Arrmanatha Nasir: Menteri Boleh Berganti, Arah Politik Luar Negeri RI Tetap

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir usai acara press statement di Gedung Kementerian Luar Negeri Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir usai acara press statement di Gedung Kementerian Luar Negeri Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir menegaskan arah politik luar negeri Indonesia tidak akan berubah meski dirinya menggantikan Sugiono sebagai Menlu. Ia memastikan Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Pernyataan itu disampaikan Arrmanatha dalam konferensi pers pertamanya sebagai Menlu di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (12/10).

“Menteri boleh berganti, arah politik luar negeri Indonesia tidak. Kompas kita bukan selera pribadi seorang menteri, melainkan konstitusi,” jelas Arrmanatha.

Arrmanatha telah menjalani serah terima jabatan dengan Sugiono. Sugiono kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).

Arrmanatha menyampaikan terima kasih kepada Sugiono atas kepemimpinannya dalam diplomasi Indonesia. Menurut Arrmanatha, dua tahun terakhir diwarnai situasi geopolitik yang rumit dan berbagai krisis.

“Dua tahun terakhir bukan masa yang mudah. Geopolitik makin rumit, dunia bergerak dari satu krisis ke krisis berikutnya. Tapi di tengah semua itu, Pak Sugiono memastikan politik luar negeri kita tetap konsisten pada prinsip bebas aktif dan amanat konstitusi,” katanya.

Pejabat lama Menteri Luar Negeri Sugiono didampingi istri Marlyn Maisarah bersama Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir keluar ruangan dalam acara pisah sambut pejabat baru dan lama di Gedung Pancasila, Kemenlu, Senin (12/10/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Arrmanatha menegaskan akan melanjutkan sekaligus memperkuat kebijakan yang telah dijalankan Sugiono.

“Itulah yang saya akan lanjutkan, saya perkuat, dan saya jaga. Ini bukan halaman baru, ini adalah bab berikutnya di buku yang sama,” terang dia.

Ia menjelaskan, politik luar negeri Indonesia harus berlandaskan konstitusi, termasuk Undang-Undang Dasar 1945. Ia juga menegaskan Indonesia tidak akan terikat pada blok atau aliansi tertentu dan akan tetap menjalankan prinsip bebas aktif.

“Kita tidak memilih blok, kita memilih prinsip. Kita negara cinta damai, ingin berteman dengan semua negara seperti yang sering disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto, sejuta kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” tuturnya.

Meski mengedepankan perdamaian dan hubungan baik dengan semua negara, Arrmanatha menegaskan Indonesia akan tetap bersikap tegas jika kepentingan nasional diganggu pihak asing.

“Tapi ini jangan disalahartikan bahwa kita tidak akan tegas jika kepentingan NKRI diganggu. Kita akan selalu tegas untuk kepentingan NKRI,” terangnya.

Arrmanatha menambahkan, Indonesia akan terus berupaya berperan dalam menciptakan perdamaian dunia.

“Bebas tapi tidak diam, aktif tapi tidak ikut-ikutan. Dengan cara itulah Indonesia membangun reputasi sebagai bridge builder dan peacemaker, dan peran itu akan terus kita jalankan,” tuturnya.