Jadi, kenali apa yang kita konsumsi,” tandasnya.
