AS Tolak Visa Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang Akan Pidato di PBB

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato di Sidang Umum PBB ke-77 di markas besar PBB di New York City, New York, AS, Jumat (23/9/2022). Foto: Caitlin Ochs/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato di Sidang Umum PBB ke-77 di markas besar PBB di New York City, New York, AS, Jumat (23/9/2022). Foto: Caitlin Ochs/REUTERS

Amerika Serikat (AS) mulai menolak dan mencabut visa anggota Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Otoritas Palestina (PA) jelang Sidang Umum PBB yang akan berlangsung bulan ini.

Dikutip dari The Guardian, Senin (1/9), Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas juga termasuk dalam pembatasan itu. Abbas berencana terbang ke New York untuk menyampaikan pidato di hadapan Sidang Umum PBB.

Pihak Abbas mengatakan terkejut dengan keputusan tersebut dan menyebut tindakan itu melanggar perjanjian markas besar PBB.

Berdasarkan perjanjian sebagai tuan rumah PBB di New York, AS tidak boleh menolak visa pejabat yang akan berpergian untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Namun, Kementerian Luar Negeri AS mengatakan pihaknya telah mematuhi perjanjian dengan memperbolehkan misi Palestina untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

"Pemerintahan Donald Trump telah menegaskan: demi kepentingan keamanan nasional kami, kami harus meminta pertanggungjawaban PLO dan PA atas ketidakpatuhan mereka terhadap komitmen mereka, dan atas upaya mereka merusak prospek perdamaian," kata Kemlu AS dalam pernyataannya.

Tindakan ini semakin menyeleraskan pemerintahan Donald Trump dengan pemerintahan sayap kanan Israel yang dengan tegas menolak negara Palestina. Pejabat Israel telah berulang kali menyamakan PA dengan rivalnya, Hamas.

Seorang pengunjuk rasa memegang bendera Palestina saat ia berjalan di area sebuah rumah yang dievakuasi dan dihancurkan oleh otoritas Israel awal pekan ini di Sheikh Jarrah, Yerusalem timur 21 Januari 2022. Foto: REUTERS/ Ammar Awad

Kemlu AS juga menuduh Palestina melakukan perang hukum dengan mengajukan keluhan terhadap Israel di Mahkamah Pidana Internasional dan Mahkamah Keadilan Internasional. Mereka meminta PA untuk menghentikan upaya untuk mengamankan pengakuan sepihak atas negara Palestina yang masih berupa dugaan.

"Terima kasih atas langkah tegas ini dan karena kembali mendukung Israel," kata Menlu Israel, Gideon Saar, dalam pernyataannya di X.

Sementara juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyatakan penting bagi semua negara dan observer termasuk Palestina untuk diwakili dalam Sidang Umum PBB.

"Kami tentu berharap masalah ini dapat segera diselesaikan," katanya.

Tak hanya anggota PLO dan PA yang visanya ditolak oleh AS. AS juga menangguhkan persetujuan visa bagi hampir semua orang yang memegang paspor Palestina. New York Times dalam laporannya mengungkapkan, kebijakan ini mencegah warga Palestina berpergian ke AS untuk perawatan medis, kuliah, dan perjalanan bisnis.

PLO didirikan pada 1964 sebagai organisasi payung bagi faksi-faksi Palestina dan diakui satu dekade kemudian sebagai satu-satunya perwakilan politik warga Palestina. Sementara PA dibentuk hampir 20 tahun kemudian sebagai badan sementara yang akan menyediakan kerangka kelembagaan bagi negara Palestina.

Fans mengibarkan bendera Palestina dengan pesan bertuliskan 'Bebaskan Palestina' di tribun pada final Piala Dunia 2022, di Stadion Lusail, Lusail, Qatar, Minggu (18/12/2022). Foto: Peter Cziborra/REUTERS

Keduanya kemungkinan akan menjadi bagian integral dari negara Palestina di masa depan. Kekuatan negara-negara Arab, Inggris, Eropa, dan yang lainnya ingin agar PA mengambil peran sentral dalam pemerintahan Gaza jika konflik dapat diakhiri. Meski, mereka juga sepakat PA memerlukan reformasi.

Australia, Kanada, Inggris, dan Prancis akan mengakui negara Palestina dalam Sidang Umum PBB jika sejumlah persyaratan terpenuhi. Langkah negara-negara tersebut membuat Israel geram.

Pemerintah Israel menolak peran apa pun bagi PA dan Gaza, dan menyatakan mengakui negara Palestina berarti memberikan ganjaran bagi Hamas yang mereka anggap mengerikan.

Meski Israel terus ditekan dari dalam dan luar negeri untuk mengakhiri serangannya di Gaza, Benjamin Netanyahu telah memerintahkan pasukan militer untuk meluncurkan serangan untuk merebut Gaza City.

Gaza City sebelumnya merupakan pusat perdagangan dan budaya, namun kini hanya tinggal reruntuhan dan menjadi rumah bagi ribuan warga Palestina yang miskin karena serangan Israel.

Serangan Israel telah membunuh setidaknya 63 ribu orang yang sebagian besar merupakan warga sipil, 150 ribu orang terluka, dan sebagian besar penduduk harus mengungsi. PBB bahkan menyatakan Gaza menderita kelaparan dan menyalahkan Israel atas blokade pengiriman bantuan kemanusiaan.

Dalam sebuah langkah bersejarah, Sidang Umum PBB pada 1988 digelar di Jenewa alih-alih di New York untuk mendengarkan pidato pemimpin PLO saat itu, Yasser Arafat. Kala itu, AS menolak mengizinkan Yasser Arafat masuk ke New York.