AS Persilakan Selandia Baru dan Negara Pasifik Gabung AUKUS

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken memberikan keterangan pers usai menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Jakarta, Jumat (14/7/2023).  Foto: Aliyya Bunga/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken memberikan keterangan pers usai menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Jakarta, Jumat (14/7/2023). Foto: Aliyya Bunga/kumparan

Amerika Serikat mempersilakan Selandia Baru dan negara di wilayah Pasifik lainnya untuk bergabung dengan aliansi kerja sama keamanan dan pertahanan AUKUS.

Dikutip dari AFP, tawaran itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken saat mengunjungi Ibu Kota Wellington, pada Kamis (27/7).

"Pintu sangat terbuka bagi Selandia Baru dan mitra-mitra lain untuk terlibat jika mereka melihat hal itu sesuai," kata Blinken.

AUKUS adalah pakta keamanan trilateral yang disepakati AS, Australia, dan Inggris pada 2021. Pembentukan AUKUS ditujukan untuk mengimbangi pengaruh China di Indo-Pasifik.

Sementara Selandia Baru dan Australia adalah sekutu utama AS di kawasan Pasifik Selatan. Selama ini, Wellington telah secara hati-hati mengambil langkah dalam kerja sama pertahanannya dengan Barat.

Selandia Baru juga mengesampingkan seluruh keterlibatan negaranya dalam proyek-proyek AUKUS yang berhubungan dengan nuklir —atau disebut sebagai 'pilar satu' dari kesepakatan AUKUS.

Hal ini juga sesuai dengan antinuklir yang diadopsi pada pertengahan 1980-an, yang menegaskan bahwa kapal selam nuklir dilarang memasuki perairan Selandia Baru.

Infografik Aliansi AUKUS di Indo-Pasifik. Foto: kumparan

Namun, pembicaraan tingkat tinggi tentang peran Selandia Baru dalam AUKUS semakin hangat diperbincangkan dalam beberapa bulan terakhir.

Terbaru, Perdana Menteri Selandia Baru Chris Hipkins pada Rabu (26/7) mengungkapkan keterbukaannya untuk melakukan dialog mengenai partisipasi Negeri Kiwi secara terbatas di AUKUS.

Besar kemungkinan, jika Wellington memutuskan untuk terlibat lebih jauh maka pihaknya akan berfokus pada 'pilar kedua' dari kesepakatan AUKUS.

Pilar ini mencakup kerja sama di bidang perang siber, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan pengembangan rudal hipersonik jarak jauh.

Terpisah, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta pada hari yang sama memperingatkan belum ada kesepakatan perihal kerja sama AUKUS.

Dia menegaskan, proposal apa pun menyangkut AUKUS harus terlebih dahulu disetujui kabinet Selandia Baru.