AS soal Latihan Garuda Shield di RI: Bukan Ancaman Bagi China

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komandan Jenderal Divisi Infanteri ke-7 Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), Mayor Jenderal Stephen G. Smith, saat roundtable briefing di Kedubes AS di Jakarta pada Jumat (29/7/2022). Dok: Jemima Shalimar/kumparan.
 Foto: Jemima Shalimar/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Komandan Jenderal Divisi Infanteri ke-7 Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), Mayor Jenderal Stephen G. Smith, saat roundtable briefing di Kedubes AS di Jakarta pada Jumat (29/7/2022). Dok: Jemima Shalimar/kumparan. Foto: Jemima Shalimar/kumparan

Komandan Jenderal Divisi Infanteri ke-7 Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), Mayor Jenderal Stephen G. Smith, menekankan pada Jumat (29/7/2022), Garuda Shield hanyalah latihan militer gabungan yang tidak dimaksudkan sebagai ancaman terhadap China.

China sempat menyampaikan kekhawatiran atas latma tersebut. Pemerintah China bahkan mengirimkan surat protes kepada Kementerian Luar Negeri RI pada 2021. Pihaknya menilik pengaruh latma itu terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan.

Mengingat ketegangan antara China dan AS, permasalahan itu kini kembali menjadi sorotan. Sebagai direktur operasional agenda tahun ini, Smith lantas menegaskan sikapnya.

"Ini adalah latihan tahunan yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade atas undangan Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Pemerintah Indonesia. Jadi, ini bukan ancaman bagi siapa pun," jelas Smith saat roundtable briefing di Kedutaan Besar AS di Jakarta pada Jumat (29/7/2022).

Pasukan TNI AD saat latihan bersama Prajurit Angkatan Darat AS di Garuda Shield 15/2021. Foto: 25th Infantry Division

Smith menerangkan, Garuda Shield justru bertujuan untuk meningkatkan keamanan di wilayah itu. Negara-negara yang terlibat tak hanya menjalani pelatihan untuk mengambil pelajaran dari satu sama lain. Namun, mereka juga berupaya membangun kepercayaan melalui kerja tim.

"Kami tidak mengadakan [latma] ini untuk alasan spesifik," tutur Smith.

"Ini bukan ancaman dan tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi siapa pun di mana pun. Ini murni latihan militer," imbuhnya.

Indonesia dan Amerika Serikat (AS) akan menggelar latihan militer gabungan Super Garuda Shield pada 1-14 Agustus 2022 di Pusat Latihan Tempur Baturaja, Amborawang, dan Pulau Batam.

Gelaran tahun ini akan menghadirkan cakupan dan skala yang jauh lebih besar dibandingkan agenda-agenda sebelumnya. Washington akan mengerahkan 2.000 personel militer dari Angkatan Darat AS, Angkatan Laut AS, dan Angkatan Udara AS.

Pasukan TNI AD saat latihan bersama Prajurit Angkatan Darat AS di Garuda Shield 15/2021. Foto: 25th Infantry Division

Indonesia turut mengirimkan 2.000 serdadu. Garuda Shield 2022 tak hanya melibatkan tentara AS dan Indonesia. Hingga 14 negara akan menghadiri latma mendatang pula.

Australia, Jepang, dan Singapura akan turut berpartisipasi aktif. Kanada, Prancis, India, Malaysia, Korea Selatan, Papua Nugini, Timor Leste, dan Inggris juga hadir sebagai pengamat.

Kapasitas latma tersebut lantas dapat kembali memicu kekhawatiran China. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Mark Milley, menyinggung isu tersebut saat melawat ke Jakarta.

Menurut Milley, China berlaku semakin agresif dan berbahaya. Dia mengatakan, China kerap mengalami pencegatan kapal dengan Jepang, Kanada, Australia, Filipina, dan Vietnam.

Milley menjelaskan, negara-negara Pasifik lantas meminta keterlibatan AS. Indonesia sendiri merupakan negara mitra strategis dan penting bagi kawasan.

Milley mengatakan, AS lantas akan bekerja sama untuk memodernisasi militernya. Sehingga, Indonesia dapat menghadapi tantangan dari China.

Pasukan TNI AD saat latihan bersama Prajurit Angkatan Darat AS di Garuda Shield 15/2021. Foto: 25th Infantry Division

Smith kemudian mengulangi pernyataan serupa. Dia menguraikan, Garuda Shield membantu militer untuk memahami medan hingga budaya di kawasan tertentu. Alhasil, mereka akan selalu siap menghadapi ancaman.

"Tentara kami memiliki pepatah: jadilah selalu siap agar Anda tidak perlu bersiap-siap," ujar Smith.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM) telah menggelar Garuda Shield sejak 2009. Kedua negara meluncurkan latma tersebut sebagai simbol ikatan AS-Indonesia.

Melalui pelatihan bersama dan pertukaran budaya, AS dan Indonesia menjahit jalinan keamanan regional. Anggota tingkat korps dan di bawahnya menjalani pelatihan, pertukaran akademik, dan lokakarya pengembangan profesional selama Garuda Shield.

Mereka akan memusatkan kegiatan dalam bidang-bidang seperti bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana alam, serta memerangi ancaman konvensional, nonkonvensional, dan hibrida.

Di sisi lain, Pos Komando (CPX) akan mengikuti latihan seputar tugas staf operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam konteks militer gabungan. Gladi lapangan (FTX) kemudian akan melibatkan elemen kekuatan kompi dari setiap negara partisipan.

"Kami sangat menghargai hubungan kuat dengan TNI AD. Hubungan ini menjadi lebih kuat tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Kami berharap dapat terus menumbuhkan hubungan itu," pungkas Smith.