AS Nyatakan Cacar Monyet sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat
ยทwaktu baca 3 menit

Amerika Serikat (AS) menyatakan cacar monyet sebagai darurat kesehatan masyarakat pada Kamis (4/8). Keputusan diambil demi membantu penyaluran dana, pengumpulan data, dan pengerahan personel tambahan dalam memerangi penyakit itu.
Pemerintahan Presiden AS, Joe Biden, mengambil langkah tersebut seiring kasus nasional mencapai 6.600 infeksi. Seperempat dari jumlah tersebut berasal dari Negara Bagian New York.
Para ahli lantas memperingatkan pentingnya tindakan cepat untuk membendung wabah. Sejumlah negara bagian dan kotamadya telah mengumumkan darurat kesehatan masyarakat pula.
California menyatakan keadaan itu pada 1 Agustus usai mengkonfirmasi 826 kasus. Menemukan 1.666 kasus, New York membuat pengumuman serupa pada 29 Juli.
"Kami siap untuk mendorong tanggapan kami ke tingkat selanjutnya dalam mengatasi virus ini, dan kami mendesak setiap orang Amerika untuk menganggap cacar monyet dengan serius dan bertanggung jawab untuk membantu kami mengatasi virus ini," jelas Menteri Kesehatan dan Layanan Masyarakat AS, Xavier Becerra, dikutip dari AFP, Jumat (5/8/2022).
Pusat Pengendalian dan Pencegahan (CDC) telah mencatat 26.000 kasus di seluruh dunia. Cacar monyet kini dilaporkan oleh lebih dari 70 negara untuk pertama kalinya.
Organisasi internasional lantas turut turun tangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) segera menetapkan cacar monyet sebagai darurat kesehatan sejak 23 Juli. Status tersebut diberikan untuk penyakit yang membutuhkan tingkat kewaspadaan tertinggi.
Menyaksikan penyebaran itu, AS mengerahkan hingga 600.000 dosis vaksin JYNNEOS. Namun, jumlah itu belum mencukupi. Sebab, sekitar 1,6 juta orang di negara tersebut memiliki risiko tinggi terinfeksi.
Kendala dalam rantai pasokan turut menghambat upaya itu. AS baru akan menerima pengiriman 150.000 dosis vaksin tambahan pada September.
Pemerintahan Biden menghadapi kritik lantaran kesulitan memastikan ketersediaan vaksin. Pihaknya lantas mengupayakan pengiriman 14.000 dosis antivirus tecovirimat atau TPOXX.
Tetapi, obat itu sebenarnya dikembangkan untuk melawan cacar biasa. Sehingga, kemanjuran antivirus itu terhadap cacar monyet belum dapat dipastikan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) kemudian mempertimbangkan langkah lain. Pihaknya berencana mengubah cara pemberian vaksin cacar monyet.
Teknik terbaru menyuntikkan vaksin pada sudut yang lebih dangkal dalam kulit. Pendekatan itu memungkinkan pasokan digunakan untuk memvaksinasi lima kali lebih banyak orang. Namun, perizinan atas perubahan metode tersebut membutuhkan deklarasi tingkat kedaruratan lain dari Pemerintah AS.
"Pada dasarnya berarti menusukkan jarum ke dalam kulit dan membuat kantong kecil untuk masuknya vaksin, jadi ini benar-benar bukan hal yang luar biasa," terang Komisioner FDA, Robert Califf.
Cacar monyet menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri, menggigil, dan ruam. Kendati demikian, penyakit itu jarang berakibat fatal. AS tidak melaporkan kematian akibat cacar monyet hingga kini.
Penyebaran penyakit tersebut membutuhkan kontak dari kulit ke kulit yang berlangsung lama, termasuk berpelukan, berciuman, serta berbagi tempat tidur, handuk, dan pakaian.
Otoritas kesehatan menegaskan, semua orang berisiko tertular cacar monyet terlepas dari orientasi seksual mereka. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengkritik informasi atas cacar monyet yang melanggengkan homofobia dan rasisme.
Cacar monyet bukan merupakan penyakit menular seksual. Kontak seksual hanyalah salah satu rute penyebaran virus tersebut.
