APEKSI: Kolaborasi Pentahelix Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi

Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia atau APEKSI menggelar diskusi bertajuk 'Pentahelix dan Percepatan Pemulihan Ekonomi Kota di Indonesia'.
Acara ini dalam rangka merayakan hari jadi APEKSI ke-21 dan ditujukan sebagai sarana bagi pemerintah daerah bersinergi dan bertransformasi di tengah pandemi COVID-19.
Sebab, pandemi COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Semakin lama, semakin banyak sektor usaha di kota terpuruk hingga gulung tikar.
Kolaborasi lima pilar dinilai menjadi salah satu kunci membantu pemerintah daerah untuk bertahan di tengah tidak menentunya kondisi akibat COVID-19.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI, Bima Arya Sugiarto, mengatakan kolaborasi adalah salah satu cara bagaimana suatu kota atau daerah dapat berkembang.
Tak hanya maju, dengan kolaborasi, dapat memberikan insight atau pengetahuan baru soal bagaimana memenuhi keinginan dan kebutuhan warga masyarakat di kota atau wilayahnya.
"Karena perkembangan permasalahan semakin kompleks di satu sisi tetapi di sisi lain sumber daya kita terbatas dan logistik juga terbatas, karena itu ketika corporate sektor private sectors kemudian mazhabnya adalah sharing economy Kalau government sectorsnya masih sendiri tidak mau berbagi, tidak mau Saling menginspirasi maka tidak akan bisa mengimbangi itu," kata Bima dalam sambutannya dalam pembukaan hari jadi APEKSI yang digelar secara daring dan luring, Selasa (25/5).
"Belum lagi kita dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan publik," tambah dia.
Atas dasar itu, Bima mengatakan APEKSI kerap menekankan prinsip untuk saling berbagi, saling menginspirasi, kolaborasi, dan sinergi wajib dikedepankan oleh semua kepala daerah.
Bima lalu mencontohkan soal kepemimpinan Presiden Jokowi kala menjabat sebagai Wali Kota Solo. Menurutnya, Jokowi cukup lugas, memiliki etos kerja tinggi dan mau mendengarkan apa kata rakyat.
Oleh sebab itu, Bima meminta gaya kepemimpinan itu ditiru oleh kepala daerah saat ini. APEKSI juga terus menggencarkan program ini kepada anggotanya yakni menyebarkan hal baik terutama dalam urusan kepemimpinan di daerah.
"Di apeksi bahkan sejak dua tahun lalu kita menginisiasi satu program berbagi, saling menginspirasi ketika wali kota yang memiliki program unggulan dibagi kepada yang lainnya kemudian juga akhirnya ditiru dengan sangat baik," ucap Bima.
Bima yang mengagumi konsep pentahelix menyebut hal itu langsung diterapkan sejumlah kepala daerah terutama di masa pandemi saat ini. Hasilnya, daerah mampu tetap bertahan sekalipun kondisi serba tak menentu di masa pandemi ini.
"Saya melihat di era pandemi ini juga teman-teman kepala daerah baik bupati wali kota bahkan gubernur yang piawai untuk berkolaborasi dengan unsur pentahelix ini lumayan bisa beradaptasi bahkan berprestasi di era pandemi ini. Himpitan ekonomi luar biasa, tekanan sosial luar biasa, masalah politik juga ada tetapi ketika semuanya dihadapkan dengan semangat kolaborasi maka segala sesuatu akan jadi lebih mudah," ungkap Bima.
Sementara Rektor IPB yang juga Ketua Forum Rektor Indonesia, Prof Arif Satria, mengatakan perguruan tinggi dapat memberikan andil dalam membantu pertumbuhan ekonomi.
Tak hanya soal inovasi, sumbang pikiran dan solusi, menurut Arif perguruan tinggi juga bisa memastikan arus ekonomi tetap dapat berjalan di tengah pandemi COVID-19.
"Perguruan tinggi bisa diperankan juga bagaimana mendorong inkubator bisnis, ini sangat penting agar apa mendampingi UMKM itu dalam rangka untuk meningkatkan kualitas produknya," beber Arif.
"Jadi kekuatan perguruan tinggi ini menurut saya bisa disandingkan dengan kekuatan pemerintah kota dalam hal ini inovasi, dalam hal ekspertis dalam berbagai program-program untuk menunjang science based policy," lanjut dia.
Sedangkan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Phillips J Vermonthe, menuturkan ke depan ia berharap ada suatu proses pemilihan demokratis yang dapat menghasilkan pimpinan yang mengerti akan permasalahan di wilayah atau daerah.
"Indonesia ini begitu luas, sumber kepemimpinannya harus beragam, kalau kita di masa lalu mungkin sumber kepemimpinannya adalah orang jakarta, tentara, parpol, empat sejak ada pak jokowi yang memberikan teladan kepala daerah adalah sumber dari kepemimpinan nasional dan dia sebetulnya inheren dengan proses reformasi yang kita lakukan," ujar Phillips.
"Dan apa yang dicontohkan pak jokowi kepala daerah yang menjadi kepala negara mungkin dia akan menghasilkan kepala negara yang mengerti persoalan-persoalan daerah," sambungnya.
Sumber rekrutmen kepemimpinan nasional yang berasal dari kepala daerah, diharapkan dapat berjalan secara terus menerus melalui sejumlah proses seperti pilkada.
Sehingga ke depan akan muncul calon pemimpin di daerah atau negara yang dapat mengerti akan permasalahan di wilayahnya serta memiliki segudang solusi untuk merampungkan permasalahan itu.
"Karena permasalahan global membutuhkan solusi-solusi yang teknokratis sifatnya, maka yang harus kita cari adalah kepala daerah, wali kota yang juga memahami solusi teknokratis. Tentu saja itu tidak bisa datang dari dirinya sendiri dalam konteks ini keterbukaan terhadap kontribusi pemikiran, pengalaman, input, dan kolaborasi dengan unit bersifat pentahelix itu sesuatu yang bukan hanya niscaya tapi sebuah keharusan," kata Phillips.
"Karena banyak permasalahan saat ini yang tak bisa hanya diselesaikan dengan solusi politik, tapi dia harus melalui solusi yang sifatnya teknokratik yang menjaring masukan dari berbagai pihak agar menghasilkan kebijakan yang optimum," tutupnya.
