AS Gandeng 10 Negara Lawan Serangan Houthi Yaman di Laut Merah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Helikopter militer Houthi terbang di atas kapal kargo Galaxy Leader di Laut Merah. Foto: Houthi Military Media/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Helikopter militer Houthi terbang di atas kapal kargo Galaxy Leader di Laut Merah. Foto: Houthi Military Media/Reuters

Amerika Serikat pada Senin (18/12) mengumumkan pembentukan sebuah misi multinasional guna melawan serangan yang diluncurkan kelompok militan asal Yaman, Houthi, di Laut Merah.

Misi yang berpotensi memicu eskalasi konflik di Timur Tengah itu melibatkan 10 negara — antara lain Inggris, Bahrain, Kanada, Prancis, Italia, Belanda, Norwegia, Seychelles, dan Spanyol.

Dikutip dari Anadolu Agency, pengumuman tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin ketika sedang berkunjung ke sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Israel.

Menurut Austin, dalam menghadapi serangan Houthi di Laut Merah — yang diyakini didukung oleh musuh AS, Iran, memerlukan sebuah tindakan kolektif.

"Oleh karena itu, hari ini saya mengumumkan pembentukan Operasi Penjaga Kemakmuran, sebuah inisiatif keamanan multinasional baru yang penting di bawah payung Pasukan Maritim Gabungan dan kepemimpinan Gugus Tugas 153, yang berfokus pada keamanan di Laut Merah," jelas Austin.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin berbicara selama pertemuan dengan anggota Kelompok Konsultasi Keamanan Ukraina di Pangkalan Udara AS di Ramstein, Jerman barat. Foto: ANDRE PAIN / AFP

"Misi ini bertujuan untuk bersama-sama mengatasi tantangan keamanan di Laut Merah bagian selatan dan Teluk Aden, dengan tujuan untuk memastikan kebebasan navigasi bagi semua negara dan meningkatkan keamanan dan kemakmuran regional," tambahnya.

Selain itu, Austin juga menggarisbawahi bagaimana vitalnya Laut Merah sebagai jalur transportasi laut untuk kelangsungan hidup masyarakat di berbagai negara.

Keamanan di Laut Merah, sambung Austin, sangat penting bagi kebebasan navigasi dan jalur komersial utama yang memfasilitasi perdagangan internasional.

"Negara-negara yang berusaha menegakkan prinsip dasar kebebasan navigasi harus bersatu untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh aktor non-negara yang meluncurkan rudal balistik dan kendaraan udara tanpa awak (UAV) ke kapal-kapal dagang dari banyak negara yang secara sah melakukan transit di perairan internasional," tutur Austin.

Militer Houthi memeriksa kapal kargo Galaxy Leader di Laut Merah. Foto: Houthi Military Media/Reuters

Adapun serangan oleh militan Houthi di Laut Merah telah meningkat sejak Israel semakin intensif menggempur Jalur Gaza dan membantai rakyat Palestina di wilayah kantong tersebut.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina, militan Houthi beberapa waktu lalu mengumumkan pasukannya bakal menyerang kapal apa pun — tak peduli dari negara mana asalnya, yang mengarah ke Israel.

Houthi baru akan menarik kembali ancaman tersebut, apabila Israel berhenti menyerang Gaza dan membiarkan bantuan kemanusiaan masuk ke sana tanpa dihalang-halangi.

kumparan post embed