Arab Saudi Bantah Berubah Sikap, Tetap Tolak Wilayahnya Dipakai Serang Iran

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menhan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman (tengah) bersalaman dengan Menlu AS Marco Rubio di Washington, Januari 2026, disaksikan Dubes Saudi untuk AS Putri Reema binti Bandar Al-Saud (kiri) dan Foto: X/@kbsalsaud
zoom-in-whitePerbesar
Menhan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman (tengah) bersalaman dengan Menlu AS Marco Rubio di Washington, Januari 2026, disaksikan Dubes Saudi untuk AS Putri Reema binti Bandar Al-Saud (kiri) dan Foto: X/@kbsalsaud

Pemerintah Arab Saudi membantah keras laporan sejumlah media internasional yang mengeklaim adanya perubahan sikap Saudi terkait eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Riyadh menegaskan posisinya tetap konsisten untuk mengutamakan jalur diplomasi dan secara tegas melarang penggunaan wilayah maupun ruang udaranya dalam aksi militer apa pun terhadap Iran.

Bantahan itu disampaikan seorang pejabat tinggi Saudi seperti dikutip dari Saudi Gazette, Senin (2/2).

Berbicara kepada surat kabar Asharq Al-Awsat, pejabat tersebut menegaskan kembali bahwa laporan tentang perubahan sikap Saudi tidak akurat.

“Arab Saudi mendukung upaya yang bertujuan untuk menemukan solusi damai bagi semua isu yang diperselisihkan antara AS dan Iran melalui dialog dan jalur diplomatik,” katanya.

Dia juga menekankan penolakan Arab Saudi terhadap penggunaan wilayah udara atau wilayahnya dalam tindakan militer apa pun terhadap Iran.

Menhan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman bertemu Menlu AS Marco Rubio, Menteri Perang Pete Hegseth dan Steven Witkoff (Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah) di Washington, Januari 2026. Foto: X/@kbsalsaud

Laporan Axios

Bantahan Saudi ini muncul setelah media AS, Axios, memicu kegaduhan setelah menyebut Menhan Saudi, Pangeran Khalid bin Salman — yang bertandang ke AS pada akhir Januari — memperingatkan pejabat Washington bahwa ancaman Presiden Trump kepada Iran yang tidak segera dilaksanakan justru akan menjadi bumerang.

Peta Iran dengan Qatar. Foto: (Peter Hermes Furian)/Shutterstock

Axios dalam artikelnya bertanggal 30 Januari mengeklaim, Khalid — yang merupakan adik Pangeran MBS — menilai jika gertakan militer AS terus berlanjut tanpa tindakan nyata, hal itu hanya akan membuat rezim Iran merasa "di atas angin" dan semakin memperkuat posisi mereka di kawasan.

Berita dari Axios ini kemudian dikutip oleh sejumlah media di sejumlah negara.

Kabar ini mengejutkan dunia karena dianggap bertolak belakang dengan sikap publik Riyadh yang selama ini selalu mengedepankan rekonsiliasi dan perdamaian di kawasan.

MBS Bicara via Telepon dengan Presiden Iran

Pangeran MBS berpidato di depan Dewan Syura Arab Saudi di Riyadh, 18 September 2024. Foto: X/@makkahregion

Pekan lalu, Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Saudi Mohammed bin Salman dalam sambungan telepon mengatakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Saudi tidak akan membiarkan wilayah udara atau wilayahnya digunakan untuk serangan militer apa pun terhadap Iran.

Dalam percakapan itu, MBS mengulangi posisi Arab Saudi dalam menghormati kedaulatan Iran. Saudi tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udara atau wilayahnya dalam tindakan militer apa pun terhadap Iran atau serangan apa pun dari pihak mana pun, terlepas dari tujuannya.

video from internal kumparan

AS mengancam akan menyerang Iran dalam beberapa pekan terakhir menyusul tindakan keras Iran terhadap pendemo antipemerintah. Namun, kemudian Trump mendesak Iran berunding soal program nuklir.

Trump mengerahkan kapal induk dan aset militer tambahan ke kawasan tersebut sebagai persiapan untuk serangan potensial.

kumparan post embed

Terbaru, Trump melunak. Dia berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Iran, setelah pemimpin tertinggi Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS terhadap Iran akan memicu perang regional.