Apa yang Terjadi Jika AS Benar-benar Tinggalkan NATO?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan puncak NATO di Den Haag, Belanda, Rabu (25/6/2025). Foto:  Ludovic Marin/Pool via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan puncak NATO di Den Haag, Belanda, Rabu (25/6/2025). Foto: Ludovic Marin/Pool via REUTERS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut, tekadnya sudah bulat untuk menarik AS dari koalisi NATO. Keputusan ini disinyalir akibat tak ada negara-negara NATO yang membantunya menyerang Iran atau mengamankan Selat Hormuz.

Lalu, apa yang terjadi jika AS benar-benar keluar dari NATO? Dampaknya bisa diukur dari sebaran pasukan AS yang berada di Eropa.

Data dari situs resmi Conggresional Research Service (CRS) menyajikan data-data sebaran pasukan itu.

CRS adalah sebuah lembaga di bawah kongres AS, yang menyajikan data untuk anggota kongres.

Berikut sebarannya:

Jumlah Pasukan AS di Eropa: 80 Ribu Personel

Per Maret 2024, AS menggelar 67.200 pasukannya di sejumlah markas di Eropa. Konsentrasi pasukan terbesar ada di Jerman, dengan 35.068 pasukan. Diikuti Italia 12.375 pasukan, dan Inggris 10.058 pasukan.

Namun, jumlah ini bertambah pada Juni 2024.

Angkatan Darat AS berjalan di landasan di Lapangan Paus menjelang penempatan ke Polandia dari Fort Bragg, NC pada Senin, 14 Februari 2022. Foto: AP/Nathan Posner

"Akan ada tambahan 20.000 pasukan ke Eropa untuk merespons krisis di Ukraina, termasuk kekuatan udara, darat, maritim, siber dan kapabilitas luar angkasa," kata Kementerian Pertahanan AS kala itu.

Sehingga diperkirakan ada 80 ribu pasukan AS di Eropa saat ini.

Lalu, AS juga punya 43 markas di seluruh Eropa. Ada 29 pangkalan permanen, dan 14 pangkalan semi permanen atau rotasional. Pangkalan itu tersebar dari Pituffik Space Base di Greenland, Camp Turzii di Rumania, Lanud Moron di Spanyol hingga fasilitas pendukung AL di Teluk Souda, Yunani.

Kendaraan militer dari Tim Tempur Brigade Lapis Baja ke-2 AS (ABCT) terlihat di pelabuhan Gdynia, Polandia. Foto: Kacper Pempel/REUTERS

Namun, pangkalan-pangkalan ini bersifat interoperabilitas dengan militer NATO lainnya. Artinya, pangkalan ini digunakan bersama negara-negara lain.

Dari komposisi pasukan, AS menggelar batalyon-batalyon tempurnya di pangkalan-pangkalan itu. Ada juga skadron-skadron tempur AU AS. Semua pasukan yang ada di Eropa berada di bawah komando EUCOM yang berada di Stuttgart, Jerman.

Anggaran Belanja Pertahanan AS Paling Besar di NATO

AS bisa disebut sebagai tulang punggung NATO. Sebab, mereka adalah angkatan perang paling besar di antara negara-negara NATO. Berikut daftar dari beberapa negara-negara utama NATO:

  • AS: 1.300.200

  • Turki: 481.000

  • Polandia: 216.100

  • Prancis: 204.700

  • Jerman: 185.600

  • Italia: 171.400

  • Inggris: 138.100

  • Spanyol: 117.400

  • Yunani: 110.800

Ilustrasi NATO. Foto: M-SUR/Shutterstock

Jika digabung dengan keseluruhan 32 anggota NATO, pakta pertahanan ini punya 3,4 juta personel aktif. Dari jumlah itu, 38 persen adalah personel dari AS.

Dalam keterangan pers yang diberikan NATO, terkait data anggaran belanja pertahanan dari 2021-2025, AS masih menempati negara dengan alokasi pertahanan paling besar dibanding negara-negara NATO Eropa plus Kanada.

Pada 2021, total belanja mencapai 1183 miliar dolar AS, dengan kontribusi AS 824 dan Eropa-Kanada 359. Tahun 2022 sedikit turun menjadi 1151 miliar dolar AS (AS 779, Eropa-Kanada 372), kemudian kembali meningkat pada 2023 menjadi 1180 miliar dolar AS (AS 773, Eropa-Kanada 407).

Kapal induk USS Gerald R. Ford tiba di Teluk Souda, pulau Kreta, Yunani, Selasa (23/2/2026). Foto: Stelios Misinas/REUTERS

Untuk estimasi 2024, total belanja melonjak ke USD 1.305 miliar, terdiri dari AS 823 dan Eropa-Kanada 482. Pada 2025, total diperkirakan mencapai 1404 miliar dolar AS, dengan kontribusi Amerika Serikat USD 845 miliar dan NATO Eropa serta Kanada USD 559 miliar.

Implikasi Ke Depan

Lembaga think-tank International Institute for Strategic Studies (IISS) menjelaskan analisis mereka. Mundurnya AS dari NATO akan berimplikasi langsung pada pendanaan dan investasi pertahanan bagi Eropa.

Terutama, menghadapi ancaman Rusia terhadap NATO. Mereka mensimulasikan, jika perang Ukraina berakhir pada 2025, dan AS menarik diri dari NATO untuk fokus ke kawasan Indo-Pasifik, Rusia bisa saja mengambil kesempatan untuk mengancam Eropa.

Tentara berbaris selama latihan parade militer yang menandai peringatan kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia Kedua, di Lapangan Merah, Moskow, Rusia, Sabtu (7/5/2022). Foto: Kirill Kudryavtsev/AFP

"Rusia dinilai dapat kembali menjadi ancaman signifikan paling cepat pada 2027, khususnya terhadap negara Baltik. Kekuatan darat Rusia bisa menyamai kondisi Februari 2022, saat mereka mengumpulkan kekuatan menginvasi Ukraina," kata analisa IISS itu.

Selain itu, jika AS keluar, Eropa harus mengganti 128.000 pasukan, dan menutup kekurangan pada sektor intelijen, survei dan pengintaian (ISR).

"Dibutuhkan biaya sekitar 1 triliun dolar belanja pertahanan. Mereka juga perlu menaikkan level belanja pertahanan sekitar 3% dari GDP," kata IISS.