AS Lagi-lagi Tetapkan Houthi sebagai Kelompok Teroris Global

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pria Yaman mengacungkan senjata mereka dan memegang potret pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi selama protes solidaritas terhadap rakyat Palestina di ibu kota Yaman yang dikuasai Huthi, Sanaa pada 5 Januari 2024. Foto: Mohammed Huwais / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pria Yaman mengacungkan senjata mereka dan memegang potret pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi selama protes solidaritas terhadap rakyat Palestina di ibu kota Yaman yang dikuasai Huthi, Sanaa pada 5 Januari 2024. Foto: Mohammed Huwais / AFP

Amerika Serikat kembali memasukkan kelompok bersenjata Houthi di Yaman ke daftar hitam teroris. AS sempat mengeluarkan Houthi dari daftar itu pada 2021. Houthi saat ini menjalankan pemerintahan de facto di Yaman.

Berbagai media di AS melaporkan status teroris Houthi tersebut pada Selasa (17/1/2024). Diperkirakan penetapan resmi akan berlaku pada Rabu (18/1) waktu setempat.

Penetapan Houthi sebagai entitas teroris global dijatuhkan terkait serangan mereka terhadap pelayaran dan kapal militer di Laut Merah — sebagai upaya pembelaan terhadap Palestina yang dibombardir Israel.

Selain itu penetapan berlaku kurang dari sepekan setelah AS dan Inggris menyerang pertahanan Houthi di Yaman.

Pada Januari 2021, pemerintahan Donald Trump menetapkan Houthi sebagai teroris, demikian dikutip dari Reuters.

Helikopter militer Houthi terbang di atas kapal kargo Israel, Galaxy Leader, di Laut Merah. Foto: Houthi Military Media/Reuters

Sebulan sesudahnya, ketika AS resmi dipimpin Joe Biden, pemerintahannya menghapus status teroris terhadap Houthi.

Penetapan status teroris saat massa Trump mendapat penolakan luas dari berbagai pihak di dunia. Menurut mereka penetapan akan mempersulit upaya pemberian bantuan kemanusiaan di Yaman yang dilanda perang saudara.

Sementara itu, serangan gabungan AS dan Inggris di Yaman diklaim berhasil menghancurkan puluhan target Houthi.

Merespons serangan Barat, Houthi menyatakan tidak akan berhenti menyerang kapal di Laut Merah. Kelompok itu menegaskan, serangan adalah bentuk protes operasi militer Israel di Gaza yang menewaskan puluhan ribu orang mayoritas warga sipil.